Halaman ini sudah dilihat oleh: 1473 orang,




Puisi untuk Ayah
Puisi untuk Ayah

Oleh: Dra. Salviyah Prawiranegara Yudanarso

ayah....
di usia Pipi sekitar 10 tahun itu...
Pipi menikmati didikanmu sebagai anak berbudi manis...
kau minta Pipi belajar menarikan jari sebagai pianis...
kau kembangkan kesenangan Pipi berkuda sebagai sais..
bahkan Pipi...kau haruskan tidak mudah menangis...
kau biarkan Pipi bersepatu roda bersama teman
ber-otopet ria berkejaran bersama kawan
dan bersepeda bagai seorang bangsawan
menjelajah halaman dan berkeliling taman...

ayah...
Pipi gembira bergaul bebas dengan anak tetangga...
sekolah SR di AMPRI...yang Chalid jadi peletak batu pertama
dan SMP PERWARI yang kau bangun dg penuh bangga
tak terukur rasa nurani ini... untuk berbahagia
kemudian ayah...hari itupun tiba...
kau ajak kami berlibur Natal ke Sumatera ke Palembang ayah,,, ya ke Palembang...

ayah...
mengapa kami semua harus bawa pakaian banyak
apa karena pertama kali kami naik pesawat layak
apa karena libur sekolah panjang yang berkhalayak

ayah...
kami menikmati...ke Pendopo naik pesawat kecil
yang juga memberikan keasyikan bagi adik-adik mungil
sebulan berlalu dengan waktu yg terus memanggil
Pipi harus di Xaverius melanjutkan pelajaran...
yang tak lama pula harus pula ditinggalkan...
sebelum Pipi mengembangkan pertemanan

selanjutnya ayah...
mengapa pula kami semua harus bawa pakaian seadanya
membawa mbok Sumi dan Ramiyem yang setia
menyeberang sungai Musi ke Kertapati
untuk ke Lubuklinggau naik kereta api...

kata ibu...pak Barlian-lah yang memerintahkan
mengapa pula kami malam-malam terus naik kendaraan menuju Bukittinggi,
....dulu ayah berjuang di sini, dan dipandu kapten Nawawi bersama isteri
... ternyata ini adalah awal PRRI

ayah...
mengapa kami harus masuk belantara
yang tinggal di dangau beratapkan ilalang
yang rentan terhadap gigitan binatang
yang malamnya hanya bertabur sinar bintang

ayah...
teh Icah berpisah dengan Aji Damey dan Angga
Pipi berpisah dengan Go Cang Nio dan Halimah
Pipi merindukan naik gallop Lord Lister kembali
Pipi ingin menarikan jari-jari bermusik kembali
Pipi mau main sepatu roda dan otopet kembali
Chalid belum terbang dari balkon yang dijanjikannya
Farid masih senang naik sepeda roda tiganya

ayah...
kasihan ibu saat berpisah dengan ayah dan harus bersama anak delapan
tiga diantaranya kan lahir di Diponegoro tiga sembilan

ayah...
semua itu untuk apa sih ayah?
bukankah di hutan kami akan sengsara?
jangankan kue sus kesenangan Pipi...garam saja langka
tetapi kami semua tahu...ayah pasti berjuang
perjuangan yang penting bagi meraih peluang
masyarakat masa depan bangsa yang gemilang
yang jauh dari ketidak-adilan


ayah...
kami siap mendukung perjuangan
daerah harus diberi peran dalam pembangunan
perhatian Pusat kepada desentralisasi wewenang
perhatian agar Komunisme segera hengkang

ya ayah...untuk semua itu memang...
tapak pertamamu di Palembang
tempat tinggal Pipi dan keluarga tujuh belas warsa
di mana kami membangun karya dan karsa dengan asa

Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org