Halaman ini sudah dilihat oleh: 1726 orang,




Syafruddin Prawiranegara
Pengalaman Salviyah Prawiranegara Yudanarso (Pipi) mengikuti Ayah
ditulis oleh: dryuda42@gmail.com

Bukan lagi anak Menteng


Mereka terpaksa patuh, saat diberi tahu, bahwa sebentar lagi akan memasuki hutan yang penuh Pacet dan Lintah.
Baru membayangkan saja, Pipi sudah bergidik, ngeri bercampur geli…
Mengenal Pipi, ternyata memberikan banyak tambahan pengetahuan.
Antara lain tentang bagaimana lika-likunya perjalanan hidupnya saat belajar, termasuk belajar bagaimana agar survive hidup dalam hutan, yang alhamdulillah ternyata berakhir dengan memuaskan.

Setelah beberapa lama bermukim di Bukittinggi, keluarga Pipi memutuskan untuk pindah ke desa Baruhgunung, desa paling utara Sumatera Barat, di tepi hutan.
Di sini Pipi dan saudara-saudaranya sempat juga sekolah.
Desa ini walau kecil, tetapi masyarakatnya penuh kedamaian.
Tetapi, pada suatu ketika, ayah Pipi dan beberapa pemimpin lain memutuskan untuk keluar dari desa Baruhgunung secepat mungkin, karena situasi keamanan telah terasa makin hangat.

Semua anak-anak diminta membawa sendiri pakaian seperlunya saja, yang umumnya cukup dengan hanya satu tas punggung.
Ibunya Pipi, juga mengingatkan agar ada seperangkat pakaian bagus dari masingmasing anak harus dibawa serta; maksudnya adalah kalau terpaksa suatu saat harus menyerah, maka ibunya Pipi menghendaki agar memakai pakaian tersebut.

Beliau tidak menginginkan mereka terlihat berpakaian compang-camping di saat demikian.
Mereka diantar oleh masyarakat sampai tepi desa.
Mereka tahu ke arah mana rombongan akan menuju, yaitu hutan belantara di utara.
Warga yang tahu jalan dan merasa cukup kuat, serta merta mengajukan diri untuk mengantar, sambil membantu membawa barang-barang keperluan rombongan, antara lain persediaan makanan sumbangan masyarakat.
Pak Wali Nagari-pun termasuk di dalamnya.
Setelah melewati kebon, sawah, dan menyeberangi beberapa sungai kecil, mulailah memasuki jalan yang makin terpencil dan seadanya.

Satu persatu, mereka yang niatnya hanya mengantar sekedarnya, pulang kembali ke kampung.
Tetapi, masih cukup banyak yang siap meneruskan perjalanan, karena seiasekata terhadap tujuan perjuangan politiknya, termasuk beberapa mahasiswa dan sarjana yang masih muda usia.

Kalau malam tidur di dangau-dangau milik petani, dan makan apa adanya.
Rombongan terpaksa di pecah-pecah menjadi rombongan kecil-kecil, yang mungkin antara lain untuk memudahkan perjalanan dan meningkatkan keamanan.
Bahkan, kadang-kadang keluarga terpaksa berpisah dengan ayahnya untuk lebih menjamin keselamatan.
Dalam hal demikian, perencanaan perjalanan menjadi penting dan lebih dinamis, walau sedikit ruwet (complicated).
Komunikasi hanya dapat dilakukan melalui kurir.

Jangan dibayangkan, komunikasi pada saat itu secanggih sekarang.
Untuk menghindari pelacakan, sering pula harus naik rakit buatan seadanya, yang mengikuti arus sungai.
Perjalanan terus ke utara, memasuki hutan belantara yang sangat lebat dan kadangkadang memang diselingi oleh belukar yang rimbun.

