Halaman ini sudah dilihat oleh: 3182 orang,

1. Cikal Bakal Pesawat AURI

Menurut catatan sejarah pribumi
Cikal bakal pesawat AURI
Kapal terbang pertama sekali
Sumbangan penduduk anak nagari

Kalimat di buku pelajaran sejarah
Wajib diketahui anak sekolah
Faktanya benar, berani sumpah
Tulisannya dikutip seperti di bawah

Ribuan amai-amai yang berasal dari nagari-nagari di sekitar Kota Bukittinggi, berkumpul di Lapangan Kantin Bukittinggi mengumpulkan apa saja jenis perhiasan emas.
Sabelek ameh takumpuan (satu kaleng besar emas telah terkumpul), .....kata Abdul Samad, yang saat itu terlibat langsung menggalang massa.
Selama lebih kurang 2 bulan panitia bekerja dengan bantuan tokoh masyarakat terkumpul emas perhiasan amai-amai sebanyak 1 belek, lalu emas itu dilebur menjadi emas batangan yang beratnya 14 kg lebih.

Waktu itu mengumpulkan emas sebanyak itu tidak begitu sulit karena semangat amai-amai untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan juga bergelora, lagian amai-amai di ranah minang banyak yang memiliki emas perhiasan karena emas bagi mereka merupakan benda penyimpan kekayaan dan lambang kemuliaan seperti diungkap pepatah, bapak kayo, mandeh baameh, mamak disambah urang pulo atau bapak kaya, ibu menyimpan emas, paman dihormati orang pula.

Awal Desember 1947 pesawat Avro Anson yang akan dibeli itu mendarat di lapangan udara Gadut, kedatangannya disambut antusias warga masyarakat.
Pada 9 Desember 1947 Avro Anson diterbangkan oleh Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma ke Songhkla Tailand, untuk membeli perlengkapan senjata di Thailand.

Namun naasnya, Avro Anson jatuh di Tanjung Hantu negara bagian Perak, Malaysia.
Dalam kejadian itu jenazah Halim Perdanakusuma diketemukan namun Iswahyudi tidak dike tahui nasibnya sampai sekarang.
Penyebab jatuhnya pesawat juga tidak diketahui secara pasti, apakah karena kerusakan, cuaca buruk atau karena sabotase.

Untuk mendapatkan senjata perang
Orang kampung banyak menyumbang
Berbentuk perhiasan seperti Gelang
Emas dibarter kapal terbang

Meski bukan fatwa Kyai
Ibu-ibu dan Amai-amai
Melepas kalung yang sedang dipakai
Tak terhitung apabila dinilai

Dari catatan masa-lalu
6 Juli di Tanjung Hantu
Karena rusak, mesin terganggu
Pesawat jatuh ke laut biru

Bukannya menghasut atau mengasung-asung
Menyebut anak tak tahu diuntung
Bak melawan ibu Kandung
Saat AURI menyerang kampung

Cerita kisah di syair ini
Untuk mengingatkan kesalahan terjadi
Jangan sampai terulang kembali
Jakarta menyerang nagari-nagari

Belajar pengalaman perang dunia
Pihak yang menang menguasai udara
Strategi ditiru oleh Jakarta
AURI menggempur kota dan desa

2. Ditemukan Bangkai Pesawat di Hutan Singkarak

Bukik Sintuak dan Bukik Kaluang
dulunya dihuni bermacam binatang
Pernah dijaga pagi dan petang
untuk mengusir musuh yang datang

Senjata otomatis 12 koma tujuh
pelurunya berantai, berpuluh-puluh
sangat ditakuti oleh musuh
mampu menembak pesawat jatuh

Seperti dikisahkan saudara Djasri
mantan pejuang sukarelawan PRRI
di bukit Kaluang peristiwa terjadi
mitraliur menyalak, pesawat pergi

Untuk remaja yang lebih cerdas
membaca syair mungkin tak puas
makanya Djasri bercerita lugas
bentuknya essay lebih jelas

