Halaman ini sudah dilihat oleh: 2425 orang,




Kenangan Masalalu
Kenangan setengah abad masalalu
Oleh: Dasriel Noeha

Dia telah tua kini.
Sudah tujuh puluh lima tahun umurnya.
Selesai shalat maghrib ia duduk di teras rumahnya yang sederhana.
Secangkir kopi panas yang dihidangkan oleh isterinya menemaninya di senja itu.
Setiap senja ia menikmati duduk santai dengan ditemani kopi yang dibuat sendiri oleh isterinya.
Mereka mempunyai kebun kopi sendiri.
Tidak luas tapi cukup buat kebutuhan sendiri dan sebagian bisa dijual.

Ia kini hanya hidup berdua saja dengan isterinya.
Anak-anaknya tiga orang perempuan semuanya sudah menikah dan tinggal di kota lain bersama suami mereka masing-masing.
Rumahnya menghadap ke jalan raya antara Padang dengan Bukittinggi.
Jalan raya itu selalu sibuk oleh kendaraan hilir mudik.
Bercampur antara truk, bus dan kendaraan kecil milik pribadi.

Sepeda motor juga banyak.
Matanya tertumbuk pada sebuah sepeda motor yang dituntun oleh dua orang berpakaian loreng.
Rupanya ban sepeda motor itu kempes.
Tentara itu mendorong sepeda motornya ke bengkel yang tidak jauh dari rumahnya.
Ya, dua orang tentara telah memasuki alam kenangannya senja itu.
Ia teringat tentang masa menjadi tentara dulu.
Sambil menghirup kopi panas ia memasuki alam kenangannya.

Angin sejuk senja yang semilir melintasi bulir-bulir padi yang mulai menguning di sawah belakang rumahnya ikut menghanyutkan kenangan lelaki tua itu.
Masa dulu sewaktu ia menjadi tentara.
Dulu, ditahun 1957, di Padang setelah menamatkan Sekolah Teknik Menengah di Pariaman, ia diterima jadi tentara di Padang.

Setelah menjalani latihan militer selama empat bulan dia ditempatkan sebagai bintara bagian perbengkelan dan peralatan Angkatan Darat di Muaro.
Ia masih bujang ketika masuk tentara itu.
Oleh karenanya ia tinggal di asrama Ganting.
Ia senang dengan pekerjaannya memperbaiki mobil jeep, truck, dan juga memelihara senjata yang ditempatkan di gudang.

Pangkatnya waktu itu sudah sersan dua.
Sebuah peristiwa nasional telah merubah peruntungannya.
Tanggal 15 Februari tahun 1958, beberapa perwira Angkatan Darat beserta tokoh sipil membentuk dan memproklamirkan sebuah pemerintah tandingan di Bukittinggi yaitu Pemerintah Revolusioner Rakyat Indonesia yang disingkat PRRI.

Dengan cepat berita ini telah dikonsolidasikan ke segenap unit militer di Sumatera Barat.
Ada perintah umum oleh Letkol Ahmad Husein bahwa semua unit harus melapor ke masing komandan untuk menyatukan tekad melawan pemerintah pusat dan bergabung dengan tentara PRRI.
Ia melapor ke atasannya langsung.

Letnan Mukhtar atasannya menasihatinya supaya tetap di bengkel.
Tidak usah mengikuti ajakan untuk memberontak.
Namun, Mukhtar mengatakan kepadanya bahwa sekarang pilihan terserah kemauan masing-masing.
Akhirnya ia dengan empat orang temannya bergabung dengan pasukan PPRI di Seberang Padang.

Pada sekitar bulan Februari dan Maret 1958 terjadi tembakan besar-besaran oleh meriam PRRI yang berjejer di sepanjang pantai Padang ke arah kapal kapal ALRI yang berpatroli di depan pantai kota Padang.

Suatu pagi, jam sembilan tanggal 17 April tahun 1958 beberapa pesawat terbang meraung-raung di atas kota Padang.
Pesawat pesawat ini menerjunkan tentara payung di sekitar landasan Udara Tabing.