Dalam kegelapan malam di gunung, tentu saja udara terasa sangat dingin, dan kalau tidur terpaksa berbalut apa saja yang ada agar terasa hangat.
Tetapi, ternyata dengan cepat Pipi dan saudara-saudaranya dapat menyesuaikan diri dengan dinginnya malam.
Beruntung, seluruh keluarga memang termasuk mereka yang mudah tidur.

Pengorbanan sang Ibu untuk perjuangan
Memasuki hutan yang masih belum pernah dijamah orang, bukanlah hal yang mudah.
Untuk lewat saja, harus membuat jalan terlebih dahulu dengan cara membabat ranting-ranting dan dedaunan.
Rintisan inilah yang ditapaki oleh rombongan beserta keluarganya.
Mereka biasanya berjalan mengikuti alur sungai.

Saat menemukan sungai kecil dan jernih yang pantas untuk bertahan hidup, maka barulah diputuskan untuk beristirahat dan membuat tempat berteduh dari kain terpal dan plastik atau kalau sekiranya akan lama berada di tempat itu, membuat dangau apa adanya.
Kadang-kadang, dalam perjalanan yang bagi sebagian besar anggota rombongan ini tidak mengetahui arahnya, juga terdapat tempat-tempat yang sangat sulit mendapatkan air, walau seteguk.
Ada jenis pohon-pohon tertentu yang meneteskan air di pagi hari, dan air ini dapat langsung diminum, sehingga merupakan kesempatan mendapat pelepas dahaga.

Pernah juga, ada pohon besar dengan diameter hampir dua meter, yang berlubang di tengahnya dekat dengan permukaan tanah; di lubang pohon ini meneteslah air terus menerus, dan dapat ditampung sebagai persediaaan perjalanan.
Tak henti-hentinya anggota rombongan bersyukur atas keajaiban ini.

Mungkin karena kecapaian mengawasi dan membantu delapan anaknya, termasuk yang paling kecil berusia tiga setengah tahunan, suatu ketika ibunya Pipi mengalami perdarahan banyak melalui rahimnya dan terpaksa ditandu.
Alhamdullillah, setelah dilakukan pertolongan darurat dan istirahat, tak lama kemudian telah segar kembali.
Beliau adalah seorang wanita tabah dan kuat, sungguh luar biasa sabar dalam pendampingan terhadap suami dan merawat anak-anaknya.

Pada suatu pagi yang cerah sebelum melanjutkan perjalanan, anak-anak diminta untuk mengolèskan tembakau yang telah dibasahi, ke seluruh tubuhnya.
Mereka juga diharuskan sedapat mungkin memakai pakaian tertutup sama sekali, dan dilengkapi dengan kaos kaki.
Mereka terpaksa patuh, saat diberi tahu, bahwa sebentar lagi akan memasuki hutan yang penuh pacet (pacat, yang jalannya meloncat-loncat) dan lintah (yang lebih besar dan jalannya merayap).

Baru membayangkan saja, Pipi sudah bergidik, ngeri bercampur geli, badan terasa panas dingin.
Apalagi saat satu persatu dari anggota rombongan mengalami sendiri digigit pacet dan lintah ini, mereka langsung ketakutan.
Beruntung, kalau segera ketahuan, karena usapan tembakau sangat membantu merontokkannya.
Memang pacet dan lintah ini dengan sendirinya akan jatuh, apabila telah puas menghisap darah.
Seluruh anggota rombongan ribut dan ingin segera melewati hutan ini.

Pipi begitu mengetahui ada jalan yang lebar di depannya, karena telah ditebas terlebih dahulu, dia langsung lari secepat-cepatnya, dengan harapan segera menjauh dari hutan ini.
Tetapi toh, suatu saat dia juga merasakan sendiri; saat mengetahui ada sebuah lintah yang menempel di badannya, maka dia berteriak-teriak ngeri.