Suatu pagi pada tahun 1959, saya berjalan naik mendaki ke puncak bukit Kaluang.
Di puncak bukit disiapkankan senjata otomatis penembak pesawat berupa senapang kaliber 12,7.
Sesampai di puncak ternyata senjata berat itu hanya ditunggu oleh satu orang saja yaitu sdr. Hasan Basri, yang biasanya dipanggil si Bai.
Pai ka maa anggota lainnya (pergi kemana anggota lainnya), pertanyaan saya kepada si Bai dalam bahasa Minang.
Si Bai menjawab: Kawan-kawan sedang turun ke bawah mencari rokok.
Belum sampai si Bai melanjutkan cerita tentang kawan-kawannya yang tidak berdisiplin itu, tiba-tiba muncul pesawat Mustang yang terbang rendah menuju ke arah kami.
Nah, itu dia kapal terbang menuju ke sini,... kita tembak saja!.
Langsung si Bai mengokang senjata berat itu dan mengarahkan muncung senapan ke arah pesawat.
Saya membantu/menadahi rantai peluru tersebut.
Tak sampai kira-kira sepuluh butir peluru ditembakkan, pesawat langsung berbelok ke arah kiri menyusuri lereng gunung merapi, sambil mencoba terbang lebih tinggi.
Akhirnya pesawat menghilang dari pandangan kami.
Sekitar tahun tujuh puluhan, saya membaca berita koran, bahwa telah ditemukan bangkai pesawat di rimba hutan di tepi danau Singkarak, antara nagari Malalo dan Padang.
Berita koran ini saya sampaikan kepada si Bai yang sedang berjualan kelapa di Pasar Bawah Kota Bukit Tinggi.
Alangkah kaget dan masgulnya si Bai membaca berita tersebut.
Dia seakan-akan ketakutan untuk dipanggil oleh pihak yang berwajib dan ditanyai macam-macam.

Untuk membuktikan kebenaran cerita
tugas Anda para mahasiswa
jangan malas untuk bertanya
sebelum saksi wafat semua

Maha siswa punya nilai tambah
kalau mau menulis kisah
lalu dijadikan data sejarah
kemudian dilewakan lewat ceramah

3. Pesawat terbang menyerang nagari Tanjung

Tidak berjadwal dapat diduga
Datang muncul tiba tiba
Mungkin Jumat atau Selasa
Setiap waktu harus waspada

Suatu pagi pada hari Jum-at
Tanggal dan bulannya tak lagi ingat
Di langit melayang dua pesawat
Kapal terbang sangat cepat

Pesawat digerakkan baling baling
Dilengkapi mitraliur di badan samping
Menyusuri lembah menghindari tebing
Mencari sasaran yang dianggap penting

Pesawat, terbang setinggi kelapa
Pilot kelihatan bertopi baja
Target sasaran ditentukan mata mata
Tampak jelas di atas peta

Kapal terbang bercocor merah
Di bawah awan melayang rendah
Suara mendengung seperti lebah
Ketika menembak ibarat muntah

Pesawat Mustang jenis pemburu
Membawa senjata berisi peluru
Ada sasaran hendak dituju
Kantor Koterketj akan disapu

Koterketj = Komando Teritorial Kecamatan milik PRRI

Kantor menumpang di rumah Dt. Soda
Di kampung Mandahiling sebelah utara
Di situ tersimpan banyak senjata
Diintai musuh sejak lama

Pelurunya besar seempu kaki
Bisa membakar mengeluarkan api
Mengenai tubuh langsung mati
Darah ke luar banyak sekali

Bom dijatuhkan salah sasaran
Menimpa rumah yang di depan
Rumah hancur bak diterjang topan
Atapnya terbang jatuh berserakan

Agar operasi tak dianggap gagal
Ketika perang bukan frontal
Objek dipilih asal asal
Banyak sasaran tidak dikenal

Saat musuh tidak tampak
Tempat rimbun langsung ditembak
Peluru melesat tak mungkin ditolak
Terkena pelor langsung tergeletak

Banyak pohon di tepi sungai
Di situ bersarang burung dan tupai
Tempat sembunyi yang sangat disukai
Dari pesawat sulit diintai

Sudah takdir ketetapan Ilahi
Meski tiarap di tempat sepi
Adnan bergelar Malin Sati
Terkena peluru langsung mati

Saat penulis masih kecil
Belum kuat menyandang bedil
Ingin bertempur rasanya muskil
Makanya tetap jadi orang sipil

