Halaman ini sudah dilihat oleh: 1109 orang,




Inyiak Lunak
Inyiak Lunak si Tukang Canang Retak
Oleh : AA. Navis (diketik ulang oleh Nofend St.Mudo)

Ketika pergolakan PRRI terjadi, Otang teman si Dali, pulang kampung.
Seperti banyak orang lainnya, sebelum APRI menyerbu Sumatera Tengah, si Otang seorang pengangguran.
Dia bukan pegawai negeri.

Kalau Otang pulang kampung, hanyalah karena alasan khusus.
Katanya, dia solider pada Pak Natsir, tokoh idolanya, yang telah mengirimnya magang sekolah peternakan di Florida selama setahun.

Tapi pengetahuan peternakan itu tidak bisa dipraktekkan di kampungnya.
Selain hambatan sosial budaya, juga oleh masalah modal.
Oleh sebab itu dia menetap saja di Jakarta.
Menunggu perobahan kondisi dan situasi yang akan dapat mengangkat martabat dirinya.
Katanya, betapa dia tidak akan solider.

Dari seorang yang berayah hanya pemilik warung, lalu berkesempatan melihat Amerika yang serba wah.
Hal yang diangankannya ketika nonton film-film di bioskop selama ini.
Bahkan lebih dari pada solider itu, ialah karena perasaan malu pada diri sendiri bila tidak solider.

Otang menikah sebelum berangkat ke Amerika.
Alasan orang tuanya agar Otang tidak kecantol pada gadis di sana, lalu tidak mau pulang lagi.
Mulanya Otang keberatan.

Tapi segera saja dia setuju ketika melihat calon istri yang secantik bintang film Titien Sumarni.
Bedanya hanya tanpa tahi latat di bibir atas.

Ketika kembali ke kampung saat pergolakan perang saudara, dia sudah punya dua orang anak.
Dan selama di kampung itu pula, dia tidak bekerja apapun.
Memang tidak ada yang bisa dikerjakannya.

Semenjak sekolah di kampung sampai ke Amerika pun dia tidak belajar untuk bekerja.
Dia belajar untuk jadi orang tahu tentang berbagai ilmu.
Dalam masa perang ilmu tidak berguna.
Yang diperlukan, kalau tidak senjata, ya akal.
Minimal akal-akalan.

Kampung diduduki APRI

Tibalah masanya ketika kampung Otang diduduki oleh APRI.
Oleh APRI disebut kampung itu sudah dibebaskan yang ditandai dengan membuat tugu pembebasan.
Maka tiba pulalah masanya Otang harus bekerja memegang pacul, bergotong-royong massal dan ronda malam di kecamatan.

Di kala gotong-royong semua laki-laki berbaur.
Orang tua, petani, guru, haji, datuk, apalagi orang semacam Otang.
Bagi Otang sekali mengayunkan pacul, maka melepuhlah telapak tangannya.
Telapak tangan melepuh, tidak dapat dijadikan alasan istirahat dari bergotong-royong.

Yang menjadi komandan APRI di kecamatan itu disebut sebagai Bintara Urusan Teritorial, atau disingkat Buter, Talib namanya.
Sersan Mayor pangkatnya.
Orangnya berbadan besar.
Bedegab, kata penduduk.
Suaranya bariton.
Jika berteriak, kecutlah semua orang.

Setiap saat terdengar bunyi pacul menyentuh batu batu, ada ada saja kegiatan yang digotong-royongkan.
Lama-lama Buter Talib jarang mangawasi kegiatan itu.
Namun perintah gotong-royong datang hampir setiap waktu.
Sambil memalu canang yang berbunyi cer cer cer, instruksi gotong royong disampaikan melalui panggilan inyiak Lunak dari ujung ke ujung kampung.

Bunyi canang yang demikian itu karena ada bagiannya yang hampir pecah.
Suara Inyiak Lunak pun serak seperti selaput suaranya juga akan pecah.
Gotong-royong yang hampir setiap hari sangat menjengkelkan semua orang.

