Halaman ini sudah dilihat oleh: 1138 orang,




PRRI
PRRI: musyawarah anak nagari di Padang Kiau


Historia vero testis temporum = sejarah adalah saksi zaman
Lux veritatis = sinar kebenaran
Vita memoriae = kenangan hidup
Magistra vitae = guru kehidupan
Nuntia vetustatis = pesan dari masa silam

P.R.R.I di nagari Manggopoh
Naskah asli oleh : Deka Maita Sa
Diedit ulang tg. 20 - 9 - 2012 oleh : DR. Mestika Zed, Abraham Ilyas, Drg.

A. Pendahuluan

Puji syukur pada Illahi Rabbi
Salawat dan salam kepada Nabi
Ini kisah masa PRRI
Ketika perang melanda nagari

Suka duka takdir Allah
Tuhan semesta yang disembah
Mohon izin kami berkisah
Nagari Manggopoh dalam sejarah

Ampun dimohon pada Illahi
Maaf diminta kepada yang ahli
Jika khilaf dalam hal ini
Jangan marah kepada kami

Sudah umum di atas dunia
Bodoh dan kurang pada manusia
Apalagi penulis masih belia
Diminta diskusi selalu sedia

Bukan hendak mencari tuah
Atau mencari-cari masalah
Hanya menulis pelurusan sejarah
Supaya nan benar tetap di tengah

Saya menulis dasarnya cerita
Sumbernya bukan dokumen negara
Hasil catatan waktu wawancara
Orang sekampung sanak saudara

Hasil wawancara sanak sekampung
Kisah nenek serta andung
Mengalami peristiwa secara langsung
Saat bergolak mereka bergabung

Dari kejadiaan di nagari Manggopoh
Hikmah diambil dijadikan contoh
Pengorbanan rakyat maupun tokoh
Orang pandai ataupun bodoh

Orang Manggopoh gagah berani
Seperti pahlawan Mandeh Siti
Kompeni dipancung sampai mati
Karena merusak adat nagari

Manggopoh nagari yang subur
Banyak menghasilkan sayur mayur
Beserta daging dengan telur
Sedikit yang miskin, banyak yang makmur

Ibarat surga muncul di dunia
Batang Antokan sungai utama
Bermacam ikan seperti Nila
Berkembang biak sesukanya

Sekarang terjadi banyak perubahan
Akibat samping dari pembangunan
Apa yang terjadi di batang Antokan
Tiada lagi menghasilkan ikan

Terjadi perubahan muka air
Dari hulu sampai ke hilir
Kini di sungai terlihat pasir
Ketika hujan terjadi banjir

Untuk diingat anak kemenakan
Nagari Manggopoh, nagari Pahlawan
Pantang dijajah, susah ditaklukkan
Musuh yang datang telah merasakan

Peristiwa terjadi 19-08
Dengan Belanda Manggopoh berhadapan
Perang belasting orang katakan
Mandeh Siti jadi pimpinan

B. Musyawarah anak nagari di Padang Kiau

Suasana perang di tahun pertama
APRI hanya menduduki kota
PRRI menyiapkan perang yang lama
Anak nagari diajak serta

Ketika situasi bertambah kacau
Ninik mamak menjadi risau
Semua kemenakan lalu dihimbau
Untuk bermusyawarah di Padang Kiau

Guna membantu para pejuang
Anak nagari wajib menyumbang
Rapat memutuskan iuran perang
Penduduk menerima berhati senang

Ikut serta dengan keyakinan
Tua muda tidak ketinggalan
Semua orang ikut berkorban
Nyawa di badan jadi taruhan

Musyawarah di Kiau patut dicatat
Anak nagari bersatu niat
Kepada Pusat tak perlu taat
Karena Soekarno telah berkhianat

Sesudah sembahyang selesai zikir
Para hadirin yang ikut hadir
Di atas surau di tepi air
Semua bicara dengan bergilir

Musyawarah diadakan di atas surau
Semua kelompok datang dihimbau
Ikut pula parewa lapau
Ditambah pengungsi dari rantau