Dalam situasi keadaan panik
Orang berlari hilir mudik
Disertai tangis, diikuti pekik
Bandar dicari walau ada cirik

Tempat aman untuk sembunyi
Di dalam bandar berisi tahi
Jijik dan busuk tiada peduli
Menunggu pesawat terbang pergi

4. Pesawat terbang membakar musnah nagari Andoleh Baruah Bukik

Tentara Pusat selalu menang
Karena dibantu kapal terbang
Dari jauh pesawat datang
Tiada hambatan mampu menghalang

Saksi hidup yang masih ada
Sjamsir Sjarif lengkapnya nama
Kini bermukim di benua Amerika
Di Santa Cruz state California

Walau tidak memanggul senapang
Sjamsir Sjarif ikut berjuang
Sebagai kurir juru penerang
Ke banyak nagari Sjamsir datang

Memberi penerangan kepada rakyat
Agar tak gentar melawan Pusat
Karena Soekarno telah sesat
Harus diperangi sampai lumat

Ketika Sjamsir dari Lintau
Hatinya sedih sangat risau
Sebagai kenangan di masa lampau
Sjamsir menulis dari rantau

Hati agak badampong-dampong manurun dari Puncak Pato ka Andaleh Baruah Bukik, nagari tu tingga asok-asok jo abu rumah tabaka sajo lai. Rumah Gadang nan Ambo tumpangi lalok wakatu ka pai ka Selatan sabalunnyo pun indak ado bakehnyo lai karano dibom api dari kapatabang Pusek. Di sinan iyo titiak aia mato mancaliak dan maagak-i kama lah Rang Kampuang ka pai ijok ? Kalau ijok sajo lai tampek untuak pulang, tapi kini rumah-rumah untuak pulang tu alah habih jadi abu....?

Hati dag, dig, dug turun dari Puncak Pato menuju Andaleh Baruah Bukik, nagari itu tinggal asap dan abu saja lagi. Rumah Gadang yang saya tumpangi tidur ketika pergi ke Selatan sebelumnyapun tidak ada lagi bekasnya karena dibom api oleh kapal terbang Pusat. Ketika itulah menetes air mata memikirkan ke mana orang kampung akan pergi lagi. Kalau ijok (bersembunyi ke hutan) saja ada tempat pulang, tapi kini rumah rumah untuk pulang itu telah habis jadi abu....

14-8-2009

Santa Cruz, California
Sjamsir Sjarif

Walau tiada bukti kodak
Sebelum pesawat melepas tembak
Api menyala tak bisa jinak
Karena pilot menumpahkan minyak

Ketika udara panas menyengat
Temperatur lebih 30 derajat
Api menjalar sangat cepat
Tiada pencegahan bisa dibuat

Karena rumah musnah terbakar
Hidup sehari-hari jadi sukar
Tidur di tanah beralas tikar
Disertai derita menahan lapar

Kalau kebakaran terjadi di kota
Api dipadamkan oleh PBK
Musibah dikampung timbulkan sengsara
Tiada bantuan bisa diminta

Semua harta menjadi abu
Hidup serupa di rimba kubu
Kain tersisa selembar baju
Tiada pemerintah datang membantu

Andoleh Br. Bukik dibumihanguskan
Habis semua harta kekayaan
Termasuk pula bahan makanan
Hanya baju tinggal di badan

Beginilah strategi saat berperang
Tentara Pusat tak berani datang
Nagari Andoleh lalu dipanggang
Dengan bom pesawat terbang

Pesawat Mustang cocornya merah
Terbang melayang sangat rendah
Menembakkan mitraliur bagaikan muntah
Peluru ditujukan ke segala arah

Warisan pusaka datuk datuk
Rumah godang beratap ijuk
Berkayu Surian tak mungkin lapuk
Kini hangus tiada berbentuk

Menjadi topik buah bibir
Rumah godang dinding berukir
Ukirannya rancak berulir ulir
Nilainya tinggi tak mungkin ditaksir

Tak mungkin ditaksir dengan rupiah
Begitu adat Minang-Ranah
Ketika rumah dibakar musnah
Harga diri menjadi rendah

