Halaman ini sudah dilihat oleh: 3146 orang,

PRRI Kisah anak nagari Sitalang yang berjuang membela PRRI

Dikarang oleh: H. Bustanuddin, Abraham Ilyas, Noor Indones St. Sati
Diedit html oleh: H. si Am Dt. Soda


H. Bustanuddin St. Kayo, 0813 1163 9317

Pembukaan

Melengkapi riwayat cerita PRRI
Noor Indones Sutan Sati
Beserta Abraham Ilyas, dokter gigi
Meminta aku untuk bersaksi

Berbentuk syair cerita ditulis
Berisi kisah bermacam jenis
Antara tawa dengan tangis
Mungkin urutannya tidak sistematis

Supaya jelas profile pengarang
Aku asli orang Sitalang
Ketika lahir di rantau orang
Pulang ke kampung setelah bujang

Ada pula saudaraku di Jambi
Di kota Bangko bersama Umi
Dia juga membela PRRI
Begitulah keyakinan keluarga kami

Kucoba ingat dalam renungan
Lama hidup banyak dirasakan
Jauh berjalan beragam penglihatan
Semua kejadiaan seizin Tuhan

Dalam kehidupan sehari hari
Agar tak kufur nikmat Ilahi
Gembira dibuat pelipur hati
Saat musibah ingatlah Diri

Keadaan susah kalau kuingat
Iba hati teramat sangat
Terasa diri takkan selamat
Di antara peluru dan pecahan granat

Jika teringat masa sulit
Berlindung di gua, bertahan di parit
Hati dan jantung terasa sempit
Pikiran melayang sampai ke langit

Aku tersentak dari lamunan
Senang dan susah itu cobaan
Semua manusia pasti merasakan
Mungkin caranya yang berlainan

Nabi Muhammad telah bersabda
Untuk makhluk umat manusia
Menyembah Allah wajib hukumnya
Berbuat baik kepada sesama

Di dalam kitab Allah berfirman
Senang dan susah akan ditimpakan
Untuk manusia penguji iman
Begitu ayat di dalam Qur'an

Segera kuambil buku catatan
Naskah lama masih disimpan
Penuh berisi dengan tulisan
Tentang kegembiraan atau kesusahan

Catatan diambil lalu dibaca
Berisi tulisan yang lama lama
Ketika diri disebut pemuda
Mengembara di rimba lalu dipenjara

Kini umur tujuh puluh tiga
Hidup terasa cukup bahagia
Karena Allah Tuhan yang Kuasa
Melimpahkan nikmat tiada terkira

Tentang biaya hidup sehari hari
Dari anakku bijak bestari
Dua putera dan dua puteri
Setiap saat siap memberi

Aku pindah ke ruang kerja
Duduk di kursi menghadap meja
Dicoba menulis apa yang ada
Sebelum ajal menjemput usia

Menetapkan pilihan

Lima puluh enam tahun yang lalu
Aku belajar menuntut ilmu
Di SGB sekolah guru
Engku Burhanuddin nama guruku

SGB III di kota Padang
Letak gedungnya di Simpang Kandang
Daerahnya ramai alang kepalang
Diri belajar sangatlah senang

Tempat tinggal di kampung Palinggam
Semua tetangga beragama Islam
Suraunya bernama langgar al Ihram
Sering pengajian malam malam

Tinggal menumpang di rumah saudara
Dunsanak sepupu orang bijaksana
Kantornya terletak di pelabuhan Muara
Dia pegawai Kas Negara

Saudara sepupu Achmad Zaini
Isterinya bernama Siti Nurani
Keluarga sakinah hidup islami
Gajinya cukup sangat memadai

Adik sepupu sangat dimanja
Menumpang di rumah tanpa menyewa
Tugas yang pokok belajar saja
Hari Ahad kadang berwisata

Suatu saat ke Simpang Aru
Ada mamak, adiknya ibu
Syair St. Makruf tinggal di situ
Lemarinya penuh berisi buku