Bukan hanya karena kehilangan waktu untuk bekerja, tapi juga merasa sengaja dihina diperintah diperintah sebagai orang taklukan.
Lama kelamaan, setiap kali mendengar bunyi cer cer cer yang di-iringi suara Inyiak Lunak, menyebabkan ketidak-sukaan Otang kepada Inyiak Lunak.

Ketika berpapasan dengan Inyiak Lunak, Otang melengos ke arah lain.
Kalau kebetulan lagi nongkrong di lapau Mak Mango yang di sudut pasar dan kebetulan Inyiak Lunak datang, Otang buru-buru pergi.
Sebaliknya bila Inyiak Lunak sudah lebih dulu nongkrong, dia batal masuk lepau.

Otang kian mual pada Inyiak Lunak setelah tahu perbuatan Buter Talib saat semua laki-laki beryotong-royong.
Dengan dikawani salah seorang anak buahnya yang berpangkat kopral, Talib masuk kampung keluar kampung menzinai istri orang-orang PRRI yang terus bertahan di daerah pedalaman.
Kopral Sukokaro juga berbuat yang sama.

Camat Basri yang aslinya berasal dari kampung itu sendiri pun sama dengan yang lain dan yang lainnya lagi.
Pembantu Inspektur Polisi Kumpulharto meniduri kedua anak gadis Sudira, sipir Penjara.
Mau apa kita ?... itulah kata-kata yang sering keluar dari mulut penduduk negeri yang ditaklukkan.

Akhirnya, meski tidak ikut perang, cuma karena rasa simpati saja, dia harus membayar mahal seperti orang taklukan yang lainnya.
Sengsara jugalah jadinya Otang.
Sengsara bukan karena bersimpati kepada PRRI, melainkan karena istrinya yang cantik.
Atun yang semula jadi istri dibanggakan, kini menjadi ranjau darat yang membelah-belah jantungnya.

Pada waktu penduduk diperintah gotong-rotong, Buter Talib mampir ke rumah Atun.
Malah Talib konon pernah menginap ketika giliran Otang ronda malam.

Awal-awalnya Otang tidak tahu apa yang terjadi.
Mertuanya tidak memberi tahu.
Apalagi Atun.
Wajah keruh kedua perempuan itu setiap dia pulang bergotong-royong tidaklah dipahami Otang.
Pada mulanya memang begitu.
Tapi ketika Inyiak Lunak si tukang canang membisikkan agar Atun diantar ke kota, Otang mulai membauni kasus yang sebenarnya terjadi.
Otang mencak-mencak, Atun dicaci maki karena tidak melawan perkosaan itu.
Dia pun mengomeli ibu mertuanya yang bersekongkol.

Otang, cobalah kau tempatkan dirimu sebagai si Atun, atau sebagai aku sendiri ketika bencana itu tiba.
Apa mungkin kami melawan? Apa mestinya kami mengadu padamu, supaya si Talib yang berkuasa itu kau hajar?.... kata ibu mertuanya setelah gelegak darah Otang mulai mereda.

Otang tak terhibur.
Setumpuk sesal menghimpit dirinya.
Menyesal dia tidak ikut memanggul senjata melawan APRI.

Kalau dia jadi tentera PRRI, pasti dia akan menembak mati APRI semacam Talib itu.
Dua hal yang sangat dia sesali.
Pertama dia pulang kampung karena alasan solider pada Pak Natsir.
Kedua karena Atun begitu cantiknya.
Tapi membawa isteri dan anaknya pulang kampung karena yakin PRRI akan menang perang, adalah perhitungan yang salah pula, juga disesalinya.

Dia marah pada Talib.
Marah sekali.
Benci dan jijik.
Tapi nyalinya hilang demi melihat semua orang berbaju hijau.
Dia sadar, bahwa dia bukan laki-laki jantan.

Dia tidak pernah belajar jadi jantan; sejak dari sekolah sampai ke Florida sana.
Dia hanya medengar dan menerima apa kata guru dan kata buku.