Ketika perang menegakkan kebenaran
Orang Andoleh banyak berkorban
Ninik mamak beserta kemenakan
Nyawa dan harta jadi taruhan

Akibat nagari dilalap api
Bermacam kerugian telah terjadi
Tidak hanya kehilangan materi
Hewan ternak banyak yang mati

Ketika api tinggi menjulang
Terasa panas tidak kepalang
Binatang mati di dalam kandang
Kerbau dan Jawi hangus terpanggang

Rezim Soekarno bersalah besar
Saat sekolah ikut dibakar
Hilang sudah ruang belajar
Semua murid jadi terlantar

Setelah surau hangus membara
Tiada lagi kitab tersisa
Qur’an dicari kemana mana
Untuk pedoman belajar agama

5. Serangan udara di Lintau

Ketika perjuangan melawan rezim Soekarno
Ada kisah dari nagari Topi Selo
Dahulu di kecamatan Lintau Buo
dalam kabupaten luhak nan Tuo

Karena tak perlu mempromosikan diri
Sumber cerita tak ditulis di sini
Orang pribumi, penduduk asli
Istilahnya disebut anak nagari

Dikatakan gaek 84 tahun
Banyak pengalaman bertimbun timbun
Ingatannya jernih tidak pikun
Bicaranya lancar sangat santun

Supaya yang salah jangan ditiru
Beliau bercerita merasa perlu
Kisah perang di masa lalu
Untuk pelajaran anak cucu

Tahun 60 pertengahan Februari
Ketika Lintau belum diduduki
Bulan Ramadhan waktu yang suci
Datang serangan pesawat AURI

Ibarat kerja kurang profesional
Objek yang dipilih tak dikenal
AURI menembak asal asal
Makhluk tak berdosa ditimpa sial

Saat cuaca cukup terang
Tiada kabut jadi penghalang
Dari selatan pesawat datang
Mengikuti arah jalan yang panjang

Di Topi Selo dimulai letusan
Pilot melihat objek sasaran
Kenderaan rusak di tepi jalan
Langsung dihujani dengan tembakan

Peluru menyasar tiada kendali
Mengenai Kerbau milik pak Wali
Hewan yang malang langsung mati
Menjadi bangkai haram dikonsumsi

Kerbau gemuk kesayangan Pak Wali
Bisa dipakai menarik pedati
Menjadi bangkai tertembak mati
Oleh mitraliur pesawat AURI

Perang saudara penuh ironi
Datuk Kamaluddin sebagai Wali
Pendukung setia perjuangan PRRI
punya kerabat pegawai AURI

Meskipun Kerbau binatang peliharaan
Penyebab mati juga ketahuan
Tidak bismillah menyebut Tuhan
Dagingnya haram untuk dimakan

Kerbau yang mati langsung dikubur
Di tengah sawah penuh lumpur
Setelah bangkai menjadi hancur
Tanah bertambah lebih subur

Tiada perlawanan dari bawah
Pesawat Mustang berkepala merah
Terbangnya cepat sangat rendah
Melewati nagari Sawah Tongah

Ranah Batu di Tanjuang Bonai
Tempat pedagang membuka kedai
Hari Sabtu sedang ramai
Pesawat menembak tanpa mengintai

Tanpa diintai dengan teliti
Pasar ditembak berkali kali
Banyak yang luka, ada yang mati
Tak ada catatan sebagai bukti

Orang yang luka dibawa ke Lubuk Jantan
Mereka dipikul dengan Usungan
Sebelum sampai di tempat tujuan
Ada mati dalam perjalanan

Ketika darurat keadaan sulit
di Lubuak Jantan ada Rumah Sakit
Jenis pelayanan tidak komplit
Obat obatan sangat sedikit

Mantri Hamid petugas kesehatan
Pegawai rumah sakit banyak pengalaman
Saat mengungsi di Lubuak Jantan
Membantu PRRI karena keyakinan

Korban diusung satu persatu
Kain sarung dijadikan tandu
Disisipi tangkai potongan bambu
lalu dipanggul di atas bahu

Orang yang mengalami luka parah
Tubuh mengeluarkan banyak darah
Bajunya basah berwarna merah
lalu dibacakan lailahaillaAllah