Mak Syair aktifis Masyumi
Bicara politik sepanjang hari
Walau ekonomi kurang memadai
Bukan halangan ketika berbakti

Pernah terjadi suatu ketika
Mamak mengajak ikut serta
Melayani tamu pemimpin bangsa
Muhammad Natsir dari Jakarta

Aku diberi selembar kartu
Sebagai bukti penerima tamu
Disuruh berdiri di samping pintu
Menjawab pertanyaan kalau perlu

Lalu diadakan rapat terbatas
Masuk ruangan tidaklah bebas
Natsir berpidato secara jelas
Semua hadirin sangat antusias

19 56 waktunya lupa
Natsir bicara apa adanya
Ummat Islam menghadapi bahaya
Inilah cobaan Allah ta'ala

Akan diindang, ditampi teras
Biar terpisah padi dan beras
Kaum muslimin haruslah tegas
Orang Komunis sedang mengganas

Dengan serius Natsir berqalam
Ibarat Ikan di dalam kolam
Dilempar batu jatuh ke dalam
Ummat Islam sedang terancam

Akan terjadi suatu drama
Ummat Islam harus waspada
Maju kena, mundurpun kena
Kepada Allah kita berdoa

Tiada perlu berpikir lama
Ummat Islam siaplah segera
Membela negeri, tanah tercinta
Diancam Komunis anti agama

Ada ditulis di koran koran
D.N. Aidit pernah mengatakan
Orang P.K.I anti Tuhan
Hatiku geram tiada tertahan

Membaca syair mungkin bosan
Tapi cerita perlu diteruskan
Eseipun ditulis dalam karangan
Silakan dibaca untuk dipikirkan

1. Pemilu 1955 menghasilkan 4 partai yang mendapat suara terbanyak: yaitu PNI, Masjumi, NU dan PKI.
Masyumi menang di luar Jawa sedangkan PNI, NU dan PKI mendapat suara terbanyak di pulau Jawa.

2. Presiden Soekarno memilih PNI untuk memimpin kabinet/pemerintah dengan mengikutsertakan/merangkul PKI.
Hal semacam ini ditentang oleh Masyumi karena kaum Komunis anti Tuhan dan menghalalkan kudeta untuk meraih kekuasaan, ..... dengan kata lain PKI anti demokrasi.
Ketika itu Masyumi tidak menuntut agar PKI dibubarkan, bahkan di kemudian hari hal yang sebaliknya terjadi; yaitu Masjumi dan PSI dibubarkan. Kelak di tahun 1966 PKI dibubarkan oleh Jenderal Suharto sedangkan pada saat yang bersamaan presiden Soekarno tidak mau membubarkan PKI walaupun jelas jelas terlibat pemberontakan PKI/G30S.

Sebagai pemuda usia belasan
Di dalam hati aku tekadkan
Membela Islam jadi pilihan
Biarpun nyawa jadi taruhan

Walau hidup masih membujang
Tamat SGB di kota Padang
Hatiku gembira tidak kepalang
Menjadi guru sangatlah senang

Mendapat tugas mengajar di kota
Di Payakumbuh sebelah Utara
Sekolah Rakyat istilah lama
Mendidik murid di kelas lima

Radilas Fanani kepala sekolah
Mulutnya manis kucindan murah
Kalau bicara selalu ramah
Apa katanya tak pernah kubantah

Sembilan orang teman seprofesi
Empat pemuda, lima pemudi
Kami mengajar setiap hari
Mendidik siswa sepenuh hati

Nikmat Allah sangat terasa
Setiap hari berhati suka
Sambil mengajar, belajar pula
Mengikuti kursus di K.G.A

Keadaan yang berubah

Situasi politik berkembang cepat
Orang Minang telah bersepakat
Rezim Soekarno sedang berkhianat
Jauh di hati harapan rakyat

Achmad Husein muncul ke depan
Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
Lima hari lima malam waktu diberikan
Pemerintah mundur dari kekuasaan

Dua tuntutan dicatat sejarah
Perlu ditandai tinta merah
Berikan otonomi kepada daerah
Orang Komunis jangan memerintah

