Halaman ini sudah dilihat oleh: 1342 orang,




Rao Rao
Nagari Rao Rao sebagai Pusat Pendidikan saat PRRI
oleh : Suardi Mahyuddin, S.H

Karangan berjudul Rao-Rao Pusat Pendidikan di zaman P.R.R.I, merupakan kisah/pengalaman seorang guru yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.
Nagari Rao-Rao letaknya berada ditengah-tengah antara nagari tetangga, Sungai Tarab dengan Salimpaung dan Tabek Patah.
Antara Situmbuak dengan Kumango dan Pasia Laweh.

Rao-Rao berada di jalan raya yang menghubungkan kabupaten Tanah Datar dengan kabupaten Agam.

Menurut sejarah, ketika Tuangku Laras Kajo Inan tahun 1915 memerintah, nagari nagari Kumango, Rao-Rao dan Kotobaru berada dalam satu kelarasan.
Dengan demikian jika ada yang akan memilih mau belajar ke Rao-Rao atau ke nagari yang lain mereka maka mereka akan memilih Rao-Rao karena merasa dekat dari pada ke nagari tetangga yang lain.

Di zaman P.R.R.I, Rao-Rao menjadi tempat berkumpul kaum ilmuwan yang masih muda, baik sebagai pendidik di bidang agama maupun ilmu pengetahuan umum.
Oleh sebab itu zaman P.R.R.I tahun 1958 di nagari ini terdapat berbagai jenis tingkat pendidikan kecuali sekolah pendidikan tinggi.

Mulai Taman Kanak-Kanak, SD, SMP dan SMA dan sekolah kejuruan ada di kampung ini.
Murid-murid datang dari nagari tetangga.

Keberadaan semua sekolah ini sifatnya temporer artinya selama waktu tertentu yaitu selama perang saudara berlangsung, jika perang sudah usai baik murid maupun tenaga pengajarnya kembali ketempat asalnya untuk meneruskan pelajarannya.

Berlainan dengan sekolah pendidikan agama pada zaman P.R.R.I tidak banyak perubahan.
Sekolah agama tetap juga belajar sebagaimana biasa pertambahan murid tidak sebesar pertambahan sekolah umum, perkembangan pendidikan agama secara umum tergantung kepada jumlah murid kelas empat, lima dan enam SD.
Kelas-kelas inilah yang menjadi murid Ibtidaiyah

Jadi menurut penulis jika kita menamakan bahwa Rao-Rao adalah nagari pendidikan di zaman P.R.R.I tidaklah berlebihan
Untuk ukuran suatu nagari dalam kecamatan yang terdiri dari negari-negari tetangga, maka di Rao-Rao lah dalam suasana darurat atau waktu perang Saudara ditemui pembelajaran berbagai tingkat pendidikan.
Sekolah yang diasuh oleh tenaga-tenaga guru sesuai kurikulum yang berlaku pada masa itu.

Lahirnya SMA dan SMP Penampung di Rao-Rao.

Risalah pendirian sekolah SMA dan SMP Penampung Rao-Rao Batusangkar di masa P.R.R.I adalah sebagai berikut:,p> Pembentukan P.R.R.I Februari 1958 menyebabkan pemerintah pusat melakukan reaksi yang cepat tetapi membayahakan keselamatan jiwa penduduk yaitu melakukan pemboman kampung kampunga dan kota-kota di Sumatra Tengah.

Keadaan yang tenang menjadi kacau balau membuat rakyat jadi panik.
Untuk mengantisipasi bahaya yang lebih besar lagi sebagian besar penduduk yang tinggal di kota termasuk murid-murid sekolah ikut berbondong-bondong bersama orang tua mereka pulang kekampung masing-masing.

Situasi seperti di Rao-Rao ini membingungkan pelajar yang terbiasa tiap pagi ke sekolah.
Karena tidak dapat dipastikan berapa lama masa perang ini berlangsung maka timbul keinginan mereka untuk mengisi waktu yang kosong sambil menunggu situasi pulih kembali dengan ikut belajar apa adanya sesuai dengan keadaan.

Keinginan seperti yang dirasakan pemuda-pemuda Rao-Rao itu dapat dimaklumi oleh tokoh-tokoh masyarakat di kampung.
Dengan prakarsa orang cerdik pandai di nagari antara lain Rusli Muhammad, maka beliau menghadap bapak Dr Ismail Daulay Kepala Kordinator Pendidikan dan Pengajaran P.R.R.I yang berkedudukan di Lintau beliau adalah juga salah seorang dosen PTPG Batusangkar.

Dengan membawa usul pembukaan satu SMA dan SMP di Rao-Rao berdasarkan keadaan murid dan tenaga pengajar yang memungkinkan untuk dibangun suatu pendidikan tingkat menengah pertama dan atas.
Usul ini disetujui dan didukung penuh oleh pejabat P.R.R.I itu bersamaan dengan waktu itu didirikan pula SMA dan SMP Sumanik.

Untuk pertanggungan jawab pendirian sekolah ini dibentuk suatu pengurus pendirian sekolah.

Sekolah-sekolah ini berlangsung untuk sementara guna menampung putera-puteri Rao-Rao yang terlantar atau terputus karena keadaan perang sampai suatu waktu dimana kalau situasi perang sudah usai.
Itulah sebabnya sekolah ini disebut SMA dan SMP Penampung.

Penampung artinya menampung murid-murid sekolah menengah dari jenis atau tingkat mana saja yang terlantar.
Misalnya jika ada yang berasal dari sekolah kejuruan seperti SMEA, SMEP, STM, ST, SGB dan sebagainya akan ditampung di sekolah umum SMA atau SMP kemudian disesuaikan dengan tingkat sekolahnya.
Untuk itu perlu dibentuk Pengurus pendirian sekolah-sekolah tersebut :

Pengurus pendirian SMA Penampung :

Ketua : Alm. S.S.Baharuddin Lambaw
Bendahara : Alm. Abdullah Noer
Sekretaris : Rusli Muhammad

Pengurus pendirian SMP Penampung:

Ketua : Muchtar Syarif
Bendahara : Alm. Abdullah Noer
Sekretaris : Rusli Muhammad

Tenaga Pengajar.