Dia tidak dapat segera lari, karena lari berarti resiko lebih besar untuk tertempel pacet dan lintah lain yang berasal dari daun-daunan yang diterabasnya.
Pernah ada seorang anggota rombongan lelaki, yang saat akan mandi baru mengetahui, bahwa di pahanya telah ditèmpèli oleh lintah besar dan panjangnya hampir mencapai kelilingnya.

Tentu saja dia juga terkejut bukan main.
Setelah kejadian itu, perjalanan dilanjutkan kembali.
Tak berapa lama kemudian, memang pacet dan lintah ini makin jarang terlihat.
Semua orang bergembira, setelah tahu hutan demikian telah dilalui.
Rombongan beristirahat kembali di suatu tempat yang dianggap aman.
Di tempat lain, dalam perjalanan berkelana dalam hutan lebat, ada suatu tempat yang mirip dengan situasi hutan pacet ini.

Kali ini yang menjadi masalah adalah apa yang disebut Kutu babi.
Sebagai kutu, binatang ini memang kecil, sebesar kacang hijau, tetapi kalau sudah tertusuk oleh duri-nya, mungkin semacam paruh, maka rasanya gatal sekali.
Kutu ini dengan sigap terus menghisap darah dan baru jatuh setelah perutnya penuh.
Rasa gatal ini akan berlangsung sampai beberapa jam.

Kita tidak dapat menduga dari mana asalnya kutu ini, tiba-tiba sudah menèmpèl di badan.
Hutan yang penuh kutu ini tidak besar, dan setelah daerah itu berlalu, maka rombongan dengan tenang meneruskan perjalanan.
Setelah merayap naik sebuah bukit dan menuruninya, baik siang maupun malam, maka sampailah di suatu tempat dekat dengan sungai yang jernih airnya, mungkin cabang dari Sungai Sialang.

Rombongan ramai-ramai membuat dangau untuk tempat keluarga berteduh.
Beberapa hari kemudian, orangtua Pipi mulai menanam kacang, suatu tanda bahwa di tempat ini pasti semua orang akan berhenti cukup lama.
Sungai Sialang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di situ.
Pipi dan teman-teman menyenangi, dan memang harus menikmati perjalanan yang memperjuangkan apa yang diyakini benar ini.

Kalau malam tiba, menarik sekali untuk berjalan keliling, karena banyak dari jamur yang terlihat seperti menyala berkilauan, bahkan ada sebagian yang bersinar bak kunang-kunang di malam hari.
Jamur-jamur itu menampilkan pemandangan yang indah, mengingat langkanya sinar bulan di malam hari.
Bukan itu saja, bahkan di siang haripun sinar matahari sulit menembus ke tanah, karena rimbunnya hutan.

Tetapi di tempat lain, ada juga kejadian yang hampir serupa, yaitu munculnya binatang yang disebut kelemayi, binatang ini hampir seperti lintah kecil, tetapi kalau malam tampak dengan jelas, karena bersinar juga.
Binatang ini menyenangi hidup di dinding dangau rombongan, karena terbuat dari kayu basah yang dikupas kulitnya.
Yang dikhawatirkan adalah apabila binatang ini masuk ke dalam lubang telinga atau hidung saat kita tidur, karena dia menyenanginya.

Perjalanan diteruskan ke Utara
Rombongan terus berjalan ke arah utara, tampaknya sampai pada suatu lembah yang dimewahkan dengan sinar matahari.
Pada pagi hari, begitu matahari bersinar dan embun berkilau menetes dari dahan dan dedaunan, suatu pemandangan mentakjubkan terlihat di suatu pojok hutan.
Kupu-kupu aneka warna beterbangan dan memberikan suasana gembira pada anakanak; tak ketinggalan adik-adik Pipi.

Mereka semua lari ke sana dan ke mari sambil berteriak untuk menonjolkan keindahan kupu-kupu yang sedang jadi perhatiannya, besar atau kecil.
Mereka semua ingat kupu-kupu aneka warna yang telah dikeringkan dan dijual di pintu-pintu masuk kebun raya Bogor.
Ternyata kupu-kupu yang hidup jauh lebih indah, karena mereka menari-nari dan terbang ke segala penjuru tanpa arah tertentu.

