Halaman ini telah dilihat oleh: 506 orang

www.nagari.or.id

Kisah-pengalaman Waliperang dari nagari Simarasok saat Pergolakan PRRI di Ranah Minang

Oleh: Saiful Guci dan H. si Am Dt. Soda
21 November 2015

Pendahuluan

Asbir Datuk Dt. Rajo Mangkuto
Wajahnya terlihat tampil di foto
Aslinya Simarasok, di Agam Tuo
Berbagi pengalaman melawan Soekarno

Saat berkisah badannya sehat
Cerita beliau tak dibuat-buat
Masalah waktu mungkin tak tepat
Semua kejadiaan dia ingat

Ketua Perwanest di zaman bergolak
Seorang pangulu, niniak mamak
Banyak saudara serta dunsanak
Pantang dibujuk atau digertak

Karena cinta kepada nagari
Ketika dipilih menjadi Wali
Asbir tak mengharap honor dan gaji
Apalagi sogok ataupun komisi

Wali ditugaskan menyediakan logistik
Dilengkapi keterangan kertas secarik
Dengan tulisan mesin ketik
Identitas dibawa hilir mudik

Urusan logistik tentara yang berperang
Sangat menentukan kalah dan menang
Seandainya ransum sangat kurang
Prajurit tak mampu berlari kencang

Di tengah pertikaian pasukan bersenjata
Asbir boleh dengan leluasa
Memiliki dua macam jenis senjata
Satu Jenggel dan satu pistol Bareta

Asbir Dt. Rajo Mangkuto lahir 14 Juli 1934 di Simarasok.
Ayahnya bernama Abdul Latif Dt. Panduko Sati, tamatan sekolah Rajo di Bukittingi, mantan Wali Nagari Simarasok 5 priode.
Ibu bernama Sarinan asal Ambacang Kamba, nagari Suayan.
Perempuan ahli silat, anak dari Tuanku Sutan yang bergelar Dt. Rajo Mangkuto dan merupakan pelatih silat berasal dari Suayan, suku Piliang.
Jarak antara Simarasok dengan Suayan kira-kira 2 jam perjalanan, melewati bukit Kubang Badak dan Bukit Sarang Alang di lereng Bukik Kapanehan.

Bukik Kapanehan (kepanasan), tingginya 1200 meter di atas permukaan laut.
Disebut kepanasan karena dari lereng bukit, orang masih bisa melihat matahari (panas) beberapa saat setelah magrib maupun sebelum subuh.
Bukit besar ini dikelilingi oleh bukit bukit kecil yang merupakan hutan lindung daerah hulu sungai batang Sinamar.

Di sekeliling bukit besar ini membentang 9 nagari yang subur untuk lahan pertanian.

Yang termasuk ke dalam kabupaten 50 Kota adalah nagari nagari Sarik Laweh, Sungai Balantiak, Pauah Sangik dan Suaiyan.
Yang termasuk nagari nagari dalam Kabupaten Agam adalah nagari-nagari Salo, Tabek Panjang, Kamang Ilia, Padang Tarok, dan Simarasok.

Sejarah gerakan Komunis di sekitar Baso

Ketika pergolakan di zaman PRRI
Asal-muasal pertikaian yang terjadi
Melibatkan penduduk anak-nagari
Karena Islam bermusuhan dengan PKI

Waktu komunis sedang tumbuh
Di daerah Baso sangat berpengaruh
Mereka berjuang bersungguh sungguh
Saat situasi sedang keruh

Setelah runtuh pusat kekuasaan
Kondisi kacau menjaga kemerdekaan
Komunis mengambil sebuah kesempatan
Mendirikan komune di luar kebiasaan

Berbagai bukti secara emperik
Ideologi Komunis sangat munafik
Mereka memakai beragam taktik
Dianggap legal saat berpolitik

Di luar kebiasaan adat-istiadat
Kepada Allah tak perlu taat
Sering dikatakan tak berguna solat
Terkadang berbuat kerja maksiat

Menurut catatan yang pernah terbaca
Komune disebut sebagai surga
Bini orang ataupun janda
Boleh digauli asal sama suka

Supaya kisahnya lebih jelas
Pengarang menulis lebih bebas
Bentuk esei lebih pas
Silakan dibaca sampai tuntas

Saat terjadi pemberontakan anti-kolonial awal 1927, Tuanku Nan Putih dari Baso ikut terlibat.
Akhirnya, dia ditangkap dan dibuang ke Pamekasan, Madura.
Di sana ia menghuni penjara selama 3 tahun.

Ketika Jepang datang, Tuanku Nan Putih bersikap moderat.
Dia melakukan penyambutan terhadap kedatangan tentara Jepang.
Bahkan, dia sempat mendirikan organisasi kepanduan pemuda Dai Nippon.
Dia juga mendorong pengikutnya bergabung dalam laskar rakyat (Giyu Gun) bentukan Jepang.

