Halaman ini sudah dilihat oleh: 835 orang,




Lentera
Lentera mesti dipasang
Oleh : Muhammad Daviq Said

“Kita dapat perintah dari tentara Pusat, mulai hari Sabtu besok setiap rumah harus memasang lentera di depan rumah.”
Perintah ini disampaikan melalui nyiak wali nagari.

Tadi siang nyiak wali menyampaikan kepada kami para wali jorong agar menyampaikannya kepada warga.
Jangan dilawan pula perintah ini, daripada jadi perkara pula nantinya,” ...... begitu wali jorong menyampaikan kabar di hadapan penduduk kampung yang dikumpulkan di Sekolah Rakyat.

“Jadi ini perintah yang tidak boleh ditawar lagi?
Mantun (=begitu) ?” tanya Sutan Nangkodoh sinis.
“Penat kita Nangkodoh........ Dilawan tidak kan terlawan......
Kalau Nangkodoh lawan bisa jadi....... dibawanya Nangkodoh tidur perai (gratis) ke kantor Buter.......
Lantas angan Nangkodoh? tanya wali jorong.

“Kita benar-benar sudah terjajah,” Sutan Nangkodoh menggerutu.
“Sebenarnya apa keperluan lentera itu ?” tanya Sutan Bagindo.
“Kata yang membuat perintah, supaya orang ronda dapat mengawasi seandainya ada tentara luar menyelinap masuk kampung,” wali jorong menjelaskan.

“Dimana lentera ini mesti dibeli?
Dimana pula mesti diletakkan setiap malam?” tanya tek Saripah.
“Di pekan ada orang menjualnya, kak. Meletakkannya boleh di depan jendela. Gantungkan dengan paku di depan jendela,” jawab wali jorong.
“Datang angin, bisa terpanggang rumah. Berlaba besar galas,” Sutan Nangkodoh masih menggerutu.

“Insya Allah tidak akan sejauh itu. Lentera itukan berdinding kaca. Biar ditiup angin tidak akan apa-apa.”
“Kencang angin, terbalik lentera itu tumpah minyaknya, disambar api. Bukankah itu mungkin terjadi?” Katik Sati ikut berteori.
“Hutang saya menyampaikan, tuan-tuan, kakak-kakak. Mau tuan-tuan terima, mau tuan-tuan tolak, terpulang kepada tuan-tuan juga.”

Orang banyak akhirnya diam. Yang disampaikan wali jorong itu benar.
Janganlah terpikir untuk mencari perkara.
Berat resikonya.
Kalau takut rumah akan terpanggang, pandai-pandailah menempatkan lentera itu di depan rumah.
Mulai petang Sabtu, semua rumahpun berlenteralah.

Bertambah kesibukan setiap penghuni rumah.
Lentera itu berupa sebuah lampu togok atau lampu minyak tanah kecil yang diletakkan dalam kotak persegi empat.
Tiga sisi kotak itu diberi berkaca dan satu sisi yang lain terbuat dari seng.

Lentera itu digantungkan di depan jendela tengah dan harus menyala sejak sesudah magrib sampai terbit matahari.
Tidak hanya rumah yang harus berlentera.
Pintu keporo dan pos ronda juga harus.
Nyalanya hampir tidak bermakna.

Di tengah malam yang gelap gulita, titik api kecil itu paling jauh hanya sanggup menyinari sebuah lingkaran yang tidak lebih dari satu meter.
Tapi yang penting kelihatannya adalah kepatuhan masyarakat.

Tentara pusat sering datang mengintai ke kampung itu.
Pagi-pagi, ketika penghuni rumah membukakan jendela, tahu-tahu bersirobok pandang dengan tentara yang tiarap di semak-semak di depan rumah memegang bedil siap ditembakkan.

Untunglah belum ada orang kampung yang ditembak ketika membuka jendela.
Entah apa yang diintai tentara pusat itu.
Atau boleh jadi mereka berharap, yang akan membukakan jendela anggota tentara luar.
Seketat-ketatnya pengawasan orang ronda, sesering-seringnya tentara Pusat datang mengintai mengendap-endap, tentara Luar dapat juga keluar masuk kampung dengan leluasa.