Ninik mamak dan cerdik pandai
Alim ulama beserta labai
Termasuk bunda dan amai amai
Berjanji setia tak akan bercerai

Hasil musyawarah yang disepakati
Apapun masalah yang akan terjadi
Tak akan bercerai membela nagari
Di bawah pimpinan pejuang PRRI

Tidak peduli laki perempuan
Semua penduduk ingin berkorban
Karena terpanggil oleh keyakinan
Rasa senagari dalam persatuan

Patut dicatat dalam sejarah
Ibu muda bernama Sawiyah
Ikut bertempur tanpa diupah
Menyandang bedil terlihat gagah

Mekipun penduduk desa terpencil
Sawiyah berperang menggunakan bedil
Meninggalkan bayi yang masih kecil
Karena nagari telah memanggil

Keputusan lain yang disepakati
Kehidupan masyarakat tak boleh berhenti
Walau pertempuran selalu terjadi
Begitulah kebiasaan adat nagari

Karena perang berlangsung terus
Setiap kegiatan perlu diurus
Penduduk menyumbang nasi bungkus
Pegawai mendirikan bermacam kursus

Walau tak semua ikut bertempur
Para remaja tak boleh menganggur
Bidang pendidikan lalu diatur
Di Sekolah Penampungan mereka dilebur

Kalau nagari diduki tentara
Tujuan mengungsi untuk bersama
Bukit Antokan di Manggopoh Utara
Tempat ijok di hutan rimba

C. Perang terjadi di nagari Manggopoh

Ketika APRI menduduki kota
Guru dan pegawai pindah ke desa
Anak isteri ikut dibawa
Nagari bertambah jumlah penduduknya

Karena tak sama pendirian ideologi
Pegawai dan guru pergi mengungsi
Meninggalkan kota yang telah sepi
Tandanya setia pada PRRI

Dari Pariaman dan nagari Tiku
Pengungsi datang satu persatu
Tidak dianggap sebagai tamu
Kemenakan dibimbing, anak dipangku

Pengungsi dijadikan anak kemenakan
Sedang susah mendapat kesulitan
Perlu dibantu diberi perhatian
Dipinjamkan rumah dibantu makan

Penduduk membantu dengan ikhlas
Walau hanya ubi talas
Bagi pengungsi sangat berbekas
Percaya Allah pasti membalas

Karena perjuangan tegakkan yang adil
Menggunakan perlengkapan senjata bedil
Anak nagari ikut terpanggil
Tua muda, besar dan kecil

Dari dahulu sampai sekarang
Alasan rakyat terlibat perang
Mengikuti pesan nenek moyang
Tuah sekata, celaka bersilang

Mulanya perang saat terjadi
Manggopoh belum perlu didatangi
Tujuan musuh mengacaukan PRRI
Atau disebut teror psikologi

Awal Manggopoh mencium mesiu
APRI datang dari Tiku
PRRI menghadang di Balai Satu
Tembak menembak berlangsung seru

Mortir ditembakkan dari jauh
Tiada jelas tempatnya jatuh
Penduduk ketakutan keluar peluh
Penyakit jantung menjadi kambuh

Ibarat memilih acak acakan
Hadiah tak langsung dijatuhkan
Bom mortir yang ditembakkan
Lokasi jatuh tak bisa ditentukan

Walau sasaran sering meleset
Desingan mortir mirip roket
Karena terkejut sangat kaget
Ada yang pingsan, banyak yang mencret

Saat subuh masih berkabut
Kedatangan APRI lalu disambut
Dengan tembakan sahut-bersahut
Suasana kacau timbul kalut

Berkali kali APRI datang
Dalam perjalanan sering dihadang
Terdengar letusan berulang-ulang
Begitu suasana ketika perang

Suatu ketika saat operasi
APRI datang berjalan kaki
Tiada tembakan yang mengiringi
Nagari lengang tampak sepi