Tenaga pengajar atau guru-guru semuanya berjumlah kira-kira 20 orang sebagian dari pegawai negeri sebagai guru-guru SMA Negeri,SMP Negeri yang aktif tetapi sedang mengungsi dan sebagian adalah mahasiswa-mahasiswa dari Fakultas Hukum, Pertanian, Kedokteran, Ekonomi Universitas Andalas dan PTPG Batusangkar putera-putri Rao-Rao dan dari luar nagari Rao-Rao.

Sebagai Kepala Sekolah SMA Penampung Rao-Rao ini ditetapkan oleh Kordinator Pendidikan dan Pengajaran P.R.R.I yaitu Syaukani Usman.

Beliau berasal dari pegawai negeri aktif sebagai Guru SMA Negeri Jambi dan untuk Kepala SMP Penampung Rao-Rao di angkat Amir Bahar asal dari B1 Sejarah Bukittinggi yang sudah berpengalaman menjadi guru pada beberapa SMA di Bukittinggi.

Sedangkan untuk Kepala Tata Usaha kedua sekolah ini diangkat Rusli Muhammmad sebelum sebagai Kepala Tata Usaha SMA Negeri Birugo Bukittinggi.
Adapun nama-nama guru-guru SMA dan SMP Penampung Rao-Rao adalah sebagai berikut :

1. Syaukani Usman Kepala SMA, berasal dari Situmbuk
2. Amir Bahar Wakil Kepala SMA dan Kepala SMP.
3. Azinar Rasyidin SMA
4. Abu Bakar Jamal SMA
5. Suardi Mahyuddin SMA dan SMP
6. Fahmi Mahyuddin SMA dan SMP
7. Anis Jafar SMA dan SMP
8. Abu Hanifah Bakry SMA
9. Idris Saleh SMA dan SMP
10. Rosna Hamidy SMP
11. Roslina Nur SMP
12. Syamsuddin Rahman SMP
13. Yusuf Samah SMA dan SMP
14. Syofyan Syarif SMP
15. Bachtiar Husein SMP
16. Ramli Sidin SMA berasal dari Situmbuk
17. Anwar Alwi SMA Kepala SMA Penampung Sumanik dan sebagai guru di SMA Penampung Rao-Rao
18. Ilis Nurdin SMP berasal dari Kumango
19. Salman SMA berasal dari Sei.Tarab

SMA Penampung Dan Jurusan

SMA Penampung membuka jurusan berdasarkan jurusan calon murid-murid yang mendaftar dan kemampuan calon tenaga pengajar yang tersedia.
Oleh sebab itu hanya dua jurusan yang dibuka yaitu jurusan Social Ekonomi (bagian C) dan jurusan Ilmu Pasti (bagian B).

Murid-murid sudah mendaftar rencana mulai belajar April 1958.
Perincian murid tiap kelas adalah sebagai berikut:

1. Satu kelas untuk kelas 1C sekitar 35 orang
2. Satu kelas untuk kelas 1 B sekitar 25 orang
3. Satu kelas untuk kelas II C sekitar 25 orang
4. Satu kelas untuk kelas II B sekitar 20 orang
5. Satu kelas untuk kelas III C sekitar 30 orang

Dari seluruh jumlah murid tersebut di atas sebagian besar adalah putra-putri Rao-Rao dan sebagian lagi adalah murid-murid yang datang dari nagari tetangga seperti dari Tiga Batur, Sei Tarab, Pasir Laweh, Kumango, Salimpaung , Malintang, Mandahiliang Lawang, dan Tabek Patah.

Sebagian guru juga ada yang berangkat pagi-pagi dari kampungnya seperti yang berasal dari Sei Tarab, Sumanik, Situmbuk, Kumango dan Pasir Lawas.
Semua guru masih remaja atau mahasiswa belum ada yang mengakhiri masa remajanya atau berumah tangga, kecuali satu orang yaitu guru agama Bapak Idris Saleh.

Menurut kurikulum SMA pada waktu itu mata pelajaran yang diajarkan pada kejuruan SMA yang dibuka yaitu jurusan sosial ekonomi dan ilmu pasti sudah sesuai dengan kemampuan tenaga pengajar yang tersedia pada waktu itu.

Mata pelajaran yang diberikan untuk afdeling C dan B meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sejarah, Geography, Aljabar, Ilmu Kimia, Ilmu Ukur, Hukum Dagang, Tata Negara, Sejarah Perekonomian, Bahasa Perancis, Bahasa Jerman dan Agama.

Pada tahun ajaran 1958 itu masih ada pelajaran pokok, mata pelajaran pelengkap.
Pada tahun 1959 sudah ada yang mengikuti ujian penghabisan tertulis SMA Penampung yaitu kelas III bagian C.

Bergabung dengan kelas III C SMA Sumanik, bertempat di sekolah Darul Huda Rao-Rao.
Berkas ujiannya dikirim ke Kordinator Pendidikan dan Pengajaran di Lintau.
Cuma pengumuman hasil ujian tak sempat diterima karena situasi sudah mulai memanas adanya berbagai operasi meliter yang dilancarkan tentara pusat.

SMP Penampung

Untuk menampung murid-murid yang tak mampu yang ingin bersekolah ke kota-kota, sebenarnya di Rao-Rao kira-kira tahun 1956 sudah berdiri SMP swasta yang didirikan oleh Wali Nagari Anwar May bersama sdr. Amir Bahar guru di Bukittinggi.

Akan tetapi karena kesulitan tenaga guru sekolah ini terpaksa ditutup.
Kemudian setelah berdirinya sekolah SMP Penampung diantara mereka ada juga yang bergabung ke sekolah ini.

Jumlah murid SMP Penampung yang terdiri dari tiga berjumlah sekitar 60 orang.
Menurut ingatan penulis murid-murid ini semua berasal dari nagari Rao-Rao saja.

Gedung dan Perlengkapan SMA dan SMP Penampung.

Untuk SMA Penampung dipakai gedung sekolah SD yang terletak persis di tepi jalan Gudang.
Gedung ini terdiri dari enam ruang semua dipakai untuk belajar murid-murid SMA Penampung.
Sedangkan murid SD yang punya gedung pindah ke gedung SD seberang Tanah Lapang .
Gedung ini ada juga enam lokal.

Tiga ruangan dipakai untuk murid SMP dan tiga ruangan untuk murid SR (Sekolah Rakyat).
Murid-murid SR ada yang digabung kelasnya.
Semua murid SR, SMP maupun SMA belajar di pagi hari.
Jam belajar di mulai jam 8 pagi. Kalau tidak ada gangguan operasi meliter tentara pusat biasa jam 13 siang murid murid pulang.