Ketika Jepang memaksa rakyat menjadi Romusha, Tuanku Nan Putih membujuk penguasa Jepang agar para pengikutnya dipekerjakan pada pembangunan lapangan terbang di Gaduit, dekat Bukittinggi.
Adik tirinya, Boerhan Malin Kuning sering dipanggil Tuanku nan Hitam, pulang ke kampungnya di Baso pasca proklamasi kemerdekaan.
Ia mengajak 3 orang opsir Jepang beserta 2 kenderaan truk serta alat perbengkelan.

Orang-orang Jepang inilah yang dipakai untuk melatih penduduk cara membuat mesin, senjata, dan bertempur.
Istri Tuanku Nan Putiah memiliki tanah yang luas.
Di lahan tersebut mereka mendirikan pertanian kolektif (komune) dengan menanam jagung, ubi kayu, tebu dll.
Opsir Jepang membantu medirikan bengkel-bengkel untuk memproduksi senjata dan mesin lainnya.

Pekerjaan yang tidak sesuai sama sekali dengan norma agama adalah berbagi istri dalam komune pertanian tsb.
Untuk memberantas kelompok ini sangat susah karena mereka memiliki senjata rampasan dari tentera Jepang yang bermarkas di Ngalau Baso dan Padang Siantah Piladang.
Ketakutan masyarakat Baso berakhir ketika pasukan keamanan R.I yang dipimpin Dahlan Djambek menumpas komune.

Tuanku Nan Putih dan Tuanku Nan Hitam ditangkap.
Tak hanya itu, konon sebanyak 113 orang pengikutnya juga ikut tewas.
Tiga orang opsir Jepang, yang turut mengenalkan teknologi permesinan kepada penduduk, juga dibunuh.

PKI menentang Dewan Banteng

Pemilihan Umum yang pertama kali tahun 1955 memunculkan kembali gerakan Komunis/ PKI.
Ketika terjadi pembentukan Dewan Banteng tahun 1956, PKI merupakan penentang utama Dewan Banteng.
Selanjutnya para anggota komunis yang militan pergi ijok atau bersembunyi ke hutan.
Mereka takut ditangkap oleh pasukan Dewan Banteng.
Apabila tertangkap maka akan dipenjarakan di Situjuah, Suliki atau Muara Labuah.

Pada tahun 1956 Nurlis Dt. Mangkuto Basa, Ketua Barisan Tani Nagari Simarasok, Suayan dan Sariak Laweh membawa 20 orang pemuda Simarasok untuk latihan militer di Sipisang; daerah antara Matua dengan Batang Palupuah.
Sementara itu Asbir yang bertugas sebagai guru di ST 4 tahun di Padang Gamuak, Bukittinggi diangkat menjadi Wali Nagari Simarasok.
Pada akhir tahun 1956 Asbir dipilih sebagai salah satu ketua Persatuan Wali Nagari Sumatera Tengah (Perwanest).
Selain kaum Ulama, maka Perwanest adalah organisasi pendukung utama gerakan Dewan Banteng.

Salah satu kebijaksanaan Asbir sebagai Walinagari ialah menjamin keselamatan para anggota PKI untuk kembali ke kampung halamannya.
Mereka disuruh membuat surat perjanjian bersyarat.
Setiap sore wajib melapor ke Walinagari; selanjutnya mereka harus tidur di Mesjid dan melakukan sholat berjamaah.
Umumnya anggota PKI jarang yang sholat berjamaah.
Diumumkan pula, apabila sampai tanggal 31 Desember 1956 tidak melaporkan diri ke walinagari maka harus keluar dari nagari Simarasok.

Persiapan pertahanan nagari untuk orang sipil

Ketika agresi militer Belanda ke II atau periode PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) para wali nagari di Sumatera Tengah saat itu disebut sebagai wali perang.
Tugas mereka adalah mengkoordinasikan perang rakyat semesta atau mengikutksertakan seluruh potensi masyarakat untuk membantu PDRI dalam organisasi Badan Pertahanan Nagari dan Kota (BPNK).
Pasukan bersenjata membutuhkan logistik (makanan, pakaian) serta butuh bantuan mata mata, spion atau intel, kurir di daerah pendudukan maupun di daerah kekuasaan sendiri.
Dengan kata lain, pasukan bersenjata atau gerilyawan pejuang tak perlu repot repot mencari logistik sendiri.

Peranan walinagari semacam inilah yang dilakukan oleh Asbir Dt. Rajo Mangkuto ketika beliau dipilih menjadi wali nagari Simarasok saat terjadi pergolakan daerah.
Kota kota yang diduduki musuh membutuhkan pasokan bahan makanan seperti beras, daging telur, sayur yang semuanya merupakan hasil produksi daerah pedalaman yang dikuasai pejuang.
Disamping itu daerah pedalaman juga memproduksi hasil perkebunan kulit manis, cengkeh gambir, karet, kina, teh, buah pinang dsb.
Penjualan hasil pertanian dan perkebunan di luar daerah gerilya mendapatkan uang rupiah yang diterbitkan pemerintah Pusat atau Bank Indonesia.