Ada yang berwarna yang agak redup, tetapi lebih banyak warna-warna biru, kuning dan hijau cemerlang, atau kombinasi warna-warna itu.
Memang tempat ini tampak agak luar biasa, ada beberapa hektar barangkali.
Saat Pipi bercerita tentang daerah berkupu-kupu ini, langsung penulis ingat pengalaman di sekitar tahun delapan puluh limaan.

Pada saat diadakan kongres internasional para Ahli Penyakit Dalam di Palembang, Sumatera Selatan, ada seorang profesor dari Jepang yang secara khusus minta diantar ke hutan kupu-kupu seperti ini.
Beruntung ada mahasiswa anggota panitia yang mengetahui dan bersedia mengantar.
Walau untuk mencapainya bukan perjalanan yang mudah, tetapi sang profesor menyatakan sangat puas.
Pengalaman dan dokumentasi tentang hal itu, yang dibawanya kembali ke Jepang, akan merupakan kenang-kenangan berharga seumur hidupnya.

Bunga-bunga juga bermunculan memekarkan diri aneka warna, seakan ikut bergembira bersama kupu-kupu dan anak-anak dalam menyambut pagi yang cerah dan indah.
Di sela-sela rumput ilalangpun di daerah itu, bunga kecil-kecil memamerkan keindahan.
Seakan-akan tak mau kalah dengan bunga-bunga yang lebih besar di pohon-pohon besar, walau ada juga bunga merah kecil mungil yang muncul di suatu pohon yang besar.
Sangat sulit menggambarkan keaneka ragaman warnanya.
Bahkan, di tepi sungai terlihat aneka ragam capung, juga ikut memeriahkan pagi yang penuh keceriaan hewani dan nabati ini.

Semua bersuka ria menyambut pagi yang cerah.
Sebelum memasuki tempat ini, Pipi-pun menceritakan adanya bunga-bunga anggrek hutan di pohon-pohon.
Bunga anggrek aneka ragam ini didominasi dengan warna gelap kehitaman; walau tak jarang di sela-sela pemandangan demikian terlihat warna-warna yang lebih cerah, seperti ungu dan merah, bahkan putih.

Lumutpun mewarnai kehidupan pepohonan di tempat yang relatif lembab ini, dari yang warnanya hitam pekat sampai yang hijau muda berbinar sinar matahari yang sekali-kali memasuki tempat mereka.
Pipi sangat menikmati perjalanan di sisi kehidupan yang penuh dengan kegairahan hidup sebagai berkah dari Allah SWT ini.
Tak henti-hentinya dia mengucapkan syukur, bahwa di sela-sela perjalanan berat mengikuti orang tua ini, ternyata disajikan banyak hal yang di kota tidak mungkin mendapatkannya.

Dia bahagia berkesempatan mendampingi orang tuanya yang sedang berjuang demi cita-cita mulya dengan cara ini.
Mungkin ini yang disebutkan sebagai surga dunia, semua makhluk bersuka-ria.
Bertemu dengan Inyiak penunggu Rimba Rombongan terus menuju ke utara, ke dataran tinggi yang tampaknya hijau indah di sebelah atas sana, baik di bukit maupun di gunung, sangat mungkin hutannya belum pernah membaui keringat manusia.

Bertemu dengan Inyiak Belang
Pemandu jalan mengarahkan rombongan lebih ke arah kiri, sambil memperingatkan akan kemungkinan bertemu dengan hutan durian yang banyak dihuni kera, bahkan harimau.
Benar, setengah hari perjalanan sejak dia mengutarakan hal itu, tibalah di hutan durian.
Kembali kami semua bersuka-ria mencari durian yang bertebaran, ada juga beberapa orang anggota rombongan yang menunjukkan kebolehannya memanjat pohon.
Bahkan, ada beberapa anak yang bertarung dalam memanjat pohon durian dan mendapatkan durian yang terbaik.