Seminggu yang lalu pasukan organik tentara PRRI ini telah dikonsentrasikan di Kuranji, Muaro, Seberang Padang dan juga di sekitar Bungus.
Ketika itu landasan udara Tabing hanya dijaga oleh para sukarelawan mahasiswa dari Universitas Andalas yang memang markasnya berada di Air Tawar.
Mereka ini sebelumnya telah dilatih baris berbaris serta bongkar pasang senjata dalam waktu relatif singkat sekali.
Tiada latihan perang yang disimulasikan untuk mereka.
Pasukan pertahanan PRRI yang berasal dari kesatuan tentara organik hanya beberapa orang saja bersiaga di sekitar landasan udara Tabing.

Satuan satuan tentara Pusat mendarat menggunakan kapal kapal kecil.
Dengan menggunakan tank tank amphibi Pasukan Marinir melengkapi pendaratan ini di pantai Ulak Karang.
APRI segera menguasai keadaan.
Tidak ada perlawanan yang berarti dari pihak PRRI.
Tentara PRRI segera mundur ke arah Indarung dan terus menuju Solok.
Oleh sebab itu bisa dikatakan, ketika itu tidaklah terjadi perang yang sebenarnya.
Walaupun ada terjadi beberapa pertempuran kecil, tapi biasanya tentara sukarelawan PRRI melarikan diri.

Yang terjadi adalah penumpasan PRRI oleh tentara pemerintahan rezim Soekarno.
Operasi penumpasan ini dipimpin oleh Letkol.
Ahmad Yani yang biasa dikenal dengan sebutan Operasi 17 Agustus.
Mereka yang menyingkir ke daerah Solok dan Singkarak guna menghindari pertempuran agar tidak terjadi di kota Padang.
Apabila terjadi pertempuran di kota Padang maka akan banyak mengorbankan penduduk sipil.

Lelaki ini bersama kawan kawannya satu regu segera mendaki bukit ke arah seberang Padang.
Mereka mendaki ke Gunung Pangilun.
Dan terus naik ke Solok.
Lalu menyusuri Danau Singkarak.
Kemudian berhenti di sebuah nagari yang bernama Sumpur, terletak di pinggir danau Singkarak.
Di kampung inilah dia bersama kawan kawan lainnya menyatu dengan penduduk setempat membentuk basis gerilya

Suatu malam dia diperintah oleh komandan batalyon Anai yang berpangkat mayor untuk menghadap bersama anggota pasukannya dan menerima instruksi-instruksi.
Mereka merencanakan sebuah penghadangan.
Ia sendiri lupa tanggal peristiwanya, kalau tidak salah sekitar bulan Oktober tahun 1958.
Ada sekitar tiga ratus orang lebih.

Mereka ini terdiri dari sukarelawan ex mahasiswa dan tentara APRI yang bergabung dengan PRRI serta para bekas pejuang kemerdekaan yang berasal dari Gyugun.
Gyugun adalah pemuda pribumi yang dilatih oleh tentara pendudukan Jepang untuk berperang menghadapi sekutu.

Di Pulau Jawa Gyugun dikenal dengan sebutan tentara Peta.
Si Apuak dan Mak Buyuang dikenal sebagai penembak jitu saat jadi anggota Gyugun dulunya.
Oleh komandan, mereka diperintahkan malam itu juga harus bergerak ke sebuah titik di daerah BTT.

Ada laporan dari intelijen bahwa sepasukan Brigade Mobil tentara Pusat akan berangkat pagi-pagi dari Padangpanjang menuju kota Padang.
Mereka akan menghadang dan menghancurkan mobrig itu dan merebut senjata mereka.
Ia ingat betul malam itu.
Mereka berangkat dari sebuah kampung dan menyeberangi Batang Anai di nagari Anduriang terus mudik ke Lubuak Gadang.

Malam itu, ketika tak satupun kenderaan melintas, udara dingin sekali, mereka menyeberangi jalan raya menuju rel kereta api.
Jalan raya itu terletak persis di depan rumahnya sekarang.
Dari rel kereta api mereka menuju stasiun Kandang Ampek.
Pukul dua belas tengah malam, mereka sampai di stasiun.
Di sini anggota pasukan beristirahat melepas lelah.