Uang ini tidak berlaku di daerah pedalaman; oleh sebab itu rupiah tsb. terpaksa ditukar dengan rupiah PRRI yang nilainya lebih tinggi.
Para pedagang dari kota menukar rupiah Bank Indonesia dengan rupiah PRRI agar dapat membeli beras, sayur, daging untuk kebutuhan penduduk kota.
Mereka menjual hasil bumi di kota dan membeli kembali barang barang kebutuhan pokok yg tak diproduksi di pedalaman seperti kain, garam, minyak tanah, rokok, obat obatan dan termasuk pakaian hijau seragam militer, sepatu dsb.
Sebagai wali perang dari nagari Simarasok, Asbir berperan aktif untuk melayani para pejuang yang menyeberang dari utara ke selatan atau sebaliknya dari selatan ke utara di jalan raya antara Baso dengan Payakumbuh.
Pekan/pasar pasar di nagari nagari nagari Sungai Balantiak (Minggu), Suayan (Kamis) dan Koto Malintang (Senen) sangat ramai ketika itu.

Sekitar akhir Januari sd. tg. 10 Februari tahun 1958 Asbir mengikuti latihan intelijen bagi orang sipil.
Pelatihnya ialah Bakri Samad yang pernah dilatih tentara komando Amerika.
Bakri Samad diturunkan dengan parasut di Singkarak.
Selanjutnya Bakri Samad melatih calon perwira tentara PRRI yang dipusatkan di Balai Tangah, Lintau dengan pesertanya 30 orang.

Selesai mengikuti latihan intelijen Asbir Dt. Rajo Mangkuto diangkat sebagai komandan pengaman penyeberangan wilayah Selatan ke Utara (Bukitinggi - Payakumbuh - Pekan Baru) dan (Bukittingi - Lintau - Batu Sangkar - Solok) oleh komandan Korem Letkol. Djohan.
Tugas utama Asbir ialah menyiapkan semua logistik yang diperlukan berbentuk sumbangan padi, beras, obat-obatan dan uang sambil tetap menjalin hubungan antara daerah yang dikuasai tentera Pusat dan PRRI melalui orang-orang yang telah ditempatkan.
Dengan demikian dia harus bolak balik antara Simarasok, Suayan dan Sariak Laweh pada malam hari.

Para pemuda Simarasok bergabung dengan pejuang PRRI.

Catatan Pranoto Reksosamudra
Ditulis waktu dia dalam penjara
Carilah bukunya, silakan dibaca
Ada yang menyimpang dari fakta

Supaya bangga merasa senang
Dalam kisah cerita perang
Sejarah ditulis para pemenang
Banyak fakta sangat menyimpang

Silakan dibaca halaman 124
Ketika Pranoto panglima tentara Pusat
Saat bertugas di Sumatera Barat
Dia bangga merasa hebat

Pranoto bercerita tanpa canggung
Tentang pertempuran di Lubuk Bagalung
Dua batalyon PRRI dia kurung
Habis semua mati terkepung

Ibarat cerita dalam sinetron
Ratusan musuh ditembak kanon
Mungkin dia sedang guyon
PRRI ditulis 2 batalyon

Entah disengaja atau bukan
Ketika berperang mengalahkan lawan
Strategi Pronoto sangat rawan
Seteru Masjumi dijadikan kawan

Sebagai pemimpin saat itu
Komunis dijadikan sebagai pembantu
Sebagai intel di kantor C-1
Strategi ini sangat keliru

Telah banyak bukti ditulis
Musuh Masjumi berpaham Komunis
Diberi seragam menjadi sadis
Menyiksa Ulama dengan bengis

Ini sebuah fenomena nyata
OPR berkuasa di mana mana
Termasuk dalam lingkungan penjara
Asbir berbagi pengalaman pribadinya

Dari malam sampai subuh
16 September tahun 60
Asbir direncanakan akan dibunuh
Oleh komunis yang menjadi musuh

Banyak PKI yang merasa dendam
Dari BKSMM, Asbir dipinjam
OPR menyiksa dengan kejam
Beliau disepak lalu dihantam

Pada tanggal 17 April 1958 dengan didahului pemboman yang dahsyat melalui laut dan udara, tentara Pusat mendarat di kota Padang.
Pertahanan kota yang semula dipusatkan di gunung Padang dan Teluk Bayur tak mampu melawan pemboman besar-besaran ini.
Dengan demikian tiada pertempuran besar yang terjadi di kota Padang.