Presiden Soekarno bernafas sesak
Para panglima sedang menggertak
Daerah dianggap sebagai pemberontak
Kaum Komunis lalu bersorak

Soekarno marah bertambah berang
Tentara dikirim untuk berperang
Sumatera Tengah akan diserang
Target utama ke ranah Minang

Dari laut dan dari udara
Kota Padang sasaran pertama
Dijatuhkan bom membabi buta
Banyak korban mati dan luka

Karena kota kini tak aman
Badan diri wajib diselamatkan
Gaji terhenti tak bisa makan
Lalu berunding sesama teman

Menyusul kota diduduki APRI
Tiada perintah, tanpa koordinasi
Ke kampung kampung rakyat mengungsi
Berbondong bondong berjalan kaki

Ke Sitalang pergi mengungsi
Didalam kecamatan Ampek Nagari
Disitu bermukim sanak famili
Mereka bekerja sebagai petani

Nagari Sitalang Barajo Sorang
Di kaki gunung beriklim sedang
Penduduk ramah sangat periang
Kepada dunsanak sangat sayang

Semua orang taat beribadah
Untuk kebaikan mau mengalah
Perbuatan mudarat langsung dicegah
Ketika berusaha pantang menyerah

Ke Pasaman mendaftar jadi sukarelawan PRRI

Pada akhir tahun 58
Enam bulan waktu berjalan
Aku berada di kampung halaman
Kini datang suatu kesempatan

Kesempatan baik untuk berbakti
Menjadi sukarelawan pejuang PRRI
Pergi berperang menyelamatkan negeri
Dari serangan tentara APRI

Di Ujung Gading dekat lautan
Di sana bermarkas induk pasukan
Kompi KKO diberi sebutan
Letnan Isrul sebagai komandan

17 pemuda berbadan sehat
Percaya diri penuh semangat
Lalu berkumpul mengadakan rapat
Ingin berperang melawan Pusat

Pemuda Sitalang dan Batu Kambing
Setelah berkumpul sambil berunding
Siap berangkat ke nagari Silaping
Dekat pantai di Ujung Gading

Para remaja anak bujang
Dari Batu Kambing dan Sitalang
Ke rantau Pasaman pergi berperang
Namanya ditulis untuk dikenang

Agus, Anwar, Ahmad, Bustanuddin, Darmawi, Iamawan, Jariman, Mahidin, Muchtar/Kutar, Nasir, Nasirudin, Paramai,
Pudin, Samsi, Usman, Zaini, masih - 1 nama !

Pagi hari sebelum berangkat
Calon pejuang diberi nasehat
Dilanjutkan doa kaum kerabat
Kembali pulang dengan selamat

Selesai bermohon kepada Tuhan
Para remaja mulai berjalan
Masuk hutan ke luar hutan
Hanya berhenti ketika makan

Walau kaki beralas sandal
Baju di badan banyak bertambal
Niat berjuang sejak awal
Bukan ambisi ingin terkenal

Berjalan kaki beriring iring
Ada yang gemuk banyak yang langsing
Melewati jalan di tepi tebing
Bila tergelincir jatuh terguling

Saat melewati banyak nagari
Sumadang, Gudang, Tapian Kandi
Padang Gantiang, Padang Sawah dan Kinali
Terasa berada di kampung sendiri

Ninik Mamak datang menyambut
Diikuti orang tua berusia lanjut
Berjabat tangan berebut rebut
Meskipun malam telah larut

Ketika sampai di batang Masang
Sungai besar airnya tenang
Rombongan berhenti karena terhalang
Tiada titian untuk menyeberang

Penduduk bertanya kepada yang tua
Ke mana tujuan para pemuda
Kami menjawab apa adanya
Hendak ke Pasaman membela negara

Karena rombongan pemuda PRRI
Semua orang ikut bersimpati
Rakit dipinjamkan oleh pak Haji
Makanan disumbang Amai dan Umi