Murid-murid dari luar nagari malahan kadang-kadang lebih duluan sampai di sekolah.
Hari Sabtu mereka berbelanja di pasar Rao-Rao bersama orang tuanya setelah pulang jam sekolah.

Mengenai perlengkapan sekolah untuk kelancaran kegiatan belajar dan mengajar di SMA dan SMP Penampung Rao-Rao ini, dapat dipenuhi.
Mesin stencil, mesin tik, buku-buku pegangan guru dan alat tulis lainnya semuanya sudah tersedia.

Semuanya berasal dari inventaris SMA Negeri Bukittinggi yang dapat diselamatkan dari bahaya kehancuran perang.
Barang-barang ini dibawa dan disimpan oleh Rusli Muhammad.

Ini dimanfaatkan untuk pendidikan di zaman P.R.R.I.
Akan tetapi setelah situasi kembali pulih semua alat tulis ini dikembalikan oleh beliau ketempat asalnya.

Sekolah Kepandaian Putri (SKP).

Selain dari SMA dan SMP Penampung di zaman P.R.R.I di Rao-Rao pengurus juga membuka Sekolah Kepandaian Putri (SKP) .

Lokasi sekolahnya sama –sama yaitu di salah satu ruangan di sekolah Gudang.
Sekolah ini dipimpin oleh Bachtiar Husein dibantu oleh tenaga pengajar yaitu:

1. Rasimah Rasyidin
2. Ratni Jakfar
3. Poppy Abulizar Lene.

Murid-muridnya lebih kurang sepuluh orang antara lain:

1.Huriyati Bustaman
2.Yusnani Ilyas
3.Yusra Saleh .

Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal.

Di zaman P.R.R.I di Rao-Rao juga terdapat tenaga guru Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) yang aktif .
Untuk itu di nagari ini di buka pula dua buah sekolah Taman Kanak-Kanak masing-masing terletak di Surau Mandahiliang Mudik dengan jumlah murid sekitar 40 sampai 50 orang.
Dan yang lainnya di Koto Kaciek di Surau Baruah dengan murid sekitar 40 atau 50 orang anak-anak.

Kedua sekolah ini dinamakan Sekolah Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal dipimpin oleh Rosni Syarif dan Rosna Bakry dan dibantu oleh Lis Rasyid.

Demikianlah nama-nama guru dan murid SMA dan SMP Penampung, SKP maupun Sekolah Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal yang masih ada dalam ingatan penulis.

Mengenai nama-nama murid yang berasal dari nagari tetangga belum tercantum dalam buku ini disebabkan tidak lagi bertemu sehingga nama-nama mereka tidak bisa diingat lagi.

Belajar Mengajar Di bawah Dentuman Mariam

Mendengar bunyi dentuman mariam, tembakan mortir dan senapan mitriliur bagi murid-murid dan guru-guru di saat belajar di zaman P.R.R.I adalah suatu pendengaran yang sudah lumrah.

Yang penting perlu diperhitungkan agar sosok meriam itu jangan tiba-tiba sudah berada di dekat kita, tetapi biasanya bunyi dentuman itu kedengaran masih jauh.

Jika ada operasi tentara Soekarno ke Rao-Rao tidaklah serta merta bisa langsung sampai ke Rao-Rao, karena di nagari Tigo Batur kira-kira 5 km dari Rao-Rao jalan raya itu sudah di putus.
Penduduk menggali lubang di tengah jalan dan dengan sendirinya konvoi alat pengangkut mariam tidak bisa lewat.
Alat pengangkut senjata yang bernama mariam itu ditarok di atas sebuah kenderaan semacam mobil yang ditarik oleh mobil lain.

Berlainan dengan senjata berat tentara P.R.R.I yang sering kami lihat cuma disandang saja namanya bazoka, ukurannya hanya sebesar bambu buluh lemang panjangnya kira-kira 80 cm.
Cara mempergunakannya juga tidak sulit.
Suatu hari bunyi dentuman mariam arah dari Batusangkar sudah di mulai sejak subuh, dan berlainan dari yang biasanya terus-terusan sampai siang hari.
Sekali ini murid tidak masuk sekolah alias libur.
Masyarakat jadi takut sebab itu tak berani ke luar rumah.
Baru sore diketahui bahwa tembakan meriam itu diarahkan ke kaki gunung merapi dekat Rao-Rao.

Perkiraan orang Rao-Rao tidak meleset. Ketika magrib kemaren rombongan para tokoh P.R.R.I Kolonel Zulkifli Lubis melintas di jalan raya. Beliau datang dari arah Batusangkar. Beliau inilah yang jadi sasaran operasi meliter hari itu. Dan operasi sudah terlambat karena yang dicari itu hanya sebentar sajadi Rao-Rao, setelah itu rombongan langsung melanjutkan perjalanannya.

Geografi kenagarian Rao-Rao untuk zaman perang agak strategis karena terletak persis di jalan raya pelintasan.
Itu pula sebabnya banyak tentara P.R.R.I mampir dan malahan ada yang tinggal beberapa waktu di kampung ini.

Seperti pendekar Silat Nasional yang bernama Malin Marajo, anak Tuangku Kumango tokoh agama dan jago silat yang terkenal bersama dengan sekelompok anak buahnya .
Orang Rao-Rao menyegani beliau dan anak buahnya pernah kontak senjata dengan tentara Pusat.
Rakyat menganggap bahwa tindakannya selalu membela rakyat.

Di zaman P.R.R.I tokoh nasional Mohammad Natsir dan beberapa orang temannya dalam perjalannya pernah pula singgah untuk shalat magrib di Masjid Raya Rao-Rao.
Setelah bertemu dengan sahabat-sahabat beliau yaitu dengan saudagar-saudagar yang dulu pernah di Padang, beliaupun melanjutkan perjalanannya.

Operasi Gabungan TNI-AD Tewaskan 7 Orang Penduduk Rao-Rao.

Pada pertengahan tahun 1959 sebelum Rao-Rao diduduki oleh tentara pusat , kenagarian di kecamatan Sei Tarab sempat jadi sasaran Operasi Gabungan TNI dari kesatuannnya dari Payakumbuh dan Batusangkar.