Masing masing personil militer bersegera mundur tanpa instruksi komando ke kampung masing masing di darek guna melanjutkan perang gerilya sambil melakukan konsolidasi.
Kebohongan cerita Pranoto adalah mustahil 2 batalyon pejuang yang masih bertahan di Lubuk Begalung, yang notabene berada di pinggiran kota Padang.
Para pemuda Simarasok yang ikut bergabung ke dalam batalyon 2002 PRRI atau lebih dikenal dengan nama pasukan Beruang Agam di sekitar kota Bukittinggi dipimpin oleh mayor Zakaria diantara adalah: Sariun, Kartini Sutan Rumah Panjang (masih hidup), Sutan Diateh, Sutan Kebesaran, Kazuini, Bustamam, Sarudin, dll.

Yang bergabung ke kesatuan/detasemen Panah Baracun yang dipimpin oleh Dt. Bandaro Hitam merangkap wali nagari Padang Tarok diantaranya adalah Malano Haji, Saemar Basoka, Bakhtiar Basoka
Sesuai dengan ilmu intelijen yg telah dipelajari maka Asbir menyelundupkan beberapa orang pemuda Simarasok dan Padang Tarok yang anti komunis untuk masuk keanggotaan OPR, diantaranya: Sutan Bagindo Gabak, Baktiar, M.Nasir, dan Nasir.
Mereka disuruh melapor ke Bukittingi dan diberi tugas ganda.

Mereka bertugas mengawal perlintasan dari rimbo puncak Gunuang Omeh turun ke Talang Andih, menyeberang ke Bukik Galapuang (Padang Tarok batas dengan Sariak Laweh).
Untuk menghindari kecurigaan, di malam hari mereka tak boleh menghidupkan senter atau api, hanya kain atau saputangan berwarna putih yang disandangkan di kuduk sebagai tanda satu rombongan. Apabila datang tentara Pusat, mereka ikut bersama tentera Pusat.

Di pihak lawan, pada awal Agustus 1958, Nurlis Dt. Mangkuto Basa membawa kembali 20 orang pemuda komunis yang telah dilatih di Sipisang ke Bukittingi, dijadikan anggota OPR.
Dia mengangkat dirinya (sesuai dengan kebutuhan tentara Pusat) untuk menjadi Wali Nagari Simarasok berkedudukan di Bukittinggi, sementara Asbir Dt. Rajo Mangkuto tetap jadi Wali Nagari yang diakui masyarakat dan ijok ke rimba, membuat markas di Bukik Kubangan Badak.

Kejadiaan penting yang disaksikan sendiri.

Dalam rentang waktu pertengahan sampai akhir tahun 1958 tentera Pusat yang melewati jalan raya antara Bukittingi ke Payakumbuh selalu dihadang oleh pasukan PRRI Panah Beracun maupun pasukan Beruang Agam.
Pada bulan September 1958 Asbir Dt. Rajo Mangkuto berada di Nagari Koto Tinggi Baso (simpang jalan ke Batu Sangkar) untuk membeli anak cengkeh.
Saat itu terdengar letusan dan ledakan dari arah Koto Ilalang atau di sekitar Lundang.
Dengan mengayuh sepeda Asbir mendatangi sumber bunyi ledakan dan tampak di dekat jembatan Lundang 3 mobil masuk jurang.
Ternyata peristiwa itu adalah penghadangan oleh pasukan Beruang Agam.
Mereka menembak musuh dari atas tebing.
+Saya lihat 3 mobil truk militer hancur dan ada yang jatuh ke sawah. Tampak di dalam kenderaan sejumlah korban. Akibat serangan ini tentera Pusat melakukan pembakaran lk. 20 rumah di kampung Lundang+. Ujar Asbir Dt. Rajo Mangkuto.

Pada bulan Oktober Pasukan Beruang Agam kembali melakukan penghadangan di Batang Katiak, Biaro di Tanjaung Alam.
Tentera Pusat ditembak dengan Bazoka dan dua truk oto Reo hancur.
Mereka tak melakukan perlawanan hanya melakukan tembakan meriam jarak jauh ke arah Kamang dan pasukan Beruang Agam mundur ke Bukik Batu Bajak di Kamang.

Pembakaran Rumah Gadang (simbol kekerabatan dalam budaya Minang)

Suatu saat, ketika tentera Pusat melewati jalan lurus Padang Tarok, tepat diantara Simpang Parambahan dan Simpang Baruah, telah ditunggu dari balik jalan kereta api yang terlindung oleh padi menguning.
Satu peleton pasukan Panah Beracun menunggu pada jarak sekitar 6 sd 10 meter.
Saenar dan Bahktiar menembak tentera Pusat yang sedang lewat dengan bazokanya dan pelurunya tepat mengenai 2 mobil truk tentera yang di dalamnya ada 6 orang (tentera dan OPR).

