Halaman ini sudah dilihat oleh: 829 orang,




Melati
Sepenggal Kenangan masa PRRI - II
Oleh : Melati Wangi dari Tepian Sunyi

Begini kisah di kampung halaman
Nama-nama takkan ditampilkan
Untuk menghindari salah pengertian
Dendam kesumat yang berkepanjangan
Walaupun setengah melati kemudian
Anak cucu korban masih memperpertanyakan

Sesampainya di kampung halaman
Dekat keluarga handai dan tolan
Kumulailah menata kehidupan
Cita-cita tinggi terpaksa dikuburkan
Lingkungan berbeda tentu disesuaikan
Kehidupan di kota terpaksa dilupakan

Kampungku yang letaknya diujung negeri
Hari-hari biasanya sepi
Tiba-tiba saja menjadi ramai sekali
Banyak orang asing dan para pengungsi
Semuanya ingin menyelamatkan diri
Dari kejaran tentara APRI

Baju-baju hijau pada bermunculan
Dimana-mana mereka berkeliaran
Semuanya mereka memanggul senapan
Membuat kita aman bercampur ketakutan
Semuanya mereka butuh makanan
Akibatnya kita menjadi kekurangan

Cerita ini terjadi kabupaten Limapuluh Kota
Ada Kompi DBI dan Mahasiswa
Ada tentara yang sudah berkeluarga
Mereka menambah istri kedua
Banyak pelajar dan mahasiswa
Mereka memutuskan menjadi tentara

Anti komunis menjadi slogan
Setiap saat terjadi penangkapan
Orang PKI ataupun yang dapat tuduhan
Orang yang tak setuju dengan pemerintahan
Disinilah tukang tunjuk berperan
Membuat orang awam menjadi ketakutan

Banyak yang hilang tak tentu rimbanya
Jumlahnya ratusan orang di 50 Kota
Dipindahkan dari tahanan entah kemana
Tentu saja telah pergi ke alam baqa
Para janda yang menunggu dengan merana
Anak-anak yang merindukan bapaknya

Dalam suasana yang tak menentu
Datanglah berita dari teman-temanku
Mengajakku kembali menuntut ilmu
Apa lagi yang akan ditunggu
Tak usah risau dan tak usah ragu
Membuat semangatku menggebu-gebu

Teman-temanku bercerita dengan berbangga
Mereka telah kuliah seperti biasa
Pasukan APRI menjadi teman bercanda
Mereka aman dikawal tentara
Ada pula yang berhubungan mesra
Karena istri mereka di tanah Jawa

Aku seperti memakan buah simalakama
Keinginan kembali kuliah semakin membara
Sebaliknya ada hal yang membawa kendala
Mengerikan kalau terjadi apa-apa dengan keluarga
Bisa-bisa mereka dianiaya atau dihilangkan saja
Disitulah terasa tak berharganya nyawa manusia

Banyak anak-anak yang tak jadi tentara
Kerjanya lontang lantung dimana-mana
Dicari guru-guru wanita yang ada
Yang putus kuliah diminta bersedia
Dibuka SMP SMA sementara
SMP - SMA Darurat namanya

Babak kehidupan baru dimulai
Menjadi guru tanpa imbalan materi
Guru-guru berusaha mencari uang sendiri
Mengadakan sandiwara dan pertunjukan seni
Kehidupan kami minim tanpa gaji
Sandang dan pangan berharga sekali

Sepenggal kenangan kini kusudahi
Mudah-mudahan bermanfaat tulisanku ini
Semoga dapat kulanjutkan nanti
Mohon dimaafkan hamba ini
Kalau ada yang tak berkenan dihati
Jangan disimpan didalam hati

Peringatan penting

Contoh teladan wajib ditiru
Ikuti kebiasaan orang dahulu
Kalau menebang pohon kayu
Harus seizin Datuk Pengulu

Bila kayu banyak ditebang
Hidup tak lagi merasa tenang
Mirip suasana keadaan perang
Setiap saat nyawa melayang


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org