Halaman ini sudah dilihat oleh: 1044 orang,




PRRI
200 rumah terbakar akibat Serangan Udara
Oleh: H. si Am Dt. Soda

I. Pendahuluan

   
Kodak si Am tahun 1955, 3 tahun sebelum PRRI.

Tiga orang warga sipil
Si Am, Saribanun dan Amril
Merasa perlu untuk tampil
Mengisahkan peristiwa di ujung bedil


Ujung bedil milik tentara
Membuat hidup jadi sengsara
Ketika terjadi Perang Saudara
Nagari Andoleh menjadi bara

Cerita disampaikan kepada penulis
Dibuat syair kalimat puitis
Kalau ragu tolong ditapis
Supaya hilang fitnah iblis

Ampun dan maaf kepada Pangulu
Bila kalimat ada yang rancu
Atau catatan mungkin keliru
Karena peristiwa lama berlalu

Kepada pemuda dan pemudi
Ambil hikmah syair ini
Saat hidup di era globalisasi
Agar tak hilang jatidiri

Saribanun suku Sumpadang
Orang Andoleh kecamatan Sungayang
Ingin berkisah peristiwa perang
Bukan cerita dikarang karang

29 Mei lima sembilan
Hari Sabtu di akhir pekan
Pukul sembilan pada jam tangan
Akibat perang tak mungkin dilupakan

Insyaallah Banun tidak keliru
Peristiwa terjadi di hari Sabtu
Diiringi tangis anak dan ibu
200 rumah menjadi abu


Saat terjadi perang saudara
Rejim Soekarno mengirim tentara
Memakai perlengkapan beragam senjata
Termasuk serangan pesawat udara

Ini peristiwa kenangan pahit
Bagi Andoleh Baruah Bukit
Nagari dibakar bom langit
Orang berlari menjerit-jerit

Menurut ingatan orang tua tua
Karena takdir dari yang Kuasa
Setelah nagari menjadi rata
Hanya empat rumah tersisa

Saksi hidup yang masih ada
Sjamsir Sjarif lengkapnya nama
Kini bermukim di benua Amerika
Di Santa Cruz state California

Walau tidak memanggul senapang
Sjamsir Sjarif ikut berjuang
Sebagai kurir juru penerang
Ke banyak nagari Sjamsir datang

Memberi penerangan kepada rakyat
Agar tak gentar melawan Pusat
Karena Soekarno telah sesat
Harus diperangi sampai lumat

Ketika Sjamsir kembali dari Lintau
Hatinya sedih sangat risau
Sebagai kenangan di masa lampau
Sjamsir menulis dari rantau

Hati agak badampong-dampong manurun dari Puncak Pato ka Andaleh Baruah Bukik, nagari tu tingga asok-asok jo abu rumah tabaka sajo lai.
Rumah Gadang nan Ambo tumpangi lalok wakatu ka pai ka Selatan sabalunnyo pun indak ado bakehnyo lai karano dibom api dari kapatabang Pusek.
Di sinan iyo titiak aia mato mancaliak dan maagak-i kama lah Rang Kampuang ka pai ijok?
Kalau ijok sajo lai