Oleh sebab itu ketika Bupati Kasdut, teman sekolahnya dulu, yang kini kapten pangkat militernya,....datang inspeksi ke kecamatan, …....Otang menemuinya.

Diceritakannya perilaku tentara pada penduduk…….
.....Kalau cara APRI datang membebaskan daerah ini menjunjung rasa kemanusiaan berbangsa, tiga bulan saja PRRI sudah habis.
Tapi karena tentara bersikap ganas, merampok, memperkosa istri-istri orang, perang akan lama.
Karena PRRI tidak akan menyerah kepada musuhnya yang ganas, walaupun bertahun-tahun di hutan rimba.

ltu dunia tentera,....resiko buruk bagi yang kalah perang.
Tentara orang awak pun sama ganasnya ketika melakukan operasi militer ke daerah lain...... kata Bupati Kasdut yang kapten itu.

Dengan bangsa sendiri musti berlaku ganas? ltu kebijaksanaan komando,.... agar rakyat di daerah mana pun tidak lagi berkhayal untuk berontak !

Menegakkan kebijaksanaan dengan cara yang ganas itu, ……apa APRI dapat menjadi pahlawan yang dicintai rakyat?
Sampai saat ini kebijaksanaan komando tidak akan berubah.... kata Kapten Kasdut yang jadi Bupati itu.

Otang lalu ingat petuah lama: ....Jika takut pada bedil, lari ke pangkalnya.
Tak ada gunanya melawan orang yang sedang menang perang.
Dan ketika Bupati Kasdut kembali ke kota kabupaten, Otang minta ikut.
Dan semenjak itu seisi kampung tidak ada yang tahu kemana dan dimana Otang.

Dua puluh lima tahun kemudian di Jakarta

Dali ketemu si Otang di Jakarta, di rumah Kasdut yang sudah pensiun dengan pangkat kolonel.
Sudah jauh beda gaya Otang kini.
Tenang.
Terlihat alim.
Gaya bicaranya lembut dan lunak.

Dia memelihara jenggot, seperti Haji Agus Salim.
Putih warna jenggotnya.
Di kepalanya bertengger kopiah beludru hitam yang apik letaknya.

Si Dali tidak lupa padanya dan Otang pun juga tidak.
Tapi dia tidak mau bergabung dengan si Dali yang duduk di ruang tamu.

Otang tetap duduk di ruang belakang bersama ibu mertua Kasdut yang berusia hampir delapan puluh tahun.
Dia sudah jadi penghulu sekarang,…… Datuk Rajo di Koto gelarnya.

Dipitih dan ditabalkan oleh kaumnya yang merantau di kota itu.
Kata orang, gelar semacam itu disebut sebagai gadang menyimpang, …....... tidak lazim menurut adat nan teradat.

....Urusan kaum itulah itu..... kata Kasdut yang sebelum pensiun juga telah ditabalkan pula menjadi Datuk oleh kaumnya di kampung.

Datuk Raja Kuasa gelarnya, ……gelar yang pantas untuk seorang kolonel yang pernah jadi Bupati.
....Kalau aku, ….. aku dapat gelar yang sah menurut adat..... Disepakati oleh seluruh kaum di kampung dan di rantau lebih dulu..... Lanjutnya.

Si Dali penasaran kenapa Otang lebih suka berbaur dengan nenek tua itu dari pada dengan sahabat lama yang dua puluh lima tahun tidak bertemu.
Dugaan Dali jadi miring.
Mungkin dia tidak suka ketemu Si Dali, karena mau menghindar dari luka lama masa perang.

Luka karena Buter Talib meniduri Atun.
Kemudian menyerahkan Atun kepada Buter penggantinya dan penggantinya lagi.
Tapi itu cerita lama.

Apa dia masih dendam setelah Buter Talib dan teman-temannya yang telah membayar dosa-dosanya ketika pemberontakan komunis dikalahkan?
Giliran Talib menemui ajalnya setelah diburu oleh rakyat yang anti komunis yang dipimpin pak Harto.