Lanjutan kisah H. Bustanuddin yang bertugas di Pasaman, Riau sampai tertangkap di Naga Seribu Pd Bolak, Tapsel dan dipenjara Tanjung Gusta Medan sedang disusun, tunggu untuk diupload

Hasan dan Husen saudara kembar gugur menepati janji

Untuk dicontoh para remaja
Menjadi teladan sampai tua
Hasan dan Husen tak berebut harta
Ketika berperang sesama saudara

Saudara kembar Husen dan Hasan
Bermuka mirip susah dibedakan
Hobinya sama, senang berteman
Ketika bergolak saling berlawan

Bukan karena dapat indoktrinasi
Tapi keyakinan hak azasi
Husen menjadi pejuang PRRI
Hasan bertugas di kesatuan APRI

Hasan dan Husen saling berhadapan
Ketika berperang dalam pertempuran
Keduanya tewas rela berkorban
Demi menjaga suatu kehormatan

Husen tewas mati terbunuh
Dalam pertempuran di nagari Situjuh
APRI yang datang dari Payakumbuh
Membawa prajurit berpuluh puluh

Dia sahid membela keyakinan
Bergabung PRRI dalam perjuangan
Menerima takdir ketetapan Tuhan
Jannatun naim sebagai balasan

Lain lagi tewasnya Hasan
Sebagai prajurit jadi teladan
Selalu patuh peintah atasan
Semua tugas dia laksanakan

Saat Hasan sedang bertugas
Untuk patroli di ujung batas
Pejuang mengintai di bukit atas
Hasan tertembak langsung tewas

Semua prajurit punya tradisi
Mengucapkan sumpah serta janji
Hasan contoh prajurit sejati
Melaksanakan sumpah menepati janji

Begini janji saat disumpah
Prajurit patuh pada perintah
Ketika bertempur haram menyerah
Instruksi komandan pantang dibantah

Dalam korps pasukan APRI
Hasan ternyata prajurit sejati
Menepati sumpah ketika berjanji
Hasan terbunuh saat beroperasi

Walau tiada ditampilkan foto
Inilah sedikit sebagai info
Hasan dan Husen bersuku Koto
Anak kemenakan Dt. Tan Bandaro

Bapaknya bernama Kari Sili
Seperti umumnya penduduk Nagari
Kerja di kampuang jadi petani
Sambil memelihara ternak Sapi

Mat Asan pahlawan tak dikenal dari nagari Sitalang

Mat Asan bujang pilihan
Tinggal di Sitalang tiada bosan
Terlalu banyak meninggalkan kesan
Bagi anak cucu jadikan teladan

Asan rajin dan sangat pintar
Guru heran ketika mengajar
Semua pertanyaan dijawab lancar
Dengan kawan senang kelakar

Bila guru menghitung salah
Asan langsung siap menyanggah
Kalau timbul ricuh dan telagah
Sering gurunya yang mengalah

Sifat sosialnya Allohu Robbi
Sanggup menolong petang dan pagi
Tak pernah dia meminta gaji
Terkadang orang ikhlas memberi

Keluarga Mat Asan orang tak mampu
Sawah tak punya, rumahpun bambu
Lima beradik bahu membahu
Menegakkan kaum bersatu padu

Jaman berperang melawan NICA
Tenaganya dipakai oleh tentara
Menjadi penyelidik atau mata-mata
Mengantar nasi dikerjakan pula

Perang selesai Mat Asan terlupakan
Tidak dihargai sebagai veteran
Lalu berjualan, pekan ke pekan
Menyambung hidup mencari makan

Ada istimewa pada Mat Asan
Bisa terlelap sambil berjalan
Meski di kepala ada beban
Tidur pulas sampai di tujuan

Saat pergi ke Lubuk Basung
Asan terbangun lalu ke warung
Tiada lagi beban yang dijunjung
Minum segelas, makan secambung

Pristiwa terulang di masa PRRI
Mat Asan kembali ikut mengabdi
Tugas utama mengantar nasi
Untuk pemimpin yang sedang mengungsi