Karena keberanian dan keberhasilan ini, mereka berdua diberi gelar yang sama oleh kawan-kawannya yaitu Saenar Basoka dan Baktiar Basoka (kebiasaan suku Minang memberi gelar kepada pribadi pribadi sesuai dengan prestasi atau kebiasaan sehari hari ybst.
Tentera Pusat yang berada di belakang konvoi tidak melakukan perlawanan dan segera mundur sambil menunggu bantuan dari Bukittingi.
Setelah bantuan datang mereka menyerang membabi buta dan membakar 63 rumah diantaranya 20 rumah adat di Jorong Baruah, Kenagarian Padang Tarok.

Korban dan kekejaman musuh

Mungkinkah skenario dari Jakarta
Teror tampaknya terbagi dua
Berbentuk fisik dan berbentuk budaya
Terlihat jelas secara nyata

Di lapau Serikat jorong Koto Tuo
Di sana berjejer banyak toko
OPR pembantu rezim Soekarno
Membuat terror sesuai skenario

Saat OPR melakukan operasi
Gerombolan dipimpin oleh Gadang Kari
Mencari penduduk simpatisan PRRI
Dt. Mangguang tak sempat sembunyi

Menurut Asbir sebagai narasumber
Tahun 60 bulan Oktober
Ada manusia dipenggal OPR
Nagari Simarasok menjadi geger

Beliau pangulu Ninik Mamak
Lehernya dipenggal setelah ditembak
Lalu ditancapkan di ujung tombak
Guna dipamerkan kepada orang banyak

Pada pertengahan Agustus 1958 sekitar pukul 4 pagi tentara Pusat masuk ke Simarasok yang dipandu oleh OPR, diantara mereka terlihat anak buah Nurlis Dt. Mangkuto Basa.
Ada 5 orang anggota Panah Beracun yang menjadi korban karena sedang tidak berada dalam kesatuan mereka.
Diantaranya Asam Tamir.
Pada bulan November tahun 1958 (Nagari Simarasok, Padang Tarok di Kabupaten Agam) telah dikuasai oleh tentara Pusat.
Pada waktu itulah OPR yang telah diseludupkan sangat berperan aktif untuk menyeberangkan pejuang PRRI melalui Padang Tarok sampai ke Simpang Batu Hampar.

Asbir Dt. Rajo Mangkuto bersama teman-temannya ijok, lari ke hutan dan bermukim diantara Luhak 50 kota dan nagari Simarasok dengan membuat dangau di kaki bukik Kapanehan.
Mereka berenam dalam satu pondok yaitu Umar Ali, pekerja di Jawatan Kereta Api asal Lubuak Aluang beserta 5 orang asal Nagari Simarasok yaitu Dalhusin guru SD, Dt. Mangguang, Dt. Mangkuto Sati, Dt. Rajo Mangkuto (mamak Asbir) dan Muchtar Sutan Marajo.
Dangau dibuat di tengah hutan di lereng bukik Kapanehan.
Untuk menuju dangau harus memanjat dahan kayu yang mati dan di bawahnya ada air mengalir.

Tiada jejak bila masuk ke dalam dangau dan dari atas tidak terlihat karena tertutup pohon kayu dan rimbunnya daun kayu Sialahan.
Kekejaman OPR yang diboncengi komunis PKI di Nagari Simarasok adalah menangkap Dt. Manguang, suku Koto, teman saya satu pondok di lereng Bukik Kapanehan.
OPR memenggal kepalanya dan mengaraknya keliling Nagari Simarasok lalu kemudian digantung di depan lapau Serikat Jorong Koto Tuo.

Serangan pesawat Udara

Pukul satu, waktu siang
Ini terjadi di Koto Hilalang
11 rumah hangus terpanggang
Setelah kampung dibom kapal terbang

Kebiasaan tentera Pusat hanya menyerang pada waktu subuh sampai jam 10 pagi.
Apabila tidak ada serangan sampai jam 10 pagi masyarakat menyatakan daerah aman dan dapat mengerjakan kegiatan sehari hari seperti ke sawah dan berkebun.
Suatu ketika pukul satu siang Asbir Dt. Rajo Mangkuto turun dari persembunyian melewati Bukik Gadang untuk menuju jorong Koto Malintang Nagari Sariak Laweh terlihat dari kejauahan sebuah pesawat datang dari arah utara Pasaman dan tepat di Jorong Koto Malintang menjatuhkan sebuah bom api dan membakar rumah penduduk.
Kobaran api terlihat dari kejauahan, 11 rumah terbakar yakni: rumah Sulija, Baina, Ganiah, Raila Jambak, Duani, Laina, Kamsinar, Gadih, Reda, Kadijah dan Nuru.
Kejadianya sekitar bulan Agustus 1959.