Biasanya mereka datang di sekitar tengah malam.
Mana mungkin tentara Pusat itu akan mau berjaga sepanjang hari sepanjang malam.
Di kampung itu ada beberapa orang anak muda yang ikut jadi tentara Luar.
Kalau sudah rindu dan teragak, mereka biasa pulang.
Kadang-kadang mereka tidur di rumah agak beberapa hari.
Tentu saja dengan bersembunyi-sembunyi.

Malam itu Pudin pulang ke rumah ditemani dua orang kawannya, Ancin dan Maaruf.
Hari sudah lewat tengah malam ketika dia mengetuk pelan-pelan dinding kamar maknya.
Etek Tipah segera terbangun.

“Engkau ?” tanya etek Tipah setengah berbisik.
“Iya mak, bukakanlah pintu,” jawab Pudin.
Etek Tipah bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mengendap-endap ke luar kamar, menuju pintu rumah.
Tangannya membawa lampu togok.
Lampu togok itu diletakkannya agak jauh dari pintu.
Dia kembali melangkah lambat-lambat ke arah pintu.
Di luar terdengar suara orang berbisik-bisik.
Etek Tipah berdebar-debar.

Sebelum membuka pintu ditanyainya sekali lagi.
“Engkau, Pudin?” tanyanya.
“Iya, mak. Kami bertiga,” jawab Pudin.
Barulah etek Tipah yakin bahwa itu adalah suara anaknya.
Dibukakannya kunci pintu dengan sangat hati-hati.
Ketiga orang yang berkelumun kain sarung itu masuk.
Masing-masing memegang senjata.

Pudin membantu mengunci pintu itu kembali.
“Di bilik belakang sudah mak siapkan nasi bungkus dan cerek air.
Kalian makanlah disana.
Mak akan tidur kembali,” kata tek Tipah, masih setengah berbisik.
“Iya, mak. Pergilah mak tidur. Bapak baik-baik saja?”
“Bapakmu baik-baik saja.”
“Mak, kenapa lentera mak tidak dinyalakan?”
“Ada aku nyalakan tadi. Mati terlihat olehmu?”
“Ya, mak. Mati.”
“Mungkin minyaknya habis. Bagaimana lagi? Perlu pula aku tambah minyaknya?”
“Tidak usahlah mak. Biarkan sajalah. Pergi sajalah mak tidur,” jawab Pudin.

Ketiga anggota tentara Luar itu masuk ke bilik belakang.
Mereka mendapatkan tiga bungkus nasi yang disediakan tek Tipah dan langsung menyantapnya.
Sesudah itu mereka langsung tidur.

Pagi-pagi subuh tek Tipah dan suaminya Sutan Mangkudun sudah bangun seperti biasa.
Mereka pergi ke sumur untuk berwudhu.
Waktu kembali dari sumur dan akan naik ke rumah mata tek Tipah melihat tiga pasang sepatu kain dekat pintu.
Sepatu Pudin dan kedua temannya.

Tek Tipah yang sangat hati-hati mengambil ketiga pasang sepatu itu dan menyimpannya kedalam karung padi.
Sesudah shalat subuh dan ketika hari sudah terang tanah, barulah dibukanya jendela.
Masya Allah.
Di bandur kebun di depan rumah duduk seorang tentara Pusat memegang senjata.
Darah tek Tipah berdesir, tapi dia berusaha tenang.