Mereka bersemangat sekali untuk mendapatkan durian untuk dipetik bagi seluruh anggota rombongan.
Tiba-tiba, Chalid (adik Pipi) berteriak-teriak, .....Da Din…da Din…, mengapa lari?!..... (maksudnya Uda atau kakak Abidin/pengawal).
....Chalid cepat kembali ke istana.....… (sebutan Chalid untuk dangau keluarganya) !
....Ado inyiek....id! Cepat ke mari! (inyiek adalah sebutan bagi harimau).
Dengan patuh Cahlid mengikuti petunjuk pengawalnya, dia tahu, kemungkinan besar uda Din-nya membaui ada harimau di sekitar situ.

Bau Harimau untuk orang-orang yang telah terlatih dapat dicium lebih dari sepuluh meter jauhnya, karena amis atau sangit.
Ternyata benar, walau harimau betina itu tidak tergolong besar, saat dia muncul dari balik semak sungguh menakutkan.
Telah diketahui, bahwa durian juga merupakan makanan kesenangannya.
Sadar akan bahaya, orang-orang ribut dan menabuh apa saja yang didekatnya untuk mencoba mengusir harimau itu.

Benar, setelah menoleh ke arah datangnya bunyi-bunyian, dia terus melenggang pelan menjauhi kami dengan penuh rasa percaya diri.
Pernah di suatu tempat sebelumnya, Yazid - adik Pipi yang paling kecil, juga diteriaki pengawal, karena dia bermain-main dengan dua anak harimau yang baru lebih besar sedikit dari kucing.
Mereka terlihat lucu-lucu dan jinak, tetapi yang dikhawatirkan adalah emak-bapaknya yang setiap saat dapat muncul.

Saat malam tiba, di daerah yang demikian, anggota rombongan tidur saling mendekatkan diri untuk mengurangi resiko di terkam harimau.
Ada seorang pemuda yang sangat takut dalam situasi demikian, sehingga dia selalu minta tidur di tengah-tengah anggota rombongan lain.
Tiba-tiba pada suatu saat, dia ditemukan telah mati diterkam harimau di bagian kepalanya dan disèrètnya keluar dari tengah kumpulan anggota rombongan tidur...... kata orang, inyiek senang mengisap otak korbannya, dan tampaknya penemuan tentang nasib pemuda itu membuktikan kebenaran cerita itu.
Anak-anak tidak boleh melihat jasadnya.
Inna lillahi wa inna illaihi rojiun.
Pipi juga bercerita pengalamannya di suatu tempat yang ada sungai penuh dengan ikan.
Ikan itu seperti cendol laiknya.
Di tempat demikian, biasanya rombongan berhenti agak lama, karena sengaja melakukannya agar mengkonsumsi protein sebanyak-banyak, untuk bekal tenaga.
Bahkan, sebagian dipèpès dan dikeringkan untuk bekal perjalanan.
Walau di tempat lain, ada juga suatu sungai yang ikannya justru tidak boleh dikonsumsi semua patuh atas petunjuk itu.
Chalid sebagai laki-laki tertua dari saudara-saudaranya sering ingin menunjukkan kepiawaiannya bermain sumpit atau bahkan menembak ikan.

Pernah Pipi berteriak-teriak histeris, karena mendengar dan melihat adiknya asyik menembaki ikan dengan L.E yang ledakkannya memang keras dan mengerikan di keheningan hutan.
..... Hentikan…hentikan! Saya bisa mati ketakutan nih !.... Ayah…Chalid menembak nembak!
Tentu saja, teriakan ini membuat semua orang ribut, walau mereka juga telah mendengar bunyi letusan-letusan itu.
(Yang dimaksud senapan LE mungkin adalah senapan Lee Enfield buatan Inggris yang mulai diproduksi sekitar awal abad sembilan belas.