Sebagaimana biasa, pagi-pagi sudah kedengaran dentuman mariam dan tembakan mortir.
Karena ramainya bunyi tembakan dari berbagai arah, maka murid-murid pada hari itu terpaksa libur.
Penduduk Rao-Rao yang biasanya pergi ijok ke hutan-hutan untuk menyelamatkan diri sudah mulai berkemas dan menyiapkan bekal untuk satu hari.

Lokasi ijok biasanya ke ladang-ladang arah ke gunung merapi.
Akan tetapi sekali ini ada juga orang Rao-Rao yang lari menyelamatkan diri ke ladang-ladang arah ke Situmbuak.
Kebetulan kedua kesatuan operasi yang datang dari Payakumbuh dan dari Batusangkar ini sudah merencanakan pula bertemu di daerah Situmbuak.

Mereka sampai di daerah ini tidak lagi melahirkan bunyi letusan senjata api.
oleh sebab itu banyak penduduk tidak mengetahui kedatangan mereka sehingga beberapa orang yang dicurigai sebagai tentara ditangkapi.

Warga Rao-Rao yang ditangkap ada 7 orang antara lain H. Rasul, pedagang besar di Payakumbuh dan Rasyad Sibak yang baru beberapa hari pulang dari Jakarta, keduanya dari suku Caniago.
Rasyid dan Rasyad orang dari Kota Kaciek.
Penulis lupa nama tiga orang lagi akan tetapi ada juga berasal dari suku yang lain.

Mereka yang bertujuh ini ditangkap, digeledah oleh tentara yang dibantu oleh beberapa orang yang disebut sebagai anggota OPR.
Semua warga ini adalah rakyat biasa tidak bersenjata
Di badannya hanya ditemui sekedar uang untuk bekal.
Uang ini dirampas dan kemudian mereka disiksa secara sadis sekali tanpa menghiraukan rasa perikemanusiaan.


Bukit Talao, di lereng ini tempat pembunuhan oleh tentara Sukarno dan OPR

Akhirnya setelah disiksa mereka disandarkan ke tebing di pinggir jalan di nagari Talao barulah diberondongi dengan senjata api.
Ketujuh orang ini tewas di tempat itu juga.

Salah seorang yang tertangkap orang Situmbuak bernasib baik.
Dia berhasil melarikan diri, dan nekad melompat ke jurang Yang dalam walaupun diberondongi tembakan.
Tuhan masih menyelamatkan jiwanya, dan beliaulah yang menyaksikan langsung peristiwa tragis yang dialami oleh warga nagari Rao-Rao yang menjadi korban penembakan di Talao itu.

Kita semua tak perlu ragu
pelajaran penting dari masa lalu
ketika Soekarno bertindak keliru
rimba dan hutan telah membantu

Kini hutan banyak dirusak
oleh kepentingan berbagai pihak
termasuk pejabat bersifat tomak
harus dilawan wajib ditolak

Kemudian salah seorang anggota OPR yang ikut operasi meliter datang ke Rao-Rao memberi tahu supaya menjemput mayat-mayat yang bergelimpangan di Talao tersebut.

Penduduk yang tidak ikut ijok pergi menjemput dan membawa ketujuh jenazah itu dalam keadaan yang sangat menyayat hati bagi yang mempersaksikannya.
Pada sore sampai malam hari itu juga, ketujuh jenazah ini setelah di shalatkan langsung dikebumikan di masing-masing pekuburan keluarga.

Kejadian ini menggemparkan masyarakat Rao-Rao yang kebetulan sangat ramai di kampung.
Inilah salah satu peristiwa yang tragis yang tak bisa dilupakan oleh penduduk Rao-Rao.
Khususnya bagi keluarga korban yang kehilangan suami, ayah dan anaknya.
Mereka diperlakukan secara kejam oleh bangsa sendiri ketika perang saudara.

Belum lagi penderitaan batin akibat dari tekanan dari penguasa.
Fitnah, propokasi dan intimidasi juga berkembang sehingga orang tidak lagi enak dan nyaman tinggal di kampung sendiri.
Buktinya pada waktu itu mudah saja orang diambil oleh OPR kalau tak ada penjamin dari pihak yang berkuasa maka orang tersebut bisa saja hilang tak tahu rimbanya kalau meninggal tak tahu kuburannya.

Nagari Rao-Rao diduduki Tentara Pusat

Pada bulan Maret 1960 diadakan operasi militer terakhir ke Rao-Rao.
Pada hari itu juga resmi nagari Rao-Rao jatuh ke tangan tentara pusat yang berjumlah satu atau dua kompi, semuanya kira-kira 200 orang.
Tempat-tempat stategis dijadikan pos pengamanan yang ditempati 15 sampai 20 orang serdadu pusat.

Selain kantor Wali Nagari juga rumah-rumah penduduk yang ditinggal kosong ditempati oleh mereka.
Termasuk beberapa buah surau dijadikan pos pengamanan.

Perbatasan nagari seperti Banda Gadang, Gudang , Surau Sungai Luang, Ikue Koto, Bukik Kaciek dan Sibunbun didirikam pos pengamanan.
Kedua Bukik ini dibersihkan dan digunduli yang mengerjakan adalah penduduk nagari dengan istilah sadar ba nagari dilakukan secara gotong royong tiap hari Rabu dan Sabtu.

Yang menjadi Kepala Nagari ialah Pelaksana Pemerintahan Nagari (PPN) adalah Zainal Abidin dengan pembantu-pembantunya yaitu : Lutan dan Achmad Nawi.

Sebelum Zainal Abidin yang menjad Wali Nagari Rao-Rao adalah Amir Syarif, sebagai pengganti Anwar May yang kemudian diangkat sebagai Camat P.R.R.I.
Amir Syarif tidak lama memerintah karena terpaksa ijok jauh ke Lintau terus ke Unggan dan akhirnya pada tahun 1960 beliau meninggal di daerah itu.

Pada permulaan pemerintahan Zainal Abidin, maka pulang pula tokoh masyarakat Rao-Rao yang di Payakumbuh yaitu A. Bakar Rasyidin dan Ilyas Intan.
Sejak itu makin ramailah pembantu pelaksana pemerintahan.

Kepala Nagari Zainal Abidin aktif sekali menjalankan roda pemerintahan.
Hampir setiap Jumat beliau berpidato di masjid minta rakyat membantu pemerintahannya.
Akan tetapi pada zaman pemerintahan beliau pula terjadi peristiwa penculikan, hilangnya anggota masyarakat dan ada yang meninggal dunia tidak tahu kuburannya.