Dia sudah dua kali ke Mekkah..... kata Kasdut, selagi si Dali merenungkan sikap Otang padanya.
Ibu mertuaku membawa Otang jadi muhrim.
Duitnya tentu saja dari aku.
Dari siapa lagi?
Sejak berangkat dari kampung, ke luar dari daerah peperangan, Otang pergi ke Jakarta membawa segala luka dan perih di hatinya.

Kota yang diharapkan mampu untuk melupakan masa lalu, tapi nyatanya lebih menaburkan racun yang masih tersimpan dalam dirinya.
Terutama ketika melihat orang-orang berbaju hijau berseragam yang sedang menggandeng perempuan.

Tampak oleh matanya orang itu seperti Buter Talib yang menggandeng Atun.
Ada rasa mual mau muntah dalam perutnya.
Akhirnya dia mengurung diri di rumah iparnya tempat dia menumpang.

Kalaupun dia keluar rumah, tidak lebih jauh dari pagar halaman.
Untuk membunuh sepi, dia membaca buku-buku agama, dengan buku-buku itu tidak bicara tentang konflik yang melukai.

Isi buku itu pun tidak untuk direnungkan.
Karena dia tidak suka membebani pikirannya.
Koran atau majalah dihindarinya.
Kalau tidak membaca, Otang mengerjakan apa saja yang bisa dilakukannya di rumah.....membersih-bersih, membenahi kerusakan kecil yang ada.

Akhirnya dia keluar juga dari persembunyiannya karena harus ikut menghadiri pemakaman seorang kemenakannya.
Sekali keluar dari isolasi, hampir berterusan dia jarang di rumah lagi di siang hari.

Kini hampir setiap hari dia berkunjung dari satu rumah ke rumah lain, yang semuanya adalah dunsanak atau orang kampung seasal dengannya.

Dia diterima dengan tangan dan hati terbuka, walaupun yang dikunjungi adalah kerabat Atun.
Orang-orang tua yang telah kehilangan kesibukan dan yang memerlukan sahabat untuk berkisah menghabiskan waktu,......sangat merindukan kehadiran Otang !

Otang dapat mengisi tuntutan kebutuhan orang-orang semacam itu.
Lama-lama Otang tahu betul apa yang diperlukan mereka.
Perempuan-perempuan menyukai berita sekitar perjodohan dan kematian yang terjadi di kampung ataupun di rantau.

Laki-laki lebih menyukai berita peristiwa yang terjadi di kampung ataupun reputasi orang sekampung mereka.
Yang menjadi pegawai negeri senang pada berita kenaikan pangkat orang-orang yang dikenal mereka.
Otang tidak mencari berita-berita itu.
Berita itu dia pungut dari orang-orang yang ditandanginya.

Kini jadilah Otang sebagai sumber berita otentik.
Diapun tahu betul berita yang disukai oleh mereka.
Lama-lama Otang seperti sosok yang dirindukan.
Mirip dengan kerinduan orang pada loper koran.

Saatnya Otang mendapat jodoh juga,…......yaitu seorang janda dari salah satu keluarga yang secara rutin dikunjunginya.
Bagaimanapun suatu rumah tangga memerlukan biaya.
Meski menurut kata mertuanya ketika melamarnya, ……Otang tidak perlu memberi uang belanja untuk istrinya.

Tapi Otang adalah seorang laki-laki yang ingin istrinya berarti baginya.
Terpandang tinggi melampaui Atun yang secantik bintang film itu.
Oleh karena itu dia perlu sumber nafkah atau pekerjaan guna menghasilkan uang.

Pekerjaan apa yang dapat dilakukannya dalam umur yang sudah saparo baya itu? Bekerja di kantor? Kantor apa yang mau menerimanya.
Berdagang? Dagang apa? Apa dia bisa?
Modalnya mana? Otang bingung.