Tertangkap dan sebelum ajal berpantang mati

Inilah contoh sebuah bukti
Profesi guru sangat dihormati
Seorang murid berhutang budi
Asbir tak jadi dibunuh mati

Sekitar pukul dua dinihari pada bulan September 1960 Asbir tertangkap.
Peristiwa itu terjadi di dekat Surau, Baruah Nyiur, Bukik Godang, Sungai Balantiak.
Saat itu Asbir bersama dua orang kawan baru saja mengambil obat yang dikirim melalui kurir dari kota Payakumbuh.
Meskipun ketika itu teropong malam belum ada, namun rombongan ini telah tampak oleh musuh dalam keremangan cahaya bulan.
Tentara Pusat yang berkekuatan lk. 20 orang dalam jarak lk. 15 meter langsung menembak rombongan tsb.

Jarudin prajurit pengawal Anti Air Craft (penembak pesawat udara batalyon 2002) asal Simarasok dan Amir asal Padang Panjang yang baru tiga hari baru bergabung langsung tewas sedangkan Asbir selamat.
Beliau digiring ke bok pertahanan di puncak bukik Gadang di Sungai Balantiak.
Dimasukan ke lobang perlindungan yang diberi atap dan keesokan paginya disuruh membuat kuburan untuk diri sendiri.

Sebelum ditembak, Asbir diproses dan diinterogasi oleh sersan Sabaruddin, komandan pleton di Sungai Balantiak.
Asbir Dt. Rajo Mangkuto menjawab sambil balik bertanya.
+Nama saya Asbir, pak komandan; dan kalau boleh tahu nama pak komandan siapa dan berasal dari mana?+
+Nama saya Sabaruddin. Orangtua saya dari Jawa, bertempat tinggal di kota Banjarmasin, dan saya dulu bersekolah di ST 4 tahun di sana+. Jawab Sersan Sabaruddin.

Mendengar jawaban tersebut Asbir menjawab: +Sama arti nama kita. Asbir berarti penyabar; sementara Sabaruddin artinya orang yang sabar dan kita sama sama tamat ST 4 tahun+. Ujar Asbir Dt. Rajo Mangkuto seraya mengingat temannya yang bernama Tahroni Ramlam yang pindah mengajar ke Banjarmasin.
+Jika bapak tamatan ST 4 tahun di Banjarmasin, apakah bapak kenal dengan teman saya yang bernama Tahroni Ramlam. Dia tamatan Yogya, asal Palembang. Dulu dia dan saya sama sama menjadi guru ST 4 tahun di Padang Gamuak, Bukittingi. Kemudian dia pindah ke Banjarmasin+ Ujar Asbir.

+Kenal sekali. Bapak Tahroni Ramlam adalah guru saya. Dia sangat sayang kepada saya, dan saya begitu hormat kepadanya. Karena bapak adalah teman dekat dari guru saya, maka pak Asbir juga guru saya+ ujar Sabaruddin sambil merangkul saya.
+Kalau begitu saya harus menyelamatkan bapak, dan bagaimana caranya+ ujar sersan Sabaruddin
+Bila ingin menyelamatkan diri saya maka tolong buatkan berita acara penangkapan dengan catatan menyerah serta memberikan dua pucuk senjata, sementara yang dua orang (Jarudin dan Amir) buatkan berita acara ditangkap dan melawan. Oleh sebab itu mereka terpaksa ditembak+ saran saya.

Ternyata saran saya diterima, dan Sabaruddin berkata +Hidup ini, ada masanyo tolong menolong, ya pak guru. Sekarang saya menolong pak guru, suatu saat nanti mungkin bapak menolong saya atau keluarga saya+, ujar sersan Sabaruddin. Catatan pesan: Apabila sersan Sabaruddin masih hidup saat ini (Agustus 2016), mohon bisa menghubungi Pak Asbir, beliau ingin bersilatuhmi.

Hari itu dibuatkan berita acara dan setelah dua hari dua malam Asbir Dt. Rajo Mangkuto diantarkan ke kantor Kodim yang berlokasi dekat kantor Bupati Limapuluh Kota lama.
Diterima oleh pengawal Perwira seksi I, Kapten Ruslan.
Kebetulan Komandan Kodim sedang ke Padang dan dibuat berita acara serah terima serta berita acara penangkapan untuk kapten Ruslan.
+Bapak sudah aman+ kata Sabaruddin Kepada Asbir Dt. Rajo Mangkuto sambil menepuk bahu.
Nagari Suayan, Sungai Balantiak, Sariak Laweh di Kabupaten Limapuluh Kota baru pada bulan Juli 1960 dikuasai oleh tentera Pusat.

BKSMM (Badan Kerjasama Militer Masyarakat): OPR/sipil bersenjata, yang berkuasa di sini.

Karena Asbir Dt. Rajo Mangkuto menyerah dengan senjata, maka dia tidak ditahan di Kodim (militer) tetapi ditahan sementara di penampungan BKSMM (Badan Kerja Sama Militer Masyarakat).
Lokasi rumah penampunagn ini terletak di jalan Batang Agam, belakang bofet Sianok Payakumbuh yang dikenal dengan Gudang Tembakau.