SMA dan SMP Penampung ditutup

SMA dan SMP Penampung, terhitung sejak bergantinya penguasa dari P.R.R.I ke pemerintahan yang dipimpin oleh Zainal Abidin, maka sejak itu sekolah SMA dan SMP Penampung tidak lagi melaksanakan tugas belajar dan mengajar.

Berarti umur SMA dan SMP Penampung di Rao-Rao di zaman P.R.R.I hanya dua tahun yaitu dari Maret 1958 sampai Maret 1960.
Pengumuman secara resmi tidak dilakukan, namun semua guru dan murid sudah memaklumi sendiri situasi tidak mengizinkan.
Sebagian besar guru-guru dan Pengurus SMA-SMP Penampung tanpa diberi komando sudah bertemu saja di nagari Lintau.

Penulis sendiri ikut exodus dengan teman-teman sejawat yang lain seperti Amir Bahar, Yusuf Samah, Fahmi Mahyuddin, Sofyan Syarif, Rusli Muhammad, Muchtar Syarif.
Dan juga sebagian besar murid-murid yang duduk dikelas terakhir tidak tinggal diam di nagari seperti Daud Ersal, Bustami Gani, Ruslan Muhammad, Azwar Hamid dan sebagainya.

Akhirnya semua guru, pengurus sekolah dan murid-murid tidak bisa berlama-lama di nagari orang.
Mereka kehabisan biaya perjalanan.
ijok masuk hutan dan keluar hutan sudah barang tentu memerlukan dana yang banyak

Penduduk Rao-Rao Ijok ke Lintau

Lintau adalah satu-satu kecamatan di Tanah Datar yang terakhir sekali diduduki oleh tentara pusat.
Pusat pemerintahan P.R.R.I bukanlah Lintau akan tetapi instansi pemerintah yang mengungsi banyak di temui di kecamatan ini.

Antara lain kegiatan Departemem P dan K terletak di Lintau, oleh sebab itu kegiatan sekolah-sekolah terdapat disini seperti SMP dan SMA Negeri tetap belajar meskipun keadaan negeri dalam situasi perang.

Fakultas Hukum Universitas Andalas juga tetap melangsungkan kuliahnya dan ujian sarjana seperti biasanya dilakukan di waktu masa damai.

Didudukinya nagari Rao-Rao oleh tentara pusat dan terbentuknya pula pemerintahan dibawah Wali Nagari PPN Zainal Abidin membawa perubahan besar bagi kehidupan sosial masyarakat Rao-Rao.
Bagaimana tidak, masyarakat Rao Rao dari hari pertama lahirnya P.R.R.I bertekad berjuang bersama-sama mendukung perjuangan.

Konsekwensi logisnya jika Rao-Rao diduduki maka para pedagang dan masyarakat yang dahulu pulang, kini mereka kembali mengungsi pergi meninggalkan nagari.
Mereka pergi jauh bukan untuk satu dua hari seperti sediakala, mungkin lebih lama.
Tujuannya bukan lagi kearah gunung Merapi, akan tetapi ke nagari yang belum diduduki tentara Pusat yaitu daerah Lintau dan sekitarnya.

Untuk pergi ijok menyelamatkan diri ke Lintau, kita harus melewati beberapa nagari, di mulai dari Kumango, Sumaniak, Sungayang, Tanjung Sungayang, Pato baru sampai di Lintau kira-kira 35 km dari Rao=Rao.

Daerah Lintau tidak asing bagi orang Rao-Rao, karena daerah ini adalah juga tempat orang pergi merantau jauh sebelum zaman P.R.R.I.
Ketika P.R.R.I, tempat tinggal orang Rao-Rao tersebar di beberapa nagari, seperti Lubuk Jantan, Balai Tangah dan Pangian.
Para pedagang besar Rao-Rao pergi ijok ke Lintau seperti H.Ahmad Saruji, Zainal Abidin Sara, Hamzah Harun dan tokoh agama H. Abdurrahman May serta puluhan tokoh-tokoh masyarakat Rao-Rao yang lain ikut berbondong-bondong, akan tetapi penulis lupa nama-nama mereka.

Ketika perang usai sebagian diantaranya ada yang langsung melapor ke Padang atau Jakarta, selanjutnya sejak peristiwa itu mereka banyak menetap di Jakarta.
Banyak pula dari Lintau ini orang Rao-Rao menyelamatkan diri ke propinsi terdekat seperti Riau dan Jambi.

Ijok Sampai Ke Unggan, Durian Gadang dan Sumpur Kudus Pertengahan tahun 1960.
Sudah lebih dari sebulan nagari Rao-Rao diduduki oleh tentara Pusat dan pemerintahan nagari ditunjuk Pelaksana Pemerintah Nagari Zainal Abidin.
Pemerintahan dibantu oleh Lutan, Ahmad Nawi dan Hasan Basri, kemudian datang dari Payakumbuh Abu Bakar Rasyidin terkenal dengan panggilan Bakar Baradai dan beberapa orang OPR yang berasal dari nagari Rao-Rao.
Mereka inilah yang menjalankan roda pemerintahan nagari sejak P.R.R.I meninggalkan Rao-Rao.

Tentara Pusat menempati Surau surau di nagari

Jumlah tentara Pusat lk. 2 kompi (sekitar 200 sampai 250 orang), semuanya mendiami nagari Rao-Rao .
Kini semua surau di Rao-Rao ditempati, dan di sanalah mereka makan minum, serta MCK.

Penduduk yang biasa pergi ke sungai dan pancuran untuk mandi kini merasa takut, apalagi kaum ibu memilih biar dilakukan di rumah saja.
Kaum laki-laki terpaksa memberanikan diri untuk ke sungai.
Selain dari surau, adapula rumah-rumah kosong yang ditinggalkan penduduk ditempati tentara tsb.

Selama tentara menduduki Rao-Rao maka selama itu pula kami yang berjumlah ratusan orang yang terdiri dari berbagai profesi pegawai negeri, mahasiswa , pedagang, ulama, murid dan guru berada di nagari orang, pergi ijok ke Lintau dan nagari-nagari sekitarnya.

Dapat dibayangkan sangat ramainya pengungsi mendatangi Lintau, yaitu orang-orang yang berasal dari berbagai nagari di kabupaten Tanah Datar,.... orang-orang yang ingin menyelamatkan nyawa dari kekejaman tentara pusat.