Sekitar satu jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju titik yang telah ditentukan.
Para prajurit PRRI ini disebar ke beberapa titik penghadangan.
Dan persis jam satu tengah malam semuanya sampai di lokasi stelling masing masing.

Pasukan inti ditempatkan di seberang bukit di depan pohon Kubang.
Ada dua pohon Kubang.

Yang lain ditempatkan setiap lima puluh meter di sisi utara.
Pasukan terakhir, sebagai regu penyapu ditempatkan di parit di tanjakan jalan.
Ia dan regunya berada pada pasukan penyapu ini.

Ia ingat betul, sekitar jam setengah enam telah terdengar deru mesin truk pembawa mobrig melewati kelok setelah air terjun Lembah Anai.
Kemudian terjadilah penghadangan itu.
Segera terjadi tembak menembak.
Tentara PRRI berada di balik bukit dan semak semak, sedangkan mobrig bertahan di sepanjang jalan setelah berlompatan dari atas truk.

Truk mobrig ditembaki dengan Bazooka, meriam yang bisa dipanggul dan tak dimiliki oleh tentara Pusat serta senapan mesin lainnya.
Korban berjatuhan di pihak mobrig.
Mereka tidak menyangka akan dihadang ditempat itu.
Puluhan yang menjadi korban di pagi yang naas itu untuk tentara Pusat.
Setelah selesai penghadangan, semua pasukan kembali bergerak ke arah gunung Tandikek.
Selanjutnya terus melakukan perjalanan ke pos terakhir PRRI di sekitar gunung leter W di atas danau Maninjau.
Di sinilah dia menetap sementara bersama lima belas orang anggotanya menunggu perintah atasannya.

Di tempat inilah inilah telah terjadi peristiwa lain yang amat membekas di hatinya.
Kini dia ingat akan kejadiaan itu, bagai menonton sebuah filem dokumenter di layar bioskop.
Ada seorang pemuda yang merupakan sepupunya di kampung.
Aripin namanya.
Aripin bersekolah di STM di Bukittinggi.
Ia sudah kelas tiga.
Karena terjadi peristiwa pergolakan daerah, maka untuk sementara sekolah diliburkan.
Aripin pulang ke kampungnya di Kandang Ampek.
Suatu hari sepasukan OPR melakukan patroli di Kandang Ampek.
Aripin dan berapa pemuda pengangguran sedang main kartu domino di kedai nasi

Letnan Bahar Kirai, komandan OPR turun dari jeep.
Dia diikuti lima orang anak buahnya.
Aripin dan teman-teman ditanyai tentang PRRI.
Apakah mereka ikut pasukan PRRI.
Semuanya menjawab bukan, mereka adalah pemuda kampung biasa yang kerja di kedai nasi itu.
Aripin yang kelihatan lebih gagah menjawab dengan lancar, maklum ia seorang pelajar STM.
Dan ia mengatakan: ....Bapak jangan asal menuduh kami pemberontak !

Rupanya jawaban Aripin membuat Letnan Bahar Kirai tersinggung.
Ia segera menampar pipi Aripin dua kali.
Aripin kesakitan dan lari ke sudut ruangan.
Seorang anak buah Bahar segera mau menembak Aripin.
Tapi untunglah senjatanya ditepis Bahar dan selamatlah jiwa Aripin waktu itu.

Peristiwa itu rupanya membakar semangat Aripin untuk ikut memberontak.
Kebetulan Mansur, demikian nama orang tua yang ikut ke luar bergabung tentara PRRI pulang ke rumah ibunya di Kandang Ampek.
Aripin diberi tahu oleh adiknya Syamsuar bahwa uda Mansur lagi ke kampung malam ini.
Aripin segera minta ijin ibunya mak Newar untuk lari ijok ke hutan.
Mak Newar tidak mengijinkan.
Dia menangis menahan anak laki-laki sulungnya itu.

Tapi Aripin yang sudah dendam kesumat di dadanya karena ditampar komandan OPR tempo hari, sudah tidak bisa dilarang lagi.
....Indak usahlah waang ikut ijok ke rimba Pin, kata Mak Newar mencoba menahan langkah anak tuanya ini.
....Mak, hati awak sakik dek ditampar oleh OPR itu. Awak harus balaskan mak. Indak sanang hati awak sebelum dendam ini terbalas,.... kata Aripin malam itu kepada ibunya.

