Halaman ini sudah dilihat oleh: 1455 orang,




Tukang Tunjuk
Tukang Tunjuk
Oleh: Muhammad Daviq Said

Perang adalah bencana
Perang adalah kejahilan dan kebrutalan
Perang membawa korban terutamanya di kalangan yang tidak ikut berperang
Di kalangan rakyat berderai yang tidak ikut dan tidak mengerti kenapa terjadi perang

Mereka biasanya yang paling banyak menderita
Perang adalah tempat dimana fitnah dan dendam bisa dikobarkan
Alasan untuk berperang sejak jaman belum ber belum hampir selalu sama
Untuk melampiaskan hawa nafsu di satu fihak dan untuk mempertahankan diri di fihak yang lain

Hawa nafsu serakah ingin berkuasa, hawa nafsu ingin melanggengkan kekuasaan, hawa nafsu karena pantang kelintasan, hawa nafsu nyata-nyata ingin merampok dan menguasai milik orang lain
Maka dikobarkanlah perang

Sebuah negeri diserang, dihancurkan, hunian penduduknya dibumi hanguskan, penduduknya dipecundangi, dilecehkan, dihinakan, dibunuh dengan semena-mena
Perang juga memecah belah masyarakat
Masyarakat terpaksa, dengan alasannya masing-masing harus berfihak kepada salah satu kelompok dari yang berperang

Berpihak kepada salah satu pihak dalam jaman perang tentu beresiko
Tapi juga memberi jaminan seandainya luput dari resiko
Si Poan punya alasan tidak suka dengan orang PRRI
Tidak suka dengan orang kampung yang mendukung dan membantu orang PRRI
Alasannya karena partai orang tuanya berseberangan dengan partai orang-orang PRRI

Orang-orang PRRI itu kebanyakan adalah orang Masyumi
Orang yang memandang enteng kepada partai ayahnya, PKI
Tapi Poan juga tahu bahwa di kampung boleh dikatakan 99% orang pro PRRI
Poan tahu betul siapa-siapa di antara temannya, anak muda yang ikut lari ke luar, bergabung dengan tentara pemberontak
Diapun pernah diajak ikut
Tentu saja dia menolak dengan cara halus

Suatu hari tentara APRI masuk kampung
Menggeledah rumah-rumah mencari tentara PRRI
Mencari anak-anak muda yang dicurigai ikut jadi tentara PRRI
Anak-anak muda yang ada di kampung berketabungan lari untuk menghindar

Sebenarnya sangat konyol yang mereka lakukan itu
Tiga orang terlihat oleh tentara Pusat
Diteriakinya supaya berhenti dan mengangkat tangan
Anak-anak muda itu tidak tahu aturan seperti itu
Tidak mengerti aturan berhenti dan mengangkat tangan
Yang ada di dalam benak mereka hanyalah lari untuk menyelamatkan diri

Sementara tentara APRI yang ringan-ringan tangan itu, sesudah sekali diperintahkan berhenti tidak didengar langsung membidik kepala anak-anak muda malang itu, ..... dor !
Anak muda itupun tersungkur
Langsung terjilapak
Inna lillahi wainnaa ilaihi raaji-uun

Si tentara APRI tidak mempedulikan sedikitpun
Dia mencari dan mengejar lagi yang lain
Dan mendornya pula
Beberapa orang masuk ke rumah-rumah
Memeriksa ke sana ke mari
Dengan sepatu bot yang tidak dibuka

Berderak-derak bunyi tapak sepatu mereka di rumah kayu penduduk
Ada yang sampai memanjat ke atas loteng lalu menyenter-nyenter
Bahkan masuk ke dalam kandang di bawah rumah
Sambil membentak-bentak, menghardik-hardik, menanyakan dimana disembunyikan tentara PRRI
Rakyatpun mati kuncun semuanya

Si Poan duduk tenang-tenang di rumah dengan sangat yakin
Dia tidak akan diapa-apakan oleh tentara APRI itu seandainya mereka naik ke rumah

Dua orang tentara ternyata memang naik ke rumahnya dengan terlebih dahulu menerjang pintu masuk
Soalnya di halaman terjemur tiga helai celana panjang laki-laki
Di ruang atas didapatinya Poan sedang duduk dengan tenang di tikar

Angkat tangan !
Kamu pemberontak, ya? ! teriak seorang dari kedua serdadu itu
Tidak pak, ambo rakyat, jawab Poan dengan tenang

Tentara itu menodongkan senjatanya ke kepala Poan sambil matanya melotot mencari-cari entah apa di rumah itu
Mata itu akhirnya hinggap di sebuah gambar yang ditempel di pintu lemari


Gambar palu arit
Siapa yang PKI di rumah ini? tanya tentara itu dengan nada suara tidak lagi garang
Apak saya, pak, jawab Poan

Kau ikut dengan kami ke Bukit Tinggi ! perintah tentara itu pula
Dan Poan dibawa
Dinaikkan ke atas mobil truk Reo
Dia ditahan dua hari di kantor Balayon B di Bukit Tinggi tapi sesudah itu diijinkan pulang

Tentara APRI makin sering masuk kampung
Dan sekarang menangkapi beberapa orang kampung yang lalu dibawa ke markas Batalyon B dekat lapangan kantin di Birugo
Yang ditangkap umumnya adalah mereka yang punya anggota keluarga ikut lari ke luar alias jadi tentara PRRI
Dan kebanyakan adalah wanita
Yang suaminya atau saudaranya atau anaknya ikut PRRI

Entah dari mana tentara Pusat itu tahu
Ditangkap dan dibawa ke Batalyon B itu sangat mengerikan
Banyak orang yang dibawa kesana, terutama yang laki-laki, tidak pulang dan hilang lenyap bak ditelan bumi