Bagi orang Rao-Rao yang tidak bisa dilupakan dan menjadi trauma ialah peristiwa beberapa bulan yang lalu yaitu tujuh orang rakyat biasa petani atau pedagang kecil ditembaki secara sadis di daerah Situmbuak.
Mereka yang ijok sekarang ini kebanyakan berstatus pegawai negeri, mahasiswa dan pedagang yang bukan beraliran kiri (Komunis).

Sudah biasa bahwa dalam situasi yang membingungkan dan panik itu banyak pula tersiar isu atau berita-berita dari orang ke orang.
Kabarnya tentara yang di Batusangkar dan Payakumbuh akan melancarkan operasi besar-besaran ke Lintau yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.

Berita ini sampai kepada masyarakat Rao-Rao yang ada di Lintau.
Mendengar berita ini orang Rao-Rao yang ijok di Lintau pecah dua ada yang akan lari lagi ke arah Sumpur Kudus, Durian Gadang, Unggan, Santo Lawe dan sebagainya berarti sudah ke propinsi Riau dan sebagian lagi berpendapat lebih baik kembali saja ke kampung halaman apapun terjadi itu adalah kampung kita.

Penulis dan beberapa teman yang lain seperti Fahmi Mahyuddin, Rusli Muhammad, Hamzah Harun, Ruslan Muhammad, Yusuf Samah, Abdurrahman May, Amir Bahar, Syofyan Syarif, Syofyan Zen dan banyak yang lain memilih biarlah pergi menyelamatkan diri ke negari orang lagi dari pada nanti kalau pulang kampung akan terjadi hal-hal yang tak diingini.

Oleh sebab itu kami sampai ke nagari yang jauh masuk hutan keluar hutan sampai ke kenagarian Durian Gadang, Unggan dan Sumpur Kudus dan nagari-nagari lain yang tak bisa diingat lagi namanya.
Pada hal waktu itu Lintau masih aman dan tenang saja belum ada operasi meliter yang diarahkan ke daerah itu.
Untuk itu kami kembali saja ke Lintau karena masing-masing sudah lelah dan yang penting bahwa dana untuk perjalanan jauh sudah mulai menipis.

Sepucuk Surat Kecil Dari Kampung

Beberapa hari kemudian setelah shalat Asyar di suatu surau di Lintau pada hari itu Senin.
Senin adalah hari pasar di nagari Sungayang.
Sore harinya penulis didatangi seseorang menyerahkan satu surat yang dimasukkan kedalam kotak korek api.
Orang itu menunggu sampai kami selesai membaca surat itu.

Saya buka surat itu jelas sekali tulisan itu adalah tulisan abang kandung saya Anwar Mahyuddin yang isinya: ....Adinda Suardi, Agus dan Fahmi.
Jangan ragu-ragu cepat pulang kami menunggu !
Surat itu ditanda tangani oleh Anwar Mahyuddin dan Assad Mahyuddin.

Saya terhenyak dan kurir itu mengatakan kalau ingin pulang bersama dia saja sampai di Sungayang hari Senin depan di sana sudah ada yang menunggu bapak katanya.

Isi surat ini kami rembukkan dengan Anwar May dia mengatakan kalau kalian mau pulang tak apa-apa dia setuju saja, kalau beliau diajak tidak mungkin karena dia adalah Camat P.R.R.I.

Setelah shalat Istigarah dan berdoa kepada Allah minta perlindungan kami bertiga mengambil keputusan berangkat ke Tanjung Sungayang hari Senin yang sudah ditentukan.

Siang hari kami sudah sampai di Tanjung Sungayang nagari ini baru dikuasai oleh tentara pusat tapi kami masuk nagari ini tidak diperiksa.
Kata orang karena hari ini hari pasar, jadi tak ada pemeriksaan, kalau diperiksa agak repot juga karena satu surat keteranganpun tak ada ditangan.

Kami dipertemukan orang Rao-Rao oleh kurir tadi, rupanya yang menjemput kami ialah kakak Naro janda abang kami yang benama Jamirin Sutan Adil.

Untuk terus ke Rao-Rao melalui nagari Sumanik dan Kumango kami diajari oleh kak Naro nanti kalau ada pemeriksaan di jalan beri tahu saja,..... baru saja dari pasar mau pulang ke Rao-Rao.

Setelah sampai di Rao-Rao di rumah kak Naro kami disambut abang kami Anwar dan Assad dan beberapa orang tua seperti A. Muluk Sutan Saripado dan ada yang lain kemudian terus ke Kantor Kepala Nagari.

Di sinilah kami diperiksa agak mendalam oleh Kepala Nagari, Ahmad Nawi dan Hasan Basri.
Pokoknya kami dianggap pemberontak tetapi syukur kalian cepat sadar katanya.

Yang penting kita sabar dan tebalkan saja kuping kita mendengar makian atau penghinaan, .... kalau tidak demikian kita bisa terpancing .
Anggap saja pemimpin kita di kampung waktu itu seperti katak di bawah tempurung.
Rupanya kepulangan kami yang bertiga itu menjadi dorongan bagi teman-teman yang masih di Lintau untuk pulang .

Secara berangsur-angsur setiap hari ada saja yang melapor pulang dari ijok.
Demikian suka duka pengalaman selama masa perang saudara di kampung halaman.
Tidak sampai sebulan penulis memperoleh Surat Jalan tanpa punya KTP agar bisa berangkat dari Rao-Rao dulu.
Penulis terus ke Payakumbuh dan Pekanbaru.
Beberapa bulan kemudian baru ke Medan melanjutkan pelajaran disana.

Nama-nama Murid SMA dan SMP Penampung P.R.R.I di Rao-Rao.

Arsip nama-nama murid biasanya tersimpan di kantor sekolah atau rumah Kepala Tata Usaha Sekolah.
Kami hanya sebagai guru di sekolah itu tidak menyimpan daftar nama-nama murid tersebut.

Situasi darurat yang membuat panik masyarakat menyebabkan semuanya ingin menyelamatkan diri karena operasi meliter mendadak muncul di nagari.
Oleh sebab itu tidak bisa mencari dimana tersimpan daftar nama itu .

Oleh karena ada niat kami untuk menulis sejarah sekolah zaman P.R.R.I ini kami terpaksa mengingat sepanjang yang bisa terekam dalam ingatan .
Mengingat kembali peristiwa dan nama-npa murid yang dikenal pada tahun 1958 atau kira-kira 53 tahun yang lalu, lebih setengah abad yang lalu memang susah sekali.