Bulan Mei tahun 60
Waktu hujan baru teduh
Nagari didatangi oleh musuh
Amat Ali mati dibunuh

Amaik Ali penduduk biasa
Bukan sukarelawan ikut gerilya
Menjadi korban perang saudara
Dibunuh tentara yang dari Jawa

Walau tidak punya masalah
Amat ditembak bersimbah darah
Tubuh terkapar di pematang sawah
Sebelum diusung menuju rumah

Ketika asyik mencari rumput
Saat dipanggil tidak menyahut
Tantara marah sambil bercarut
Amat dibunuh tanpa diusut

Dia petani disangka gerilya
Tanpa diusut, tanpa ditanya
Di depan isteri sangat dicinta
Amat ditembak tepat di kepala

Janda almarhum, Upiak Jurai
Hidup sendiri, kini dimulai
Air mata jatuh berderai
Dengan suami harus bercerai

Dari isteri kisah didengar
Ada oknum kurang ajar
Menggunakan kaki mayat diputar
Seperti memeriksa bangkai Ular

Saat menumpas pergolakan PRRI
OPR berlaku tidak manusiawi
Oknum ditunggangi ide PKI
Penganut paham, ateis sejati

Bukan dendam perlu disimpan
Tapi ingatan untuk pelajaran
Jangan terulang di masa depan
Karena tak sesuai dengan kemanusiaan

Sesama pejuang juga ada masalah
Saling curiga timbul musibah
Ada kejadiaan menjadi kisah
Manusia mati bersimbah darah

Karena tiada disiplin tentara
Pada pasukan kelompok gerilya
Terjadi tuduhan dasarnya curiga
Seperti dialami Amin Duya

Amin Duya komandan kompi
Pergi ke Padang urusan pribadi
Prajurit ditinggal tanpa koordinasi
Ketika pulang ditembak mati

Amin Duya dianggap bersalah
Dikira berunding hendak menyerah
Amin dibunuh tidak bisa dicegah
Karena prajurit sangat marah

Menjadi serdadu harus disiplin
Patuh dan taat kepada pemimpin
Semua perintah dikerjakan yakin
Tak boleh menjawab: tidak mungkin

D. Letnan Yusuf memimpin pertahanan di Manggopoh

Letnan Yusuf prajurit sejati
Di Manggopoh dia mengabdi
Memberi perintah sambil menasehati
Mengatur pasukan tentara PRRI

Kalau Yusuf memberi perintah
Jangan dijawab, tak boleh dibantah
Apalagi ditolak dengan marah
Demikian prajurit punya sumpah

Ketika musuh telah datang
Di Aia Dadok mereka dihadang
Dengan peluru bermacam senapang
Musuhpun lari tunggang langgang

Karena tak ingin segera dikubur
Musuh berlarian segera mundur
Masuk kolam ada yang tercebur
Badannya kotor berlepotan lumpur

Walau kemenangan hanya sesaat
Yusuf berjasa membangkitkan semangat
Dia berhasil mengusir Pusat
Karena Yusuf ahli siasat

Bermacam perintah perlu diberikan
Termasuk memutus titian jembatan
Agar musuh jadi kelabakan
Saat terjadi operasi pertempuran

Kalau prajurit tidak taat
Ibarat berlari jalan di tempat
Bintang jasa tak akan didapat
Mungkin tubuh bisa sekarat

Supaya pertempuran berhasil menang
Disiplin mati kata orang
Prajurit bereaksi ibarat wayang
Gerakan diatur oleh Ki Dalang

Begitulah adat seorang prajurit
Berpantang menangis, apalagi menjerit
Tiada istilah merasa pahit
Hidup diatur oleh isyarat pluit

E. Peranan Kaum Perempuan Mendukung Perjuangan

Masyarakat berjuang mempertahankan nagari
Semua golongan ikut berpartisipasi
Laki perempuan, suami isteri
Guru, Pangulu serta pak Haji