Tapi untunglah tidak demikian dengan rombongan ibu-ibu
Setelah ditahan sekitar beberapa minggu, dan diinterogasi siang dan malam, mereka umumnya diijinkan kembali pulang
Orang kampung curiga

Bagaimana tentara Pusat itu tahu bahwa ada anggota keluarga wanita-wanita itu orang PRRI dengan begitu jelasnya?
Tentu ada yang memberi angin agaknya!
Tapi siapa?
Si Poan boleh dikatakan satu-satunya anak muda yang bisa hidup tenang-tenang saja di kampung

Sekali sepekan dia pergi ke Bukit Tinggi
Pergi menggalas barang mudo
Membawa cabai merah, kentang dan sayur-sayuran yang dikumpulkan dari petani
Tiba-tiba saja dia sudah jadi seorang penggalas

Anehnya dia hanya membawa barang dagangan itu ke pasar Bukit Tinggi saja
Tidak pernah ke pekan-pekan berhampiran
Padahal kebanyakan orang menghindar untuk pergi ke pasar Bukit Tinggi
Takut digeledah dan dibentak-bentak tentara Pusat
Tentara Pusat memang selalu merazia setiap penumpang bendi yang menuju Bukit Tinggi

Penumpang laki-laki, meski orang tua-tua sekalipun disuruh turun
Digeledah dan ditanyai macam-macam
Barang bawaan ibu-ibu di dalam kambut atau karung, diobok-obok
Pada suatu petang, ketika akan membayar sesudah minum teh telur di lepau mak Tangkudun, selembar kertas yang dikeluarkan Poan dari saku bajunya terjatuh
Mak Pakiah yang duduk di dekatnya mengambil kertas itu dari lantai

Kertas apa ini Poan? tanya mak Pakiah sambil menyerahkannya kembali
Catatan jual beli lado mah, mak, jawab Poan sambil memasukkan kertas itu kembali ke saku celananya
Si Nuraini kan ndak ada berkebun lado. Kenapa ada pula namanya di kertas itu? tanya mak Pakiah sambil lalu tanpa curiga apa-apa
Nuraini adalah kemenakan mak Pakiah
Suaminya ikut ke luar

Nuraini sampai hari itu sudah hampir sebulan ditahan di Batalyon B
Itu si Nuraini orang penggalas di pasar mah, mak
Pedagang yang membeli lado yang ambo bawa, jawab Poan mantap
Oooo, mantun, jawab mak Pakiah pula

Mak Tangkudun, pemilik lepau, menyimak saja soal jawab singkat itu
Setelah Poan berlalu tidak tahan juga hatinya untuk berkomentar
Berdetak saja hatiku, kata mak Tangkudun ketika di lepau itu yang tinggal mak Pakiah seorang saja lagi
Tentang apa? tanya mak Pakiah
Tentang musang berbulu ayam
� Hah? Siapa pula yang jadi musang?�
Apa yang Pakiah baca di kertas yang jatuh sebentar ini?� tanya mak Tangkudun
Kertas yang mana?
Kertas yang dikembalikan ke si Poan�
Ada tersurat nama Nuraini. Entah kenapa nama itu pula yang tertangkap di mata ambo. Ada nama si Fadilah di bawah itu dan nama-nama entah siapa lagi�

Si Fadilah kan sama-sama dijemput dan dibawa tentara Pusat? Tidak ada lagi nama yang lain yang teringat terlihat tadi?�
Rukayah ........ Ya di atas nama si Nuraini ada Rukayah�
Mak Tangkudun menghempaskan kopiahnya ke meja
Pastilah kalau begitu Si Nuraini, si Fadilah dan si Kayah sampai hari ini belum juga pulang dari Birugo
Ndak berdetak hati Pakiah ada kaitan nama-nama di kertas tadi itu dengan kenyataan ibu-ibu yang ditangkapi itu?
Kalau ambo sangat yakin ambo sekarang,� kata mak Tangkudun
Jadi? ......mak Pakiah mulai ikut berpikir. Mulai agak menangkap maksudnya
Tukang tunjuk, jawab mak Tangkudun


Tukang Tunjuak Gadang

Alhamdulillah, ibu-ibu yang ditangkap itu akhirnya dilepaskan juga semuanya
Hanya, sesudah itu rumah mereka selalu diintai tentara Pusat
Beberapa kali di antara ibu-ibu itu terkejut ketika pergi ke sumur di waktu subuh terserobok dengan tentara sedang duduk bersiaga dekat pintu sumur
Mungkin tentara itu semalaman menanti-nanti tentara luar anggota keluarga penghuni rumah itu

Siapa tahu mereka pulang ke rumah
Seminggu sesudah percakapan mak Tangkudun dan mak Pakiah di lepau, si Poan dijemput orang tengah malam
Tidak sedikitpun dia curiga
Ketika pintu diketuk dan namanya dipanggil, dan yang memanggil itu berbahasa Indonesia, Poan segera turun
Tentu saja dia kaget ketika sampai di halaman

Yang menjemputnya adalah tentara bersenjata tidak berseragam
Poan menghilang tidak tentu rimbanya sejak saat itu
Beberapa hari sesudah itu wali nagari didatangi tentara Pusat
Habis dia ditampari dan dibentak-bentak ketika tentara Pusat itu menanyakan kemana perginya si Poan

Wali nagari menjawab sejujurnya bahwa dia tidak tahu
Wali nagari dan wali jorong dibawa ke Birugo dan ditahan sebulan disana
Sesudah sebulan, mereka diantarkan kembali ke kampung dalam keadaan lusuh dan kurus

10 April 2013

Peringatan penting

Sudah terbukti ketika perang
tempat berlindung orang Minang
bukan di dataran tanah lapang
tapi dirimba Hutan yang lengang


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org