Nama-nama ini dapat terkumpul atas bantuan istri sendiri karena kebetulan beliau bekas murid di sekolah itu dan juga bantuan teman-teman yang ikut terlibat pada masa P.R.R.I itu.
Itupun tidak semua hanya nama-nama yang berasal dari nagari Rao-Rao saja, dari luar hanya beberapa orang saja.

Antara lain nama murid SMA dan SMP Penampung Rao-Rao adalah sebagai berikut:

1. Hilman Mahyuddin,
2. Herman Saleh,
3. Saharman Rasyid,
4. Azwar Hamid,
5. Ruslan Muhammad,
6. Atri Muchtar,
7. Buchari Ibrahim,
8. Ismed Hamid,
9. Irfan Basyar,
10. Suhaimi Rahman,
11. Fauzi Baharuddin,
12. Nazir Jamal,
13. Agustam Mahyuddin,
14. Yusmal Rayid,
15. John Jumin,
16. Asril Idrus,
17. Syafril Nazar,
18. Azwar Rasul,
19. Chaidir Has,
20. Alizar Johan,
21. Alizar Jamal,
22. Daud Ersal,
23. Bustami Gani,
24. Basyaruddin Zainuddin,
25. Farida Mansur,
26. Nuraini Rasyidin,
27. Zuhairah Jakfar,
28. Rosliana Syarif,
29. Maryulis Syam,
30. Yusniar Hamid,
31. Chairani Muhammad,
32. Fariha Husein,
33. Kartini Bahar,
34. Rosni Agus,
35. Gusnimar Abdullah,
36. Ratna Wilis Mansur,
37. Wasti Darwis,
38. Marnistati,
39. Maharani,
40. Rasyidah Rasyid,
41. Haidar Mahyuddin,
42. Yuniar Jalal,
43. Darmis Syamsuddin,
44. Mihirma Rasyid,
45. Yusraini Abdullah,
46. Syamsinar Bahar,
47. Suwasti,
48. Masri,
49. Mansur Thaher,
50. Fahmi Madjid,
51. Yusri Thaher,
52. Nurman Zen,
53. Zulkarnaeni Bakar,
54. Suhaimi Ahmad,
55. Syamsuar Jakfar,
56. Achyar Thaher,
57. Fachri Ahmad,
58. Muchlis Madjid,
59. Fachri Noer,
60. Zulkarnaen Muhammad,
61. Suhaemi Saleh,
62. Emi Ilyas,
63. Suhaimi Rasyad,
64. Fahmi Rasyad,
65. Yuni,
66. Rukmini Rahman,
67. Rahma Rahman,
68. Syahril Rasyid,
69. Zulhelmi -Tiga Batur,
70. Mawardi -Tiga Batur,
71. Yardi - Sei Tarab,
72. Nurseha - Mandahiling Lawang,
73. Safni – Malintang dan seterusnya.

Yusuf Samah Bekas Guru SMA dan SMP Penampung diculik.

Pemerintahan nagari Rao-Rao dari P.R.R.I sudah diganti sejak bulan Maret 1960 dengan pemerintahan baru dibawah pimpinan PPN Kapalo Nagari Zainal Abidin.

Di zaman pendudukan tentara pusat ini terjadi lagi suatu peristiwa yang mengharukan dan menyedihkan penduduk nagari dimana sebelumnya telah terjadi pembunuhan tujuh warga Rao-Rao.
Kini terjadi lagi penculikan atas diri Yusuf Samah yang baru seminggu jadi penganten.
Duduk kejadian adalah sebagai berikut:

Sekitar akhir tahun 1960 Yusuf Samah dipanggil ke kantor Kepala Nagari dari rumah istrinya di Caniago pada hari Jumat, sebelum jumatan.

Alasan pemanggilan tidak disebutkan oleh yang memanggil,....cuma Yusuf mesti datang ke kantor Kepala Nagari pagi hari Jumat itu.

Pada hal sehabis shalat jumat semua ninik mamak dan urang sumando se Caniago sudah diundang untuk menghadiri jamuan makan dalam rangka pesta perkawinannya.
Sejak hari itu beliau tidak pernah pulang lagi, hilang tak tahu rimbanya, meninggal tidak tahu kuburannya.

Istri Yusuf namanya Nismar Hamid kakak kandung dari Azwar Hamid dan istri penulis sendiri.
Hampir setiap hari istrinya datang ke kantor Kepala Nagari menanyakan keadaan suaminya yang masih berada di kantor Kepala Nagari.

Akan tetapi Kepala Nagari tidak mau memberikan keterangan apa pun.
Beberapa hari kemudian ada kabar bahwa Yusuf sudah berada di suatu rumah tahanan Sei Tarab.

Mendengar berita demikan si istri pun datang berkunjung kesana.
Seorang perempuan Rao-Rao behasil mempertemukan kedua insan ini akan tetapi diizinkan berbicara sebentar.

Setelah beberapa kali kedatangan istrinya kesana lantas suaminya mengatakan agar istrinya tidak usah datang lagi karena akan menyulitkan dia nanti dan juga akan menyusahkan istrinya bolak balik ke Sei Tarab.
Namun keesokan harinya istrinya datang juga akan tetapi sejak hari itu suaminya tidak pernah ketemu.

Ada seseorang lelaki yang selalu memperhatikan Yusuf ambil wuduk untuk shalat subuh.

Sarung Yusuf dipakai orang lain
Subuh ini dia tidak melihat Yusuf, akan tetapi dia amat terperanjat karena sarung yang biasa dipakai Yusuf telah dipakai orang lain yang tak dikenalnya.

Dia berfirasat bahwa barangkali Yusuf sudah dihabisi atau dihilangkan karena sarung yang biasa dipakainya sekarang sudah dipakai orang lain, tetapi pikirannya itu tidak diberitahu kepada istrinya Yusuf.

Rumah Penjara Batusangkar juga sudah didatangi istrinya melalui penjaga penjara mengatakan tak ada yang bernama Yusuf disana.
Ada juga saudara kandung Yusuf yang bernama Alimin ikut mengurus penangkapan adiknya di kantor Kepala Nagari maupun di Sei Tarab akan tetapi tidak berhasil.

Waktu peristiwa penculikan Yusuf penulis sendiri sudah lebih dulu menyelamatkan diri ke Medan.
Cuma yang teringat penulis mengenai Yusuf sewaktu mendengar berita duka itu bahwa Yusuf Samah waktu menjadi guru SMA Penampung beliau agak lebih aktif.