LE ini diproduksi dalam berbagai jenis, panjangnya sekitar satu meter lebih sedikit, dengan berat sekitar empat kilogram.
Senjata ini sangat berjasa untuk meramaikan perang dunia I dan ke II, utamanya dipakai oleh pasukan dari kerajaan Inggris, negara-negara Persemakmuran dan Thailand.
Total senapan jenis LE ini telah diproduksi lebih dari tujuh belas juta buah.
Sisa senjata itulah yang mungkin menemani Chalid bermain).

Datuk Ula menunggu kedatangan Rombongan Pemimpin
Pada suatu saat dalam perjalanan, dilaporkan akan memasuki daerah yang penuh ular.
Wauw…mengerikan sekali.
Rombongan, terutama anak-anak diberi petunjuk, agar kalau melihat ular tidak diganggu...... bahkan dianjurkan untuk diam saja, walau ular tersebut melintas dekat sekali.
Tak berapa lama kemudian memang satu-satu kita melihat kehadiran ular itu, baik saat melata tak jauh dari kita atau sedang berada di pohon dan ranting semak.

Saat pengawal menunjukkan pada Pipi adanya ular besar di pohon sebelah kanannya, dia merasa ngeri sekali, karena ternyata memang ular itu sebesar paha orang dewasa, sepanjang kira-kira empat meter.
Tampaknya, dia sedang bermalas-malasan, karena barangkali baru makan babi hutan.
Tak lama kemudian, rombongan menemukan tanda-tanda orang berkebun, dan satusatu pula melihat dangau dan rumah orang.
Orang yang kebetulan berpapasan, melihat dengan penuh perhatian kepada rombongan, dan ada yang terus lari.
Ternyata dia lari untuk melaporkan kedatangan kami kepada kepala kampung.

Tak berapa lama kemudian, rumah makin banyak dijumpai dan ada sekelompok orang yang tampaknya sengaja menyambut rombongan.
Selanjutnya, kami disilahkan untuk singgah ke suatu rumah seperti sebuah rumah gadang, yang tampaknya sering dipakai untuk balai pertemuan warga Kampung Ular ini.
Pipi memberi julukan kepala kampungnya dengan Datuk Ula(r).

Datuk Ula ini tampak gembira menerima rombongan tamu ini, mungkin sangat jarang mereka melihat orang-orang bertampang seperti kami ini.
Datuk Ula, serta merta menyajikan minum dan buah-buahan, seperti pisang, nanas, dan papaya, serta beberapa jenis tèrong hutan yang terasa sedap..... sejenis dengan tèrong de Kock yang kita kenal.
Minumnya disajikan di tempat yang terbuat dari bambu, sebesar gelas bir.

Rombongan mendapat pembagian rumah-rumah penduduk, yang telah disiapkan untuk menginap.
Kata Datuk Ula, kedatangan kami telah diketahui dua hari yang lalu, sehingga dia sempat mempersiapkan.
Chalid diberitahu oleh seseorang yang berasal dari kampung Ular itu, bahwa kemarin telah sekitar empat puluhan ekor ular dibunuh, baik besar maupun kecil, banyak yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai ular yang berbisa.
Itu semua dilakukan, atas perintah Datuk Ula untuk mengurangi bahaya bagi anak anak anggota rombongan.

Lebih lanjut, anak-anak dianjurkan untuk bermain di tempat yang agak lapang saja, khawatir di tempat yang bersemak atau pohon, ularnya tak terlihat oleh kami.
Beberapa kali, Pipi melihat ular melintas atau berjalan di pohon.
Benar-benar kampung ular.
Pada suatu dini hari, tiba-tiba Pipi mendengar teriakan dari tempatnya bu Bur, salah satu anggota rombongan.

