Halaman ini sudah dilihat oleh: 708 orang,




Tapol
Tahanan Politik Umum (TPU) pada masa Orde Lama
hayatunnismah@yahoo.com

TPU dizaman Orla
Nama lain untuk penjara
Disanalah dimasukkan mereka
Para pembangkang terhadap penguasa

Selusin manusia menghuni kamar tiga kali tiga
Badan kami berhimpitan didalamnya
Di siang hari panasnya seperti neraka
Malamnya nyamuk yang menghibur kita

Di siang hari diberi kelonggaran
Keluar sel mencari tambahan makan
Kemana saja terserah komandan
Yang seringnya kedalam hutan

Kayu ditebang dan dikumpulkan
Dijual untuk pembakaran
Diantar truk dan disebarkan
Sorenya dijemput dan dipulangkan

Kerongkongan kering tak tertahankan
Mendekatlah kami kesebuah perumahan
Jangankan minum yang disuguhkan
Penghuninya berlarian pada ketakutan

Sorenya kami mendapatkan bagian
Untuk beli rokok sudah lumayan
Beli jajanan penambah makanan
Sebagian besar uangnya pada komandan

Pengalaman lain yang tak terlupakan
Cuaca panas yang tak tertahankan
Menyiram atap rumah kami dikaryakan
Supaya penghuninya menjadi kesenangan

Pada suatu malam kami dikejutkan
Seseorang mendapatkan pukulan dan hantaman
Kursi-kursi sampai hancur bersepihan
Mengakibatkan korban menjadi pingsan

Kedalam sel kami korban tersebut dilemparkan
Kami kaget tak tahu apa yang akan dikerjakan
Kalang kabut dan berembuklah semua tahanan
Mencari akal untuk penyelamatan

Cincin korban menjadi picak
Jari korban menjadi bengkak
Aliran darahnya menjadi rusak
Membusuk kalau tak cepat bertindak

Paku kecil menjadi berguna
Diketok dan diolah menjadi alat prima
Semalaman kami semuanya bekerja
Menggergaji cincin supaya terpotong dua

Cerita tak habis disitu saja
Walaupun jari selamat menjadi sempurna
Pukulan kepala yang diderita
Menyebabkan berobah akal sampai akhir hayatnya

Banyak nyawa berakhir disana
Dijemput malam atau dipinjam sementara
Jadi fungsinya hampir sama
TPU Sekarang dan TPU zaman Orla

Puisi ini, merupakan kisah nyata.
Pengalaman seorang bekas pejuang PRRI di kota Pekanbaru penghuni TPU.
Sekarang TPU akronim dari Tempat Pemakaman Umum.
Wallahu alam bissawab

25 Maret 2011


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org