Dalam upacara HUT 17 Agustus 1958 yang diadakan di Balai Satu dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pelajar beliaulah yang tampil di podium sebagai pembaca Piagam Dewan Perjuangan ...... Pernyataan Kolonel A. Husein mengenai terbentuknya P.R.R.I.

Saya tidak mengetahui kalau hal itu sebagai penyebab penculikan saudara Yusuf.
Yusuf adik kelas penulis di SMA Negeri Bukittinggi.
Kemudian beliau masuk PTPG Batusangkar.
Ada beberapa orang Rao-Rao yang sama dengan beliau di PTPG Batusangkar antara lain Husni Rasyid yang kini kita kenal Prof Husni Rasyid Datuk Paduko Sinaro dosen Unimed Medan, alm. Drs. Abu Bakar Jamal, dosen di FKIP Padang dan Drs. Syamsuddin Rahman guru juga di SMP Penampung Rao-Rao, kini sebagai pengusaha sepatu dikenal dengan Toko Baliko di Bandung.

Semuanya mahasiswa dari Prof. Zainuddin Sutan Kerajaan pimpinan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar.
Profesor ada di tempat pengungsiaannya di Talang Dasun Pasir Laweh.
Kami bersama alm. Yusuf Samah dan Syamsuddin Rahman pergi berkunjung ke tempat Profesor itu, beliau senang sekali kami buka sekolah di Rao-Rao.

Kemudian setelah tempat ijoknya sudah ada yang mengetahuinya cepat-cepat beliau pun pindah dari tempat itu karena ternyata tempat itu tidak lagi steril.

Arif Fadila dan Idris Pak Datuk juga Hilang tidak tahu rimbanya, mati tidak tahu kuburannya

Ada lagi orang Rao-Rao yang hilang baik masa pendudukan maupun sebelum pendudukan tentara Pusat.
Arif Fadila suku Mandahiling Mudik umur kira-kira 30 tahun pekerjaan pedagang.
Kejadian ini sebelum Rao-Rao diduduki tentara pusat.
Beliau berangkat dari rumah istrinya di Bodi mau ke Padang melalui Batusangkar dan Padang Panjang.

Dalam perjalanan ke Padang itu, orang memperkirakan dia hilang, karena harus melalui pos-pos tentara yang banyak dan seringnya operasi militer sewaktu itu.
Jadi peristiwa hilangnya Arif Fadila ini bukan di Rao-Rao.

OPR menghilangkan jejak pembunuhan Malin Maradjo
Berlainan dengan Idris, Pak Datuk Kota Kaciek umur sekitar 30 tahun, pekejaan sopir, peristiwanya terjadi setelah tentara pusat menguasai nagari.
Kejadiannya sewaktu Malin Marajo Kumango Pendekar Silat itu ditangkap oleh OPR.
Kami tak ingat di daerah mana beliau ditangkap akan tetapi mobil yang membawanya melewati Balai Sabtu Rao-Rao.

Mobil berhenti di jalan arah ke Batusangkar karena melihat Idris Pak Datuk sedang berada di perjalanan.
Beliau disuruh naik mobil untuk mejadi sopir mobil itu.
Jadi beliaulah menjadi sopir mobil yang ditompangi Malin Marajo tersebut.

Sejak berita penangkapan di perjalanan itu tidak ada lagi kabar mengenai Idris Pak Datuk ini.
Diperkirakan orang, bahwa untuk menghilangkan jejak cara menghilangkan Pendekar Silat ini, maka mereka sama-sama dihilangkan saja di tempat yang sama pula.

Posisi Beberapa Bekas Murid SMA dan SMP Penampung Rao-Rao.
Sekolah SMA dan SMP Penampung yang lahir di Rao-Rao di zaman P.R.R.I pada Maret 1958 karena terpaksa keadaan harus ditutup Maret 1960.
Sekolah ini telah mempersatukan dan mempererat hubungan silaturakhim masyarakat dengan nagari tetangga yang diwakili oleh pelajar-pelajar yang datang belajar ke Rao-Rao.

Seperti nagari Tabek Patah, Malintang, Salimpaung, Mandahiling Lawang, Situmbuk, Komango, Pasir Lawas, Sei Tarab dan Tiga Batur.
Semua murid lebih kurang 150 orang.

Jarak waktu sudah lebih setengah abad itu, menyebabkan kami tidak mengetahui keadaan murid-murid ataupun mantan guru-guru sekarang ini, tentu diantaranya sudah ada yang mendahului kita menghadap Chaliknya.

Namun demikian kenyataannya yang kami ketahui bahwa ada diantara bekas murid-murid sekolah tersebut disamping telah berfungsi sebagai pengusaha swasta maupun sebagai pedagang seperti yang ada di Jakarta, Bandung dan Pekanbaru.

Banyak juga yang telah menyelesaikan pendidikan dalam berbagai bidang disiplin ilmu, malahan sudah memperoleh gelar S1, S2 atau S3 yang berkiprah sebagai pegawai negeri maupun wiraswasta.
Antara lain seperti berikut:

1. Prof. Dr Hilman Mahyuddin Sp.BS. Rumah Sakit Cipto Jakarta,
2.Drg. Herman Saleh,
3.Dr. Saharman Rasyid Sp.A.,
4.Dr. Mihirma Rasyid,
5.Syafril Nazar SH,
6. Ir. Atri Muchtar,
7. Alizar Johan Akademi Geologi Bandung,
8. Ruslan Muhammad Akademi Penilik Kesehatan Surabaya,
9. Asril Idrus SH. Advokat dan Penasehat Hukum,
10. Alm. Azwar Hamid Kasubdit Penyiaran TVRI Jakarta,
11. Alm. Yusmal Rasyid Sarjana Muda Ekonomi Nomensen Medan,
12. Alm. Ir.Fahmi Rasyad Pegawai Pertamina Jakarta,
13. H. Buchari Ibrahim Kepala Koperasi Nasional Malaysia,
14. Yardi SH Dosen Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta Padang
15. Mawardi, camat pda salah satu kecamatan di Medan,
16. Nurseha Mandahiling Lawang Guru SMA Negeri III Padang.
Terakhir jadi nyonya alm. Anis Jakfar guru SMA dan SMP Penampung Rao-Rao.


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org