Ternyata ada ular cukup besar masuk ke dalam dapurnya.
Semua orang akhirnya terbangun, dan melihat sekeliling tempat tinggalnya, jangan jangan diselipi oleh ular juga.

Sejak itu, kami tidur selalu dalam keadaan was-was.
Alhamdullillah, selama sekitar dua minggu di kampung ini tidak ada anggota rombongan yang digigit ular.
Chalid bercerita, bahwa dia dibawa seorang dari kampung itu untuk melihat sarangsarang ular, termasuk ke sebuah gua yang sebetulnya dapat dimasuki orang, tetapi jelas sekali banyak bekas-bekas ular keluar masuk ke dan dari dalamnya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Datuk Ula yang telah menerima kami dengan penuh kemewahan hutan.

Perjalanan lebih lanjut, memasuki perjalanan yang berat, utamanya bagi anak-anak, karena naik turun bukit, serta menyeberangi sungai, besar dan kecil.
Pernah, Pipi berteriak-teriak mengatakan ada: ...Ada ular besar! Ada ular besar! Ternyata, yang dilihatnya hanyalah sebuah akar pohon yang besar.

Sering anak-anak digèndong saat menyeberang sungai dan ditarik saat menaiki bukit.
Sesekali kesunyian hutan dipecahkan oleh kicau burung dan suara binatang lain.

Bahkan, Pipi pernah melihat burung merak jantan yang sedang menari-nari memperagakan keindahannya di hadapan yang betina.
Di waktu lain, juga menemui banyak burung enggang dengan suaranya yang khas.
Hutan makin tebal dan kalau malam gelap gulita.
Untuk menghemat minyak tanah, saat mengobrol diterangi upet saja, yaitu jalinan tali yang terbuat dari kulit pohon kering dan dibakar ujungnya dengan harapan baranya menjadi pengganti lampu, jadi penerangnya bukan berupa lidah api.
Upet ini juga mudah untuk dibawa kemana-mana sebagai sekedar penerang jalan.

Wanita wanita cantik di dalam Hutan
Pada suatu pagi, tiba-tiba ada pemandangan yang menarik mata laki-laki, karena melihat suatu suku di hutan itu yang wanitanya cantik-cantik, putih kulitnya, dan jalannya tegap.
Hebatnya lagi, mereka tak memakai penutup dada (braless).
Pakaian penutup bagian bawah badannya dibuat dari kulit kayu yang dikeringkan.
Mereka jalan tegap seperti peragawati, karena terbiasa membawa ranting-ranting kayu di atas kepalanya.
Rombongan juga singgah di kampung mereka yang sederhana.

Yang menarik adalah jendela rumah mereka, kalau terbuka, maka jendela dari rumah yang satu dengan jendela rumah di sebelahnya itu tampak sebaris.
Jadi kita dapat dengan mudah melihat jendela-jendela empat atau lima rumah berikutnya.
Pipi menceritakan, kecantikan wanita-wanita muda itu banyak yang bagai bintang film kesenangannya, yaitu Pier Angeli.

Walau itu adalah bentuk pengungkapan yang berlebihan, tetapi kita toh dapat mempercayainya, karena Pipi yang bercerita.
Di samping itu, tampaknya memang wanita-wanita ini senang kawin cerai; ada yang dengan bangga bercerita, bahwa suami temannya yang dia tunjuk, dulu adalah bekas suaminya.
Hebatnya lagi, bahkan ada wanita yang sempat menunjuk empat laki-laki yang kebetulan melintas, bahwa semua bekas suaminya.

Suatu suku yang pasti menarik bagi pecinta adat istiadat suku terasing (anthropologist).
Anak-anak yang lelaki sering mengomentari sambil menunjuk wanita yang lewat, bahwa wanita ini gadis, wanita yang itu sedang menyusui, atau yang ini nenek-nenek, hanya dengan melihat payudaranya.
Betul-betul selingan yang menarik mata para lelaki, dari anak sampai yang anggota rombongan yang tua.