Saat perang sedang berlangsung
Kaum perempuan juga bergabung
Gerakan PRRI mereka dukung
Menjaga nagari, melindungi kampung

Bantuan diberikan dengan teratur
Orang perempuan bekerja di Dapur
Memasak nasi, menggoreng telur
Bekal makanan saat bertempur

Lain lagi perempuan ini
Mengambil tugas kerja laki laki
Menjadi prajurit pejuang PRRI
Ikut Barisan Berani mati

Ini kisah Umi Sawiyah
Ibu muda, biasanya di rumah
Sering disebut kaum yang lemah
Kini terpanggil membuat sejarah

Sawiyah mendaftar latihan tentara
Rok diganti dengan Sarawa
Sebagai prajurit ikut gerilya
Ke luar hutan, masuk rimba

Karena terpanggil oleh keyakinan
Tidak peduli laki perempuan
Semua penduduk ingin berkorban
Rasa senagari dalam persatuan

Setelah melakukan diskusi wawancara
Untuk skripsi ujian sarjana
Testimoni dicatat oleh Deka
Bisa dicari di arsip pustaka

Sawiyah bersaksi dengan sungguh
Tanggal 4 April 2010
Hasilnya dikutip secara utuh
Boleh diakses, lalu diunduh

Induak induak di kampuang ko tambah sambuah nan ikuik. Induak induak ko cenan lo mamacik badia.
Katiko ado imbauan masuak tantara, sambuah babondong bondong nyo pai ka Balai Satu.
Ado nan mambao anaknyo gai, ado pulo nan heboh batangka jo lakinyo.

(perempuan-perempuan di kampung tambah banyak yang ikut. Perempuan tersebut ingin pula memegang senjata. Ketika ada himbauan masuk tentara, berbondong bondong mereka ke Balai Satu, ada yang sambil menggendong anaknya, ada pula yang bertengkar dengan suaminya)

Walau berstatus sebagai Ibu
Memiliki bayi yang sangat lucu
Karena tegas tak pernah ragu
Sawiyah ditugasi Komandan Regu

Pada baju tidak terlihat
Para pejuang memiliki pangkat
Ada hirarki bertingkat tingkat
Terus dijaga dengan ketat

Anggota regu sepuluh orang
Enam tua, empat anak bujang
Setiap prajurit diberi senapang
Semuanya patuh, tiada membangkang

Meskipun penduduk desa terpencil
Sawiyah berperang menggunakan bedil
Meninggalkan anak yang masih kecil
Saat kedinginan sering menggigil

Ketika ibunya sedang berjuang
Bayi dititipkan kepada Anduang
Sekali sepekan Sawiyah pulang
Melihat anak hatinya senang

F. Perselisihan antar Sesama Pejuang

Pernah terjadi beda pendapat
Dengan kawan yang sangat dekat
Pertengkaran berlangsung sangat hebat
Orangpun lari, takut mendekat

Di tengah perjuangan membela Kampung
Ada pedagang mencari untung
Memasok Beras serta Jagung
Membantu musuh secara tak langsung

Penduduk menyebut tentara Soekarno
Terkadang masuk keluar toko
Ingin bersosialisasi mencari konco
Ketika ikut bermain Domino

Datuk Sati langsung menuduh
Pedagang divonis tidak patuh
Karena berjuang tidak sungguh
Secara tak langsung membantu musuh

Oleh pejuang di dalam rimba
Pedagang dan APRI bekersama
Mereka dianggap mata mata
Perlu dihukum supaya jera

Komandan pasukan marah besar
Toko dan rumah di tepi pasar
Dia perintahkan untuk dibakar
Karena pemilik dianggap makar

Datuk dan Sawiyah beda pendapat
Tanya jawab sambil berdebat
Sawiyah melangkah makin mendekat
Senjata dikokang lalu diangkat

Sambil mengancam memegang pelatuk
Sawiyah menolak perintah Datuk
Membakar toko milik penduduk
Membawa akibat sangat buruk

Meskipun perang menjadi jadi
Naluri Ibu ingin melindungi
Semua penduduk anak nagari
Tidak peduli beda ideologi