“Hei! Ibuk ! Kenapa lampu lentera tidak dihidupkan semalam?” tanya tentara itu dengan suara garang.
“Ada dihidupkan pak. Mungkin minyaknya habis,” jawab tek Tipah setenang mungkin.
“Bohong ! Memberi tanda untuk tentara pemberontak ya ?” tanyanya tetap garang.
“Tidak, pak. Minyaknya habis,” jawab tek Tipah yang telah menurunkan lampu lentera itu.
“Buka pintu. Saya mau geledah rumah ini,” perintah tentara itu.
Tentara itu memanggil temannya

“Baik, pak. Silahkan,” jawab tek Tipah agak gugup.
Pudin dan kedua temannya sudah terbangun mendengar perbantahan maknya dengan tentara di halaman.
Tek Tipah mampir ke kamar belakang sebelum menuju pintu rumah.
Dengan isyarat disuruhnya ketiga anak muda itu masuk ke dalam kapuk padi yang pintunya tertutup tikar alas kasur.
Dengan sigap dan penuh kehati-hatian mereka gulung kasur tempat mereka tidur dan meletakkan ke sudut bilik.
Tikar alas kasur mereka geser sedikit lalu pintu kapuk padi itu mereka buka.
Ketiganya turun pelan-pelan kedalam kapuk dan menutup pintunya dari dalam.
Semua dilakukan sesenyap-senyapnya.
Tentara pusat itu menggedor pintu dan berteriak.

“Cepat buka pintu ini!” perintahnya.
Tek Tipah berzikir dalam hati.
Dibacanya ayat kursiy.
Dia melangkah setenang mungkin ke pintu rumah dan membukakan kunci rumah.

“Silahkan masuk, pak,” katanya tenang.
“Ada berapa orang di rumah ini?” tanya si tentara.
“Berdua. Saya dan suami saya. Suami saya kurang sehat, dia ada di bilik,” jawab tek Tipah.

Dua orang tentara itu masuk ke dalam rumah tanpa melepas sepatunya.
Menggeledah ke semua ruangan dan kamar.
Menyenter ke arah loteng, ke belakang lemari.
Di kamar belakang dilihatnya gulungan kasur di sudut dan tikar setengah kusut di lantai.
Tidak ada siapa-siapa.
Untunglah cerek maupun daun bekas nasi bungkus sudah dibawa masuk kapuk.

Di kamar depan mereka dapati Sutan Mangkudun yang berkeringat dingin di tempat tidur.
Tentara itu membungkuk memeriksa kolong tempat tidur.

“Sakit apa orang tua ini?”
“Demam panas, pak,” jawab tek Tipah.
“Bukan tentara PRRI?”
“Bukan pak.”
“Ada anak ibuk jadi tentara PRRI ?”
“Tidak ada pak,” jawab tek Tipah. Kepalang berbohong.
“Mana lampu lentera tadi, coba saya lihat,” katanya lagi.
Tek Tipah bergegas mengambil lentera itu.
Tentara itu memeriksanya.

“Tiap hari harus diperiksa. Sebelum dinyalakan, diisi dulu minyaknya. Faham?”
“Iya, pak.”
“Ya, sudah. Permisi.”

Kedua tentara itu keluar dari rumah dan berlalu.
Etek Tipah sujud syukur begitu mereka sudah sampai di halaman.
Mak Tangkudun suaminya terkencing-kencing di celana karena ketakutan.

Kira-kira sepuluh menit sesudah tentara itu berlalu, barulah Pudin membukakan pintu kapuk.
Pengap juga di dalam kapuk padi itu karena memang tidak ada jendelanya.
Untunglah mereka tidak sampai terbatuk ketika berada di dalamnya.

“Bagaimana seandainya mereka tahu kita ada disini?”
tanya Maaruf yang memang agak sedikit pengkhawatir di antara mereka bertiga.
“Kalau sudah begitu tidak ada lagi cara lain. Kita kan ada berbedil pula,” jawab Ancin.

“Maksudmu? Kau akan menembak mereka?” “Harus,” jawab Ancin mantap.
“Tapi sesudah itu akan mereka panggang kampung ini,” jawab Maaruf.
“Sudahlah. Kan dia sudah pergi. Tidak perlu pula dipertengkarkan,” Pudin mencoba menengahi.

“Tentara kalera,” Maaruf masih menggerutu.
“Bukan. Mereka tentara lentera,” jawab Ancin.
Maaruf dan Pudin tertawa tertahan mendengarnya.

Peringatan penting

Sudah terbukti ketika perang
tempat berlindung orang Minang
bukan di dataran tanah lapang
tapi di rimba Hutan yang lengang


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.org