Suatu pagi, hari yang istimewa bagi anak-anak
Di suatu pagi, ada yang istimewa, Pak Sjaf menyampaikan, bahwa seluruh anggota rombongan harus bersiap-siap untuk turun kembali ke kota, perjuangan telah dianggap cukup.
Kata Pipi, saat itu terlihat di saku baju ayahnya ada amplop surat dengan petanda dari Departemen Pertahanan, dan di amplopnya tertulis: Ayahanda tercinta.

Kami menyambut dengan berbagai tanggapan: yang gembira, karena dapat segera sekolah kembali
Yang tidak setuju mengungkapkan dengan agak histeris, bahwa .....kalau begitu, kita menyerah dong! Katanya kita akan menang!
Dengan lembut, ibunya Pipi menenangkan dan berhasil membuat dia dapat menerima dengan ikhlas.

Ayahnya mengatakan: ....Demi kebenaran, tak apa kita kalah…untuk menang! (di kemudian hari ketika disyahkannya undang-undang Otonomi Daerah, Pipi mengerti arti ucapan beliau itu).

Rasanya telah lama sekali kami berkelana, tanpa kepastian akan masa depan.... di sekitar hutan terakhir ini saja rombongan sudah kurang lebih setengah tahun.
Ibunya Pipi langsung memerintahkan anak-anaknya untuk bersiap-siap: .....Pakai pakaian yang bagus, jangan perlihatkan yang compang-camping.
Kita harus menunjukkan, bahwa kita tidak sengsara!
Yes, mum!.... kata Pipi singkat dengan gembira.
Disusul keributan saudarasaudaranya yang lain mempersiapkan pakaian untuk hari yang dinanti-nantikan.

Suatu keputusan telah diambil!
Pada saat itu, ternyata rombongan berkumpul di dekat desa Pinarik.
Pada siang hari, datanglah Pak Bachtiar, komandan Resimen, dikawal oleh beberapa Perwira dan tentara yang lain.

Beliau setelah memberi hormat pada ayah Pipi, kemudian memeluknya.
Pipi melihat tentara-tentara yang datang berpakaian dinas, berperasaan seperti melihat raksasa-raksasa gagah yang berbadan besar-besar.

Sungguh sulit diungkapkan, karena merekalah yang selama ini harus dihindari untuk bertemu di hutan.
Rombongan diminta bersiap-siap naik kendaraan militer malam hari.
Singkat kata, perjalanan malam hari itu berlalu sudah, dan dini hari kami sampai di kota Padangsidempuan.

Kami ditempatkan di rumah pak Aswin.
Besoknya, beramai-ramai masyarakat menyambut kami dengan membawa beras, baju, bahkan uang dan sebagainya, yang tampaknya diberikan dengan ikhlas.
Malam harinya, Pipi sekeluarga diundang untuk makan malam di rumah pak Bachtiar.
Terasa makanannya mewah dan uèènak, sekali, sangat lain dengan makanan di hutan.

Oleh pak Bachtiar, kami juga satu persatu diberi buku kecil berjudul MANIPOL USDEK dan berkata: ....Adik-adik, ini ada buku untuk dibaca, beginilah negara kita saat ini.
Kita tahu, bahwa buku itu bagian dari tugasnya untuk memberi pendidikan politik.
Memang, adalah suatu pengalaman hidup yang luar biasa indah dan aneka ragam saat…Pipi jadi orang utan.

Sudah terbukti ketika perang
tempat berlindung orang Minang
bukan di dataran tanah lapang
tapi dirimba hutan yang lengang

Kita semua tak perlu ragu
pelajaran penting dari masa lalu
ketika Soekarno bertindak keliru
rimba dan hutan telah membantu

Kini hutan banyak dirusak
oleh kepentingan berbagai pihak
termasuk pejabat bersifat tomak
harus dilawan wajib ditolak


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org