Pada hari ke-5 datanglah perwira bagian sekuriti, Peltu Sulaiman (bawahan Ruslan) yang didampingi oleh beberapa orang anggota OPR.
Mereka menjemput saya dari rumah penampunagn BKSMM dan disuruh naik mobil ke kantor Kodim.
Sesampai di Kodim, Asbir Dt. Rajo Mangkuto diintrogasi oleh 4 orang anggota OPR.
Mereka menanya dengan bentakan dan pukulan: +Kamu menyerah atau tertangkap+.
Saya jawab: +Meyerah dengan dua pucuk senjata+.
Namun tak henti-hentinya para OPR menyiksa saya, sampai tenaga saya layu dan terkulai di atas kursi.

Sekujur badan berdarah, tetapi tidak bengkak.
Tampak kalender di dinding menunjukkan tanggal 16 September 1960.

Kemudian OPR menyuruh Asbir naik ke mobil jeep terbuka, dengan posisi berdiri sambil berpegangan ke tiang besi mobil.
Ketika disuruh turun, dia menolak dan tetap berpengangan erat pada besi tiang atap mobil sekuat tenaga.
Dia sadar, apabila turun maka akan ditembak.
Tendangan dengan sepatu tak henti hentinya untuk melepaskan pegangannya. Kemudian dibawa kembali ke Kodim.

Ditengah malam sekitar pukul 2 subuh, kembali dijemput dan dibawa arah ke Ngalau Payakumbuh disuruh pula lari kembali.
Saya juga tidak mau turun dari mobil.
Asbir ingat nama OPR yang memukul dan menendang tersebut bernama Zainal ketua SBKB (Serikat Buruh Kendaraan Bermotor) Payakumbuh, preman antek PKI.

Sebelum subuh diantar kembali ke BKSMM.
Saya dapati teman-teman sedang mengaji. Mereka menyangka saya sudah mati dan mereka melihat kepulangan saya sangat terkejut. Siapa saja yang telah dibawa keluar dari BKSMM tidak pernah kembali lagi. Mereka menyapa: +masih hidup juga pak wali+.

Selanjutnya kawan kawan, mengurut dan memijit badan dan kaki bersama-sama.
Belum sempat tidur ada perintah naik mobil dan diantar ke penjara Payakumbuh yang letaknya di samping Ramayana sekarang.

Ketika akan masuk ke dalam penjara pintu diketuk.
Kemudian keluar kepala penjara (sipir) bernama Karanin asal Suliki.
OPR yang membawa Asbir dari BKSMM menghantam punggungnya sambil berkata: +disiko tampek ang+... dan disambut dengan tinju Karanin yang tepat mengenai ulu hati.

Dalam penjara banyak teman disana dan ada yang bersorak pak wali, pak wali.
Sipir penjara memasukan kedalam kamar Nomor 8.
Di dalamnya telah ada orang orang yang saya kenal diantaranya Haji Abu Hanifah (Kepala Pendidikan Agama Propinsi Sumatera Tengah, Abdul Wahib (inyiak uban) Wali Nagari Aie Tabik Payakumbuh.
Ukuran kamar penjara 4 x 7 meter, isinya 58 orang.
Separo kamar dibuat lantai dua tingkat.
Yang tak kebagian tempat terpaksalah tidur di kolong tempat tidur. Waktu dalam penjara ini Asbir Dt.Rajo Mangkuto dipanggil untuk diperiksa, kemudian disuruh menunjukkan basis daerah PRRI.
Saya tidak mau, dan untuk itu saya ditangani.
Saya tidak mampu melawan, kalau melawan sudah pasti ditembak oleh OPR karena mereka bersenjata.

Dalam bulan Oktober, Asbir Dt. Rajo Mangkuto dipanggil oleh salah seorang penjaga penjara dan disuruh menghadap ke kepala Penjara.
Sampai dalam ruangan kepala penjara, Karanin meminta maaf kepada saya.
Saya sangat heran, mungkin dia mengira saya adalah dukun besar dan tahan peluru karena beberapa kali lolos dari peluru OPR.
+Beri maaf ambo dek pak Datuak, alah talongsong ambo salamoko ka apak+. Ujar kepala penjara Karanin.

Saya terheran heran ungkap Asbir Dt. Rajo mangkuto.
Tiga hari setelah peristiwa tersebut Asbir kembali dipanggil, kali ini disuruh menghadap kepada Rajo Bujang asal Padang.
Dia menyuruh saya menghadap dan disuruh tegak dekat pintu menghadap ke labuah (jalan).
+Apo kepandaian bapak. Iyo sabana dukun gadang nan indak talok dipeluru apak datuak+. kata Rajo Bujang.
+Ambo guru, tantu banyak kepandaian+ jawab Asbir Dt. Rajo Mangkuto
+Pandai bapak membuat tas dari batuang?+ Tanya Rajo Bujang lagi.
+Itu gampang, nan agak suliklah ambo disuruah+ jawab Asbir Dt.Rajo Mangkuto.