Waktunya sehari-hari lebih banyak habis mencari kemungkinan mendapat pekerjaan yang sesuai dan pantas.
Pagi dia sudah ke luar rumah, menjelang malam baru dia pulang.
Orang-orang tua yang selama ini dikunjunginya secara rutin itu pun bingung.
Mereka bingung karena Otang tidak lagi datang.

Kemudian ada seorang dokter tua yang tidak lagi praktek karena usia lanjut, …........ berkata padanya.
Biasanya dia memanggil Otang menurut gaya lama, dengan memanggilnya Engku Otang.....
Dokter itu berkata: ....Engku Otang, ….apa yang Engku lakukan selama ini, sebetulnya sama dengan yang saya lakukan sebagai dokter mengunjungi pasien, …. paham ?

Sebenarnya Otang tidak paham.
Namun dia mengangguk saja.
Lama kemudian baru dia paham setelah berdiskusi dengan istrinya.
Mestinya dia dibayar pada setiap kunjungan ke rumah-rumah itu.
Jangan hanya dikasih makan atau diberi minum saja setiap berkunjung.
Ketika akan pergi diselipkan selembar uang ke sakunya diiringi ucapan: ....Sekadar sewa oplet !

Tapi bagaimana caranya minta bayaran kepada kenalan dan orang-orang sekampungnya itu? Rikuh rasanya.
Menurutnya berkunjung ke rumah-rumah orang itu bukan suatu profesi yang bersifat komersial seperti dokter.

Ketika istrinya berkomentar, …......percuma saja Uda belajar di Amerika dulu..... Otang kembali memeras otaknya.

Sejak itu,….... kunjungan rutin ke rumah-rumah orang orang itu, dia kacaukan jadwalnya, baik hari maupun jamnya.
Tentu saja dia disambut dengan rasa cemas dan sedikit omelan manja.

Otang memberi alasan sederhana saja, yakni karena ada kesibukan baru, sudah beristeri.
Kadang-kadang dia katakan betapa sulitnya dia dapat bus atau oplet.

......Kenapa tidak pakai taksi saja, Engku...... kata mereka menjawab alasan Otang.
Nah, sejak itu Otang mendapat biaya taksi dari mereka.

Padahal dia tetap mengunakan kenderaan umum.
Kepada perempuan perempuan tua yang senang bicara agama, Otang tahu sekali kisah yang mereka sukai.
Misalnya kisah nabi Musa masa kecil yang dihanyutkan ibunya di sungai Nil, lalu terdampar dekat istana Firaun.
Atau kisah Zulaika yang tergila-gila pada nabi Yusuf, atau kisah kesetiaan Khadijah terhadap Nabi Muhammad dan sebaliknya.

Kalau ada kasus yang aktual, Otang tak lupa mengkajinya dengan menyitir al-Quran dan hadis Nabi.
Tak obahnya seperti seorang dai yang handal.
Adakalanya dibawanya buku agama untuk perempuan-perempuan itu, yang dibelinya di kaki lima simpang Kramat.

Buku ini bagus, Uni. Ada tulisan Arabnya. Ada Latinnya.
Berulang-ulang membacanya, ....kian dekat kita kepada ridha Allah.... kata Otang.

Taklah lupa dia membacakan sebagian isinya.
Tentu saja ketika akan pulang, perempuan-perempuan itu mengganti dengan berlipat ganda harganya, selain memberi ongkos taksi.

Oleh karena perantau seasal kampungnya banyak di Jakarta, rata-rata yang dapat dikunjunginya tiga empat rumah dalam sehari.
Tujuh hari dalam seminggu.
Masing-masing dikunjunginya sekali sebulan untuk orang-orang kaya atau pejabat dan sekali dua bulan untuk golongan lainnya.

Pada hari seperti menjelang ldul Fitri atau setiap pedagang atau pengusaha selesai tutup buku tahunan, Otang kecipratan rezeki yang bernama zakat banyak.
Dari orang-orang kaya semacam itulah Otang sampai bisa dua kali ke Makkah.