Muhammad Natsir bersama rombongan
Pagi dan petang diantarkan makan
Biarpun gerimis ataupun hujan
Nasi tak mungkin ditahan tahan

Ada pada suatu ketika
OPR mengadu kepada tentara
Tentang Asan punya kerja
Dia ditangkap untuk diperiksa

Asan dibawa ke dalam hutan
Mata ditutup dengan sapu tangan
Jari diikat ke belakang badan
Lalu dipukuli sepanjang jalan

Penduduk Sitalang hati terluka
Dengan Mat Asan di akhir usia
Nyawa melayang di ujung senjata
Jasadnya hilang tak tahu rimba

Kepada orang Sitalang kami berpesan
Buatkan kuburan di pinggir jalan
Nyatakan dia seorang pahlawan
Hidupnya berjasa penuh kenangan

Walaupun di kampung dia mengabdi
Ikut berjuang membela pertiwi
Tidak berharap upah komisi
Itulah Mat Hasan pahlawan sejati

Karena penulis habis inspirasi
Kisah tak lagi berbentuk puisi
Cerita diteruskan dalam narasi
Kalimatnya disusun teratur rapi

Dukun Paranormal ikut mendukung perjuangan

Datuk Sati Durahman orang Sitalang
Mendukung PRRI tidak kepalang
Meski bukan tentara bersenapang
Semangat Datuk perlu dikenang

Tidak dipaksa, tidak disuruh
Membantu perjuangan secara penuh
Dilakukan masyarakat bersungguh sungguh
Ketika Sitalang menghadapi musuh

Anak nagari sangat percaya
Datuk Sati pendekar ternama
Sangat disegani banyak ilmunya
Memberi keyakinan kepada warga

Mamak dan Amai serta remaja
Orang Siak ataupun parewa
Ke batas nagari pergi bersama
Mengiringi Datuk sambil berdoa

Di batas nagari secara makrifat
Pagar Gaib lalu dibuat
Pedang diacungkan disertai niat
Tentara Soekarno tak bisa mendekat

Dalam suasana agak mistis
Saat turun hujan gerimis
Orang terharu ada yang menangis
Pedang diacungkan, tanah digaris

Ibarat tembok dinding tinggi
Peristiwa aneh penuh misteri
Kelak kemudian benar terbukti
Pagar gaib tak pernah dilewati

Tentara Soekarno ketika datang
Melalui Tantaman jalan yang lengang
Lalu turun ke nagari Sitalang
Kampuang dimasuki dari belakang

Bantuan Masyarakat

Saat terjadi pertempuran hebat
Di nagari Kamang sebelah barat
Kapten Bachtiar terluka berat
Kakinya tertembak peluru granat

Bachtiar ditandu berjalan kaki
Di jalan setapak rimba yang sunyi
Melewati batas banyak nagari
Menuju Sitalang untuk diobati

Karena kakinya terluka parah
Kondisi Bachtiar sangat lemah
Dia dipinjami sebuah rumah
Milik Usman Datuk Batuah

Bachtiar diungsikan ke Sitalang
Melewati rimba hutan terlarang
Dari Tantaman terus ke Gumarang
Rutenya berat tidak kepalang

Jalan setapak di dalam rimba
Dipakai orang sejak lama
Kini digunakan sipil dan tentara
Ketika mengungsikan korban yang luka

Waktu menempuh rimba hutan
Orang tua penunjuk jalan
Anak muda pembawa beban
Prajurit mengawal ada di depan

Rumah datuk sangat besar
Berlantai kayu beralas tikar
Di tepi jalan tanpa pagar
Kini dipinjamkan kepada Bachtiar

Meski Bachtiar orang jauh
Sedang dicari diintai musuh
Orang Sitalang ikhlas sungguh
Bachtiar diobati sampai sembuh

Enam bulan Bachtiar dirawat
Diberi jamu disertai obat
Sampai tubuhnya menjadi kuat
Melanjutkan perang melawan Pusat

Orang Ronda memiliki andil menjaga nagari

Karena takut dijadikan sandera
Penduduk kampung sembunyi di rimba
Mungkin sehari atau dua
Menunggu musuh pulang ke kota