+Apak suko takuruang di dalam penjaro atau bersama saya menjadi kepala tukang dalam penjara sampai bapak datuak bebas+ ujar Rajo Bujang.
Sejak itu Asbir Dt. Rajo Mangkuto bertugas sebagai kepala tukang yang mengomandoi para tahanan dalam penjara untuk membuat tas, gendang dan juga memperbaiki WC penjara.
Banyak tahanan lain yang berharap untuk dibawa bekerja.
+Baoklah awak pak datuak+. Ujar mereka.
Setiap pukul 9 pagi boleh pergi ke pasar. Apabila bertemu dengan orang PRRI yang berjualan, Asbir Dt. Rajo Mangkuto sering diberi orang uang.

Pada suatu hari, semasa masih dalam penjara Asbir Dt. Rajo Mangkuto pernah dibawa ke pasar Dangung-dangung.
Sampai di pos kompi tidur semalam, dan besoknya disuruh untuk mengantarkan pasukan ke rimba Kamang.
Dalam hati Asbir Dt. Rajo Mangkuto menolak untuk ikut karena tak ada persiapan pakaian dan dia tidak mau berhadapan dengan teman sendiri.
Supaya tidak pergi Asbir Dt.Rajo Mangkuto mencari alasan sakit perut dan bocor sambil melumuri celana dengan kotoran sendiri.
Melihat hal tersebut Komandan kompi berkata +Orang yang sakit tinggalkan saja+.
Asbir ditinggalkan di pos kompi Dangung-Dangung (dirumah yang belum jadi).
Ketika mereka telah berangkat, Asbir mencuci pakaiannya dan setelah kering diantarkan kembali ke penjara Payakumbuh.

Amnesti dan Surat T3 (Surat Tanda Tak Terlibat) PRRI

Sepuluh bulan lamanya Asbir Dt. Rajo Mangkuto menghuni penjara sampai amnesti pada bulan Juni 1961.
Setelah keluar dari penjara Payakumbuh, Asbir diberi surat keterangan oleh Kodim.
Tidak boleh dipekerjakan oleh negara sebagai PNS, karena dalam berita acara tertangkap dengan menyerahkan dua pucuk senjata.
Surat tersebut disimpan dalam saku dan tidak pernah diperlihatkan kepada orang lain.

Pada akhir 1962 Asbir Dt.Rajo Mangkuto bersama dengan kepala STM, M. Yanis pergi kekantor Inspeksi Pusat Teknik (dibawah kementerian P&K) di Jakarta dan bertemu dengan salah seorang guru STM Padang yang telah pindah ke Pusat bernama Rusli Syarif.
Rusli Syarif bertanya,“Mengapa SK saudara belum diurus. Kita yang tamatan STM adalah ikatan dinas” Kata dia.
Saya jawab: +Saya mantan pasukan PRRI+.
+Sekarang sudah mengajar kembali ?+ ujar Rusli Syarif.
+Saya belum mengurus T3 (Ternyata Tidak Terlibat PRRI) yang dikeluarkan oleh Kodam 17 Agustus+ ujar Asbir Dt.Rajo Mangkuto
+Aturan dari Kodam 17 Agustus tersebut tidak sampai ke Pusat, kami bisa saja mengeluarkan SK saudara kembali, karena ikatan dinas saudara belum habis. Dan saudara harus mengajar sampai masa ikatan dinas saudara habis.+ Ujar Rusli Syarif.
+Segera dibuatkanlah surat keterangan mengajar dan besoknya S.K. keluar dengan masa kerja dihitung penuh dan ditempatkan mengajar di STM Bukitinggi.+

Tahun 1966 Asbir meghilangkan relief di bawah Jam Gadang

Tentara Pusat dipimpin Pranoto
Kolonel infantri kelahiran Purworejo
Perwira kesayangan presiden Soekarno
Pernah dikurung jenderal Suharto

Untuk membuktikan PRRI kalah
Dibuat relief pangulu menyembah
Di hadapan tentara berbaris gagah
Kemenakan yang melihat ingin muntah

Teror budaya Pranoto lakukan
Niniak Mamak menyerah ketakutan
Duduk bersimpuh membungkukkan badan
Membawa carano dipegang tangan

Ukiran kayu yang pernah dibuat
Di bawah Jam gadang dahulu terlihat
Niniak mamak panutan masyarakat
Pernah dilecehkan tentara Pusat

Suasana menyambut tentara pendatang
Dalam relief di bawah Jam Gadang
Karena merendahkan simbol Minang
Oleh Asbir telah dibuang

Lukisan dibuang ke dalam Ngarai
Menjadi sampah hanyut di sungai
Menjadi kayu bakar, kalau terpakai
Begitulah nasib simbol yang lebay

Kolonel AD Nazif Asmara
Perwira TNI anak Balingka
Kerja Asbir didiamkan saja
Karena beiau mengerti budaya

1 September 2016