Ibarat jenazah di jalan raya
Darah berceceran di mana mana
Itulah sebagian jazat manusia
Wajib dikubur, jangan disia sia

Dengan kehendak yang Maha di Atas
Datang hujan yang sangat deras
Hakekatnya penguburan telah tuntas
Tiada lagi darah membekas

Ada pula korban luar biasa
walau di tubuh tiada luka
Karena stres mengalami peristiwa
Menjadi bisu tak mampu bicara

Dalam situasi darurat perang
Tak tersedia obat penenang
Beliau disuruh banyak sembahyang
Supaya jiwa menjadi tenang

6. Sekolah Rakyat Teladan di nagari Sulit Air ditembak pesawat Terbang

Kini waktunya untuk mencatat
Kejadian penting yang pernah dilihat
Peristiwa lama yang masih teringat
Ketika Sulit Air diserang tentara Pusat

St. Makmur anak engku Manan
Pada akhir tahun 58
Pelajar kelas 5 SR teladan
Duduk di bangku paling depan

St. Makmur, suku Limo Panjang
Awal 61 pindah ke Palembang
Setelah nagari dilanda perang
Kini berprofesi sebagai pedagang

Berbagi pengalaman pahit dan getir
Saat musibah menimpa Sulit Air
Setiap waktu selalu kuatir
Rasanya hidup segera berakhir

Kejadian penting sangat membekas
Ketika Makmur belajar di kelas
Mendengar deru yang sangat keras
Dari pesawat yang sedang melintas

Sering bahaya muncul sekejap
Sekolah membuat suatu protap
Semua murid harus tiarap
Di tepi dinding, di bawah atap

Pukul 9 di pagi hari
Waktu kampung sedang sepi
Penduduk ke sawah pergi bertani
Tiba-tiba muncul pesawat AURI

Barkali kali pesawat keliling
Terkadang posisinya terbang miring
Sambil menembakkan peluru runcing
Orangpun berlarian pontang-panting

Etika perang yang biasa berlaku
Baik sekarang ataupun dahulu
Harus jelas tembakan yang dituju
Besar resikonya kalau keliru

S.R Teladan 10 lokal
Objek tembakan asal-asal
Kalau dipikir sangat janggal
Atau pilotnya tidak profesional

Peluru merusak dinding sekolah
Tak ada murid yang luka berdarah
Mereka mengucap syukur alhamdulillah
Telah terhindar dari musibah

Karena Allah punya kekuasaan
Chaidir Kurning dilindungi Tuhan
Rumahnya rusak kena tembakan
Atapnya bolong sebesar jari tangan

7. Serangan Udara di Kinari

Kisah di ceritakan Angku Warneri
Serangan udara di Nagari Kinari
Ketika dia seorang diri
Duduk di Lapau menunggu pembeli

Masih langka tinta Dawat
Tanggal peristiwa tidak dicatat
Hanya Warneri selalu ingat
Karena dirinya telah selamat

Angku Murad Dubalang Sati
Ayah kandung saudara Warneri
Termasuk aktivis partai Masyumi
Pendukung setia perjuangan PRRI

Karena mendukung kelompok perjuangan
Tokoh Masyumi masuk catatan
Menjadi target perlu dihancurkan
Dengan Bom atau tembakan

Warneri berusia delapan tahun
Karena mengantuk baru bangun
Menjaga warung sambil melamun
Kampung ditembak tanpa ampun

Walau tidak asrama tentara
Bukan pula tanpa sengaja
Telah digambar di dalam peta
Menjadi target serangan udara

Ketika peluru mengenai drum minyak
Warneri terkejut, lalu berteriak
Memanggil Ibu serta Bapak
Begitulah sifat anak-anak

Bahan bakar minyak tanah
Harga sekaleng sepuluh Rupiah
Kena peluru menjadi tumpah
Lantai lapau semuanya basah

Sesudah minyak tumpah ke lantai
Warneri sigap tiada lalai
Dia melompat ke luar Kedai
Menatap langit, mata mengintai

Tampak di langit ada pesawat
Terbang rendah sangat cepat
Begitu jelas mudah terlihat
Angkatan Udara tentara Pusat