Bukannya ngeri atau ketakutan
Datuk menerima pendapat perempuan
Kedai dan toko urung dibumihanguskan
Sawiyah dan Datuk lalu bersalaman

Sawiyah senang bukan main
Walau harus membantah pemimpin
Bisa dianggap tidak disiplin
Sawiyah bertindak karena yakin

Mengikuti sumpah ucapan janji
Perintah komandan harus ditaati
Kalau khianat disebut desersi
Boleh ditembak, dihukum mati

Karena yakin Sawiyah bertindak
Menjaga kampung, melindungi Dunsanak
Walau resiko mati ditembak
Perang saudara memang tak enak

G. Manggopoh tidak mudah ditaklukkan tentara Soekarno

Dua tahun setelah dimulai
Tujuan perang belum tercapai
Walau ke Manggopoh telah sampai Kedua pihak intai-mengintai

Ketika APRI pergi menyerbu
Penunjuk jalan sangat perlu
Dulah Palak sedia membantu
Saat menyusuri Batang Tiku

Dulah Palak telah berjasa
Kepada Pusat Pemerintah Jakarta
Dia disebut sebagai mata mata
Dulah berpihak kelompok berbeda

Walau tak disepakati Ninik Mamak
Pilihan berbeda dipilih Palak
Kepada APRI Dulah berpihak
Niat di hati susah ditebak

Balas jasa dari APRI
Setelah Pusat menguasai nagari
Dulah diangkat sebagai Wali
Begitulah manusia menyalurkan ambisi

Karena belajar peta situasi
Musuh mengubah konsep strategi
Nagari perlu segera diduduki
Tahun 60 perubahan terjadi

Sesudah tahun enam puluh
APRI gunakan kekuatan penuh
Pertahanan PRRI banyak yang jatuh
Kini nagari diduduki musuh

Guna menduduki daerah musuh
Akhir Mei tahun enam puluh
APRI bergerak secara penuh
Memakai truk berpuluh puluh

Operasi Katenggang mereka namakan
Berjalan kaki, naik kenderaan
Jumlahnya banyak mungkin ribuan
Bersenjata berat maupun ringan

Tentara Pusat sangat berpengalaman
Sudah dewasa ada yang jenggotan
Veteran perang zaman kemerdekaan
Menghadapi TP bukanlah padanan

Sukarelawan PRRI pemuda remaja
Periode asuhan ayah bunda
Senang bergelut sambil bercanda
Kini terpanggil menyelamatkan bangsa

Dalam pertempuran di saat perang
Terjadi kelahi tidak seimbang
Hanya bermodal besar karengkang
Melawan APRI yang telah matang

Ibarat cerita berakhir sedih
Meskipun senjata sudah canggih
Ketika bertempur belum dilatih
Kurang disiplin, kerap berdalih

H. Korban berjatuhan pada rakyat sipil

Wali Perang Datuk Rangkayo Hitam
Beliau mengingatkan ajaran Islam
Masyarakat jangan menyimpan dendam
Semua sengketa diakhiri salam

Kewajiban pemimpin sejak dahulu
Pemuka masyarakat, para Pangulu
Tempat bertanya, tempat mengadu
Kemenakan dibimbing, anak dipangku

Sahabuddin Datuk Rangkayo Hitam
Ibarat pelita di tempat yang kelam
Sumber informasi bagi yang awam
Karena masyarakat banyak tak paham

Sahabuddin menjabat wali nagari
Sebagai sumber bermacam informasi
Guna mendukung perjuangan PRRI
Menyelamatkan negara, membela nagari

Bukan karena hambatan musim
Informasi belum menjadi sistim
Sarana komunikasi sangat minim
Kabar berita sulit dikirim

Sebagai Wali punya kewajiban
Mengatur nagari dan anak kamanakan
Agar bersatu tidak terceraikan
Ibarat sapulidi, satu ikatan