....Hati mak, badatak Pin. Mak tidak mau terjadi apa-apa dengan waang, .....kata Mak Newar sambil menangis.

....Jangan mak menangis.
.... Awak sudah besar.
....Awak tahu menjaga diri.
....Lagi pula awak tidak takut mati mak.
....Kapan saja mati kata Tuhan, maka kita harus pergi.
.... Lepaslah awak dengan do’a ya mak, kata Aripin dengan mantap.

Akhirnya Aripin diam-diam menemui Mansur.
Ia mengatakan kepadanya akan bergabung dengan PRRI.
Malam itu juga Aripin ikut dengan uda Mansur berangkat ke daerah Tandikek.
Mereka melapor ke markas di gunung leter W.

Aripin berlatih menggunakan senjata dan cara perang gerilya seadanya saja.
Memang ia sangat bersemangat untuk segera melepaskan dendamnya.
Sewaktu operasi di Tanjung Mutiara dan Bayur, dia membunuh banyak tentara OPR.

Aripin segera menjadi terkenal sebagai seorang prajurit PRRI yang pemberani.
Meskipun sebagai prajurit sukarela yang tidak pernah latihan formal, Aripin diserahi memegang senjata mitraliur otomatis Brent.

Pak tua mengangkat mangkok kopinya.
Udara senja mulai dingin.
Pada saat memasuki bulan suci ini di kampung itu sering turun hujan.
Kadang kadang hujan turun setelah maghrib sampai tengah malam.

Seakan hujan itu menguji keimanan penduduk kampung untuk kepatuhan menunaikan shalat tarawih berjamaah di mesjid.
Meskipun turun hujan, penduduk terus datang ke mesjid dengan bertudungkan daun pisang.
Hujan dijadikan sebagai rahmat Tuhan yang harus disyukuri.
Hujan mengairi sawah yang terhampar luas di sekitar rumah.

Hujan makin memberi semangat kenangan itu beruntut lancar ke luar dari liku kenangannya senja itu.
Sudah lima puluh tahun kurang lebih, peristiwa yang ia ikut berperan di dalamnya itu terjadi.
Ia ingat betul ketika peristiwa itu terjadi di sebuah pos pengintaian di kaki gunung letter W.

Peristiwa yang menuntaskan dendam seorang pemuda yang telanjur sakit hati karena sebuah peristiwa besar.
Itulah peristiwa pergolakan daerah di Sumatera Tengah yang berpusat di Padang.
Karena kejadiaan itulah yang melahirkan Organisasi Perlawanan Rakyat atau OPR.
OPR bentukan tentara APRI untuk memerangi tentara PRRI.

OPR yang menghabisi orang orang ke luar bersimpati atau bergabung dengan PRRI.
Karena ditampar oleh komandan OPR yang menyebabkan sebuah dendam terjadi.
Dendam yang telah berkarat di dada Aripin.
Komandan pos B di dibalik tanah munggu di bawah pohon Lamin itu adalah Aripin.
Ia membawahi lima orang anak buahnya.
Mereka bertugas mengintai gerak gerik APRI saat beroperasi.

Hari itu tentara Pusat, sedang mengadakan operasi pembersihan.
Ia waktu itu sedang naik ke atas bukit untuk sebuah rapat konsolidasi.
Kira-kira jam tiga sore terdengar suara tembakan bersahutan di pinggang bukit di bawah.
Ia tahu persis bahwa itu posisinya pos pengintai regu Aripin.

Tembak menembak memang tidak lama.
Cuma kira-kira lima belas menit.
Kemudian tembakan berhenti sama sekali.
Sejam kemudian kira-kira memasuki jam lima sore turun hujan lebat sekali di pinggang bukit itu.

Air hujan membuat jalan menurun kebawah menjadi licin.
Dengan mengendap-endap ia menuruni bukit melihat apa yang kejadian.
Ia menyiagakan pandangan yang mulai tertutup kabut.
Senjata Sten ditangannya siap untuk ditembakkan.