Tugas utama orang ronda
Memukul Tontong tanda bahaya
Memberi tahu sanak saudara
Musuh datang membawa petaka

Siasat berperang sejak dahulu
Kebiasaan operasi para serdadu
Mereka datang sewaktu waktu
Tiada tanda pemberi tahu

Dalam hening sunyi senyap
Waktu malam sangat gelap
Ronda berjaga harus siap
Dilarang tidur walau sekejap

Kalau ronda terlelap tidur
Disertai nafas bunyi mendengkur
Alamat nasib tak kan mujur
Siapkan diri besok dikubur

Untuk sembunyi ke semak semak
Ketika musuh telah tampak
Tanpa perintah melalui teriak
Tontong dipukul dengan serentak

Terkadang sembunyi secara kelompok
Membawa persediaan kebutuhan pokok
Termasuk Lading ataupun Golok
Disebut orang pergi ijok

Ronda bergiliran diatur pak Wali
Sesudah bertugas tidak digaji
Bahan makanan bawa sendiri
Nasi disiapkan para isteri

Saat perang bukan frontal
Petugas ronda sangat vital
Penduduk nagari mereka kawal
Dibalas Tuhan sebagai amal

Akibat kalah bertempur

Sesudah PRRI kalah bertempur
Adat Minang menjadi mundur
Pangulu diam disuruh tidur
Dilarang bicara, jangan mengatur

Ibarat pasukan tentara APRI
Saat mengalahkan pejuang PRRI
Begitulah kota merusak nagari
Mamak kehilangan harga diri

Orang kota ada yang serakah
Kini datang membuat masalah
Bukit dan gunung semua dirambah
Pohon dihutan ditebang rebah


Kerusakan lingkungan telah terjadi
Air di sungai menyusut sekali
Masalah besar untuk nagari
Perlu dianalisa dengan diskusi

Bukti nyata berbentuk fakta
Lubuak Karambie sepohon Kelapa
Kini dangkal tinggal sehasta
Karena kerusakan di hulu rimba


Lubuk Tabiang di tepi jalan
Dahulu di situ bujang berlompatan
Terjun ke sungai bersama teman
Telah kering seperti daratan

Waktu hujan terlambat datang
Batang Bawan di nagari Sitalang
Sangat menyusut hampir kerontang
Akibat pohon banyak ditebang

Ketika cukong beserta konco
Merusak hutan dengan sembrono
Penduduk kampung menanggung resiko
Terjadi banjir disertai galodo

Konconya mungkin di Lubuk Basung
Anak parewa cerdik tanggung
Tidak malu, tiada canggung
Melupakan dunsanak orang sekampung

Dua ribu tujuh, galodo besar
Sawah tertimbun sepuluh hektar
Oleh kerikil dan batu besar
Kini tanah jadi terlantar

Waktu banjir 2007
Seperti manusia sedang mengeluh
Jawi yang hanyut melenguh lenguh
Ternak mati berpuluh puluh


Niniak Mamak sangat risau
Ketika hutan dibabat sinsau
Walau diprotes sampai parau
Dikalahkan amplop berisi ang pau

Sudah menjadi rahasia umum
Ang pau dibagi kepada oknum
Untuk menyogok penegak hukum
Aturan dilanggar dengan senyum

Ketika menjarah hutan ulayat
Orang kota mengatur siasat
Si Buyung diberi mainan yang nikmat
Sehingga lupa nasib kerabat

Mainan yang nikmat bermacam macam
Dari dangdut sampai Handycam
Termasuk pula kehidupan malam
Industri pariwisata ada di dalam

Setelah kayu hilang di bukit
Kehidupan nagari menjadi sulit
Masyarakat dibujuk sedikit sedikit
Turis kan datang membawa duit


Industri pariwisata mendirikan hotel
Sering maksiat ikut menempel
Ada peragaan para Model
Mata terbelalak sampai pegel

Kodak kerusakan Lingkungan di Sitalang


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org