8. Damhuri Gafur bercerita tentang Sumpur Kudus, di Kabupaten Sijunjuang

Narasumber bernama Damhuri Gafur
Orang Tua, panjang umur
Penduduk asli nagari Sumpur
Bersaksi tentang pesawat tempur

Masih segar dalam ingatan
5 Mei tahun lima delapan
Saat petani memikul beban
Melewati sawah di tepi hutan

mamak-mamak membawa getah
meniti pematang di tengah sawah
datang pesawat tak jelas arah
langsung menembak tanpa Bismillah

Mereka terkejut setengah mati
getah ditinggalkan lalu berlari
sambil mengucap Allahurobbi
mohon perlindungan badan-diri

Ada pula yang langsung tiarap
berdiam diri tangan sedekap
mulut bergetar sambil mengucap
dipanggil Izrail sudah siap

Walau semua sangat cemas
nyawa terasa mau lepas
tapi berpikir masih waras
tak akan mungkin menuntut balas

Menurut sejarah Sumpur Kudus
Tahun 60, 18 Agustus
perlu diingat secara khusus
jangan dilupakan, apalagi dihapus

Akibat laporan mata-mata
kampung ditembak membabi buta
oleh AURI lewat udara
menimbulkan korban harta dan nyawa

Ketika spion memberi informasi
di Sumpur berkumpul pemimpin PRRI
Sedang merayakan hut R.I
Bisa dibom sampai mati

walau nagari didalam hutan
HUT RI diperingati besar-besaran
para pelajar ikut perlombaan
orang dewasa membuat permainan

Satu hari setelah upacara
Datang pesawat membuat bencana
Membidik sasaran dimana mana
Dua korban anak remaja

Begini petuah orang bijak
Takdir Allah berlaku mutlak
Mujur tak mungkin sekehendak
Malang tak bisa ditolak

Anwar dan Amir anak bujang
Mati tertembak kapal terbang
Saat berlindung di dalam lubang
Karena peluru tak mengenal orang

Mereka berdua pelajar S.M.P
Anak kesayangan Ibu dan Ande
Tak cukup umur masuk T.P
Belum mampu menyandang L.E

ande = ibu (MK)
T.P = Tentara Pelajar
L.E = Lee Enfield (sejenis senapan pada PD II)

Kampuang Koto pusat keramaian
SR, mesjid dan Balai Pengobatan
Dengan SMP letaknya berdekatan
Menjadi sasaran objek tembakan

Zender radio sebagai pemancar
menyampaikan berita berbagai kabar
dimasukkan juga di dalam daftar
sasaran penting yang selalu diincar

Di hulu sungai Batang Somi
di bukit Sibakua rimba yang sunyi
hutan Ulayat anak nagari
banyak berkeliaran Beruk dan Babi

Dari kampung di tengah Koto
letaknya zender dua kilo
tempat Natsir menyampaikan pidato
untuk membantah propaganda Soekarno

Menyiarkan berita walaupun sedikit
Pemancar PRRI di lembah sempit
Zender terletak diantara bukit
Untuk ditembak sangat sulit

Kepala zender bernama Samsulbahri
punya pengalaman sangat ahli
asalnya Cubadak, di selatan Tapanuli
di Sumpur Kudus dia beristri

9. Serangan udara di nagari Sitalang dan Batu Kambing kabupaten Agam

Di Sitalang dan Batu Kambing
Pesawat Mustang berbaling-baling
Mitraliurnya dua di badan samping
Pernah menembak bukit dan tebing

Menurut Bustanuddin penulis kisah
Tembakan tertuju ke segala arah
Batang pohon ada yang rebah
Dahan dan ranting banyak yang patah

Ada dangau di tengah hutan
Tempat petani mencari makan
Dikira gubuk asrama gerilyawan
Lalu dibidik jadi sasaran

Nagari Batukambing dan Sitalang
Letaknya jauh susah diserang
Menjadi tempatan para pejuang
Sangat strategis di kala perang

10. Serangan Udara di Bukik Andiang Suliki

Bukik Andiang di daerah Suliki
Serangan udara dilakukan AURI
Tiada catatan secara rinci
Inilah ingatan seorang saksi