Kira-kira lima meter dari pos yang sudah habis terbakar, dia melihat sesosok tubuh tertelungkup.
Darah masih mengalir dibawa air hujan dari tubuh itu.
Rupanya tentara APRI telah meninggalkan tempat itu.
Dia mendekat.
Terlihatlah mayat seorang pemuda yang sudah cabik-cabik oleh peluru.
Di punggungnya terlihat luka menganga lebar sekali.

Baju cokelat seragamnya telah compang camping tertembus peluru.
Celana hitam selutut yang jadi kebanggaan pemuda itu berlumuran darah.
Aripin telah gugur bersama dendamnya sore itu.
Kemana temannya yang lain?

Rupanya mereka sempat meloloskan diri melalui parit di belakang pondok.
Mereka segera melarikan diri ke hutan lebat di pinggang bukit itu dan terus naik ke atas menemui induk pasukan.
Merekalah yang bercerita bahwa mereka diserang sepasukan loreng APRI dengan tiba-tiba.
Mereka mau lari dan mengajak komandannya Aripin.

Namun, Aripin menolak pergi.
Ia mengatakan bahwa ia akan menuntaskan dendamnya sore itu.
Dan ia berdiri sambil menunggu pasukan loreng itu dengan menembakinya dengan Brent Gun.
Ada beberapa anggota APRI yang terkena tembakan.
Tetapi Aripin dihujani peluru banyak sekali oleh tentara Pusat itu.

Dan gugurlah Aripin yang telah lunas membayar dendamnya sejak ditampar OPR dahulu.
Ia kembali ke atas bukit dan memanggil beberapa anggota untuk memberi penghormatan terakhir kepada Aripin yang telah gugur.
Jasad Aripin mereka kuburkan lengkap dengan bajunya dibawah sebuah pohon Lamin tua di bukit itu.
Nama Aripin mereka goreskan dengan sebuah bayonet berikut tanggal terjadinya peristiwa itu.

Tanah Munggu, 17 April 1959.
Di sini dikuburkan kawan kami, prajurit Aripin.
Demikian goresan kenangan itu telah tertulis.

.....Uda lagi mengapa kok minum gelas kosong, tiba-tiba ia dikejutkan isterinya yang datang dari dalam rumah.
Upik, isterinya tahu bahwa suaminya melamun lagi.
Upik tahu bahwa melamun peristiwa kenangan semasa ke luar dulu menjadi keasikan sendiri bagi suaminya.

Kadang-kadang malahan suaminya menceritakan lengkap semua peristiwa yang dialami selama bergerilya di hutan dulu.
Kedatangan Upik membuatnya tersenyum.
Ia sedang melamun tentang masa ketentaraannya dulu.

Masa tatkala ia berjuang di hutan mengikuti seruan pemimpin untuk menegakkan keadilan yang saat itu dirobek robek oleh pemerintahan rezim Soekarno bekerjasama dengan kaum Komunis anti Tuhan.

Selanjutnya perjuangan bersenjata ini berhenti sama sekali dengan istilah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Ia bersama sama anggota pasukan lainnya melapor kepada APRI di Sungai Geringging tahun 1961.
Kemudian ia kembali ke kampung.
Menjadi petani setelah itu.
Kemudian ia menikahi Upik, seorang putri ulama di kampung itu.

Ia hidup di Kandang Ampek sebagai seorang bekas pejuang PRRI.
Upik menemaninya sampai kini.
Hidup itu ia jalani dengan damai sampai masa tuanya.
Kenangan masa pergolakan memang sewaktu-waktu datang menghampirinya.
Sama seperti kenangan senja ini.

Hal ini terpicu ketika melihat dua orang berbaju loreng melintas di depan rumahnya.
Ia mulai beringsut menuju ke tebat di belakang rumah untuk mengambil wudhu.
Lalu shalat isya.
Sesudah shalat ia berdo’a.

Ia berdo’a untuk kawan-kawannya yang gugur selama masa pergolakan.
Untuk Aripin ia berdo’a juga.
Tak terasa ketika itu dua bulir air mata menetes di pipinya yang sudah keriput.

Peringatan penting

Sudah terbukti ketika perang
tempat berlindung orang Minang
bukan di dataran tanah lapang
tapi di rimba Hutan yang lengang


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org