Ketika dia pergi ke Mekkah bersama istrinya, semua orang memberinya uang.
Ada dollar, ada Real bahkan mata uang Yen dan tentu saja banyak rupiah.
Semuanya dengan iringan basa-basi: ...Sekedar pembeli korma.
Lumayan banyak.
Hampir sebanyak ONH Plus pula.

Tiba tiba Otang jatuh sakit.
Terkena stroke dan komplikasi lainnya, … kata dokter.
Pertama masuk rumah sakit, dia dirawat di bangsal.
Setelah semalam di bangsal, dia dipindahkan ke ruang VIP.
Hal ini terjadi karena banyak kenalannya yang menjamin biayanya.

Ketika si Dali melayat, banyak karangan bunga berjejer di gang arah ke kamar Otang dirawat.
Di kamarnya yang luas pun, puluhan keranjang hias buah-buahan.
Pada setiap keranjang buah buahan itu tertempel kartu nama.

Karena ingin tahu, si Dali membaca kartu nama itu satu persatu.
Kartu nama pada karangan bunga di gang itu pun dia baca.
Ada nama profesor yang top, pengusaha kelas kakap, pejabat tinggi, staf ahli menteri dan juga nama Kasdut.

Otang membuka matanya ketika si Dali memanggil namanya dekat ke telinganya.
Lama dia menatap si Dali dengan pandangan yang sayu.
Seperti banyak yang akan dikatakannya.
Terenyuh juga hati si Dali.

Namun dia tidak menampakkan betapa perasaannya.
Dia coba tetap tersenyum untuk meyakinkan Otang bahwa sakitnya tidak gawat.
Lama juga si Dali memegang lembut lengan Otang yang tidak dipasangi alat infus.....sampai Otang memicingkan mata seperti mau tidur.

Suara pelan seorang pelayat yang duduk di ruangan, terdengar nyata ke telinga si Dali dan mungkin juga oleh Otang.
Engku Datuk ini manusia langka.
Tak kan ada penggantinya kalau beliau tak kunjung sembuh...... katanya.

Beliau seperti perangkat komunikasi hidup. ulas yang lainnya lagi.
Tak ubahnya seperti Inyiak Lunak di kampung kita, pembawa berita suka dan duka keliling kampung sambil memukul canang yang khas bunyinya.
Tapi Inyiak Lunak dengan canangnya cuma menyampaikan berita buruk saja...... kata yang lain lagi.

Tiba-tiba si Dali merasakan getaran kuat pada tangan Otang yang sedang dipegangnya.
Demikian juga kaki Otang seperti hendak menerjang-nerjang.
....Panggil dokter..... Kata si Dali seperti berteriak.

Dan semua orang serta merta berdiri di sekeliling ranjang Otang, memandang dengan rasa cemas.
Bingung karena tidak tahu mau melakukan apa.

Tak lama kemudian dokter tiba. Semua pelayat disuruh ke luar.
Mereka menanti di ruang tunggu khusus pelayat dengan perasaan masing-masing.

si Dali duduk pada kursi fiber.
Perasaannya tertumpah pada kondisi Otang yang tiba-tiba gawat.
Pikirannya menjalar kemana-mana dalam mencari sebab kenapa Otang secara tiba-tiba gawat.

Apa Otang merasa tersinggung karena mendengar kata-kata salah seorang pelayat, yang menyamakan dirinya dengan Inyiak Lunak, si tukang canang dengan canangnya yang pecah?

si Dali yakin menyebut nama Inyiak Lunak dekat Otang, apalagi menyamakan dirinya, membangkitkan luka masa lalunya.

Masa lalu ketika perang berkancah di kampung halamannya.
Ketika negara memandangnya sebagai penghianat bangsa.
Ketika istri dan mertuanya sama menghianatinya.
Ketika ukuran dan nilai kekhianatan tidak lagi jelas.

Kayutanam, 5 Desember 1997
A.A. Navis


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org