......., sesudah Bukik Andiang di Suliki ditembaki oleh tentara Pusat dari kapal terbang yang kami lihat dari Padang Jopang, kami tidak sempat lagi kembali ke tempat bapak Dt.Rajo Malano di Padang Jopang, dan tidak ada kabar sejak itu.
Sjamsir Sjarif
St. Cruz. Ca. US

Dari Padang Jopang Sjamsir melihat
AURI yang berpihak ke rezim Pusat
Melepas tembakan yang sangat dasyat
Serangan dibalas dari darat

Dalam peristiwa perang saudara
Tak semua AURI di pihak yang sama
Ada yang bergabung PRRI juga
Letnan Nazar seorang perwira

Letnan Nazar orang Limpasi
Dia berpihak kepada PRRI
Tak bisa disebut sebagai desersi
Karena Nazar membela nagari

Walau kondisi selalu siaga
tak ketinggalan ada upacara
hormat kepada bendera sang saka
diiringi lagu Indonesia Raya

Ada pula anggota Marinir
Orangnya bernama Sersan Zubir
Dengan adiknya prajurit Sawir
Menjadi pejuang sampai akhir

Di puncak bukit berhutan Damar
diselingi kerimbunan semak belukar
Merah Putih tetap berkibar
mereka memimpin Tentara Pelajar

Pertahanan di Andiang jadi terkenal
Karena komandannya prajurit professional
Musuh yang datang bisa menyesal
atau terkena musibah sial

11. Lembu menjadi Korban pada serangan udara di Guguak Sikaladi

Sebelum saksi meninggal habis
Jauda St. Bagindo ingin menulis
meskipun hanya beberapa baris
menggunakan syair kalimat puitis

Tiada korban yang sampai mati
di Guguak dekat Sikaladi
Pernah ditembak pesawat AURI
Bom meledak mengeluarkan api

Saat pesawat membom rumpun Bambu
Malang nasib seekor Lembu
Kena tembakan sasaran keliru
Dikira pejuang sembunyi di situ

Rumpun Bambu telah terbongkar
Tampak terlihat serabut dan akar
Batang dan daun lalu terbakar
Api menyala sangat besar

Lubuak Tan di Sungai Jambu
melalui darat sulit di serbu
pesawat udara datang membantu
menjatuhkan bom, menembakkan peluru

12. Serangan pesawat Udara di Balai Selasa (Agam) dan Koto Malintang (50 Kota)

Sampai akhir 1958, daerah Agam Barat, dari Maninjau, Lubuk Basung sampai ke Tiku belum diduduki oleh Tentara Pusat.
Daerah daerah luar kota masih dikuasai PRRI, dan suatu saat Asbir Dt. Rajo Mangkuto menemui kakaknya yang menjadi camat di Palembayan, sekaligus ingin bersilaturahmi dengan Demang Darwis, seorang bekas pejabat terkenal pada zaman Belanda yang ketika itu menetap di nagari Balai Selasa.

Asbir bersaksi suatu kejadiaan
Peristiwa terjadi di akhir 58
6 bulan sudah berkobar peperangan
AURI menebar biang ketakutan

Ketika Asbir pergi berkunjung
Menemui kakaknya saudara kandung
Beliau singgah ke suatu kampung
Balai Selasa dekat Lubuk Basung

Hari Selasa waktu pasaran
Banyak pedagang menunggu langganan
Tawar menawar biasa dilakukan
Penduduk larut dalam kegembiraan

Gembira berakhir tiba tiba
Terdengar deru pesawat udara
AURI datang tidak terduga
Manusia berlarian ke mana saja

Mulanya pesawat melintasi pasar
Tiada objek yang disasar
Tak lama waktu, hanya sebentar
Pesawat kembali setelah berputar

Melepas tembakan ratusan peluru
Ketika terkena permukaan batu
Benda keras saling beradu
Muncul partikel berujud debu

Saat peluru menyentuh tubuh
Ada yang langsung mati terbunuh
Ada yang beteriak menyebut aduh
Hilang semua sifat angkuh

Orang terbiasa mengucapkan zikir
Ketika maut telah hampir
Tiada lagi perasaan kuatir
Karena tak perlu olah pikir

Suatu ketika pukul satu siang Asbir Dt. Rajo Mangkuto turun dari persembunyian melewati Bukik Gadang di 50 Kota untuk menuju jorong Koto Malintang Nagari Sariak Laweh terlihat dari kejauhan sebuah pesawat datang dari arah utara Pasaman dan tepat di Jorong Koto Malintang menurunkan sebuah bom api dan membakar rumah penduduk.