Dalam situasi perang saudara
Dendam lama sangat berbahaya
Bisa terjadi kehilangan nyawa
Masalah kecil besar akibatnya

Saat perang kerap terjadi
Dendam lama dan sakit hati
Termasuk urusan masalah pribadi
Akibatnya fatal ngeri sekali

Kejadiaan si Akuik mati ditembak
Dia salah mengikuti kehendak
Janda gerilyawan yang dia ajak
Dijadikan isteri menurut syarak

Walaupun syah menurut aturan
Hukum perang tiada kepastian
Yang lemah langsung ditelan
Yang kuat berlantas angan

Kisah cinta membawa getir
Kini menjadi buah bibir
Jasad si Akuik ditimbun pasir
Di tepi sungai tenang mengalir

Saat menunggu pondok di ladang
Di tempat sepi keadaannya lengang
Mak Cangkuah ditimpa malang
Anak beranak dibunuh orang

Walau Cangkuah tidak terlibat
Mendukung PRRI ataupun Pusat
Nasib sial tetap mendekat
Begitulah derita menimpa rakyat

Kejahatan perang perlu didaftar
Dangau Mak Cangkuah juga dibakar
Mencari pelaku sangatlah sukar
Sampai kini tak pernah terbongkar

Agar gerilyawan segera kembali
Isteri disuruh membujuk suami
Rumah diberi bertanda kali
Nama dituliskan jelas sekali

Nama ditulis di dinding rumah
Hurufnya hitam atau merah
Tanda keluarga ada yang bersalah
Menjadi pemberontak melawan pemerintah

Isteri juga wajib melapor
Sekali seminggu datang ke kantor
Ini bukan cerita rumor
Begitulah Soekarno menebar teror

Oleh tentara berwajah seram
Pertanyaan diberikan macam macam
Di mana suami kini berdiam
Apakah pernah pulang malam

Di book istilah dari penguasa
Maksudnya isteri dijadikan sandera
Ketika malam nginap di pos jaga
Setelah pagi kembali ke keluarga

Peraturan kejam, aneh sekali
Perbuatan cemo di adat nagari
Perempuan tidur di dalam tangsi
Bayi di rumah ditinggal sepi

Karena suami belum tertangkap
Di Pos tentara isteri menginap
Tidur kedinginan di kamar gelap
Sering menangis disertai ratap

Ini kejahatan luar biasa
Rezim Soekarno punya dosa
Adat nagari mereka perkosa
Perlu diingat anak bangsa

Datuk Soda meninggalkan pesan
Untuk diingat anak kemenakan
Dosa Soekarno bisa dimaafkan
Kesalahan rezim tak boleh dilupakan

I. Asal mula pelanggaran Hak Azasi di Indonesia

Ketika Manggopoh diduduki APRI
Banyak penduduk pergi mengungsi
Rimba Antokan berhutan Kopi
Tempat ijok paling disukai

Waktu APRI menempatkan serdadu
Pos didirikan di Balai Sabtu
Markas diberi pagar bambu
Penduduk bimbang mulai ragu

Inilah kisah pasca PRRI
Ceritanya penuh dengan ironi
Walau dikeluarkan amnesti abolisi
Tapi Soekarno tidak menepati

Ketika OPR naik bintang
Rakyat ketakutan bukan kepalang
Salah sedikit kena lampang
Kalau membantah tinju melayang

Asal mulanya pelanggaran Hak Asasi
Saat penguasa lakukan interogasi
Lampang melampang selalu terjadi
Terhadap tertuduh ataupun saksi

OPR bertindak over akting
Susah diajak untuk berunding
Karena butahuruf, gembala kambing
Kini diberi peranan penting

Begini kebiasaan raja memerintah
Dilarang bertanya, haram membantah
Kalau menghadap wajib menyembah
Pemimpin dan rakyat perlu dipisah

Ketika pemerintahan tidak cocok
Orang Minang menjadi syok
Tiada kekuasaan yang dipandang elok
Banyak terjadi sogok menyogok


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org