Kobaran api terlihat dari kejauahan, sebelas rumah terbakar yakni: rumah Sulija, Baina, Ganiah, Raila Jambak, Duani, Laina, Kamsinar, Gadih, Reda, Kadijah dan Nuru.
Kejadiannya sekitar bulan Agustus 1959.

Pukul 1 waktu siang
Ini terjadi di Koto Malintang
11 rumah hangus terpanggang
Setelah kampung dibom kapal terbang

13. Ibarat Menembak Setan Hantu di Rimba Anai

Tanpa tanggal maupun bulan
di akhir tahun lima delapan
perang di Anai baik diceritakan
untuk anak cucu jadi pelajaran

Pertempuran dahsyat di air mancur
tentara Pusat tak bisa mundur
konvoi pasukan hancur lebur
banyak prajurit yang mati gugur

Karena unggul dalam siasat
kemenangan PRRI sering dicatat
banyak korban di pihak Pusat
ketika terjadi pertempuran hebat

Beginilah strategi yang dipakai
saat penghadangan di Lembah Anai
waktu musuh sedang lalai
hutan digunakan untuk mengintai

Tempat sembunyi para pejuang
rimba dijadikan sebagai sarang
sambil berlindung dibalik batang
sebelum mereka turun menyerang

Para perjuang menunggu kesempatan
setelah konvoi tampak kelihatan
pelatuk Bazoka lalu ditekan
diikuti tembakan berbagai senapan

Walau banyak korban yang tewas
tentara Pusat tak bisa membalas
Posisi musuh tiada jelas
PRRI berlindung di hutan luas

Pesawat diminta datang membantu
Tiada jelas sasaran dituju
hutan rimba disiram peluru
ibarat menembak mahkluk hantu

Kalau menembak setan hantu
peluru habis beribu-ribu
perbuatan mubazir tidak perlu
dikatakan orang sangat lucu

Operasi AURI di bukit lembah
bukan pekerjaan masalah mudah
kalau terbang sangat rendah
bukit diterjang pesawat pecah

Menurut berita banyak beredar
entah gosip, entah benar
karena operasi sangat sukar
pilot asing lalu dibayar

Pemikiran Soekarno pernah terpeleset
Republik Indonesia ikut terseret
untuk berpihak ke Uni Soviet
dengan imbalan pilot dan roket

Termasuk pula orang Cina
kalau tak awas menjadi bencana
seperti Jepang dengan Belanda
pernah menjajah Nusantara

Pekerjaan gila lalu dimulai
harus dibersihkan rimba Anai
di bawah pimpinan Buyung Kirai
rakyat dikerahkan beramai-ramai

Buyung Kirai komandan OPR
Anak parewa, sering teler
Sangat pongah, merasa super
penunjuk jalan operasi militer

OPR dipimpin Buyung Kirai
memaksa penduduk beramai-ramai
membabat hutan di lembah Anai
sampai ke pinggir tepi sungai

Penduduk dikerahkan bergotong-royong
mereka datang berbondong-bondong
semak belukar lalu dipotong
tampaklah bukit kosong melompong

50 meter dari tepi jalan
di sebelah kiri maupun kanan
lapangan luas tiada kehidupan
tak ada mahkluk yang berkeliaran

Kalau berpikir tentang resiko
aturan tak boleh dibuat sembrono
membabat hutan berakibat galodo
bisa menimbun lapau dan toko

Sudah terbukti ketika perang
tempat berlindung orang Minang
bukan di dataran tanah lapang
tapi dirimba hutan yang lengang

Kita semua tak perlu ragu
pelajaran penting dari masa lalu
ketika Soekarno bertindak keliru
rimba dan hutan telah membantu

Kini hutan banyak dirusak
oleh kepentingan berbagai pihak
termasuk pejabat bersifat tomak
harus dilawan wajib ditolak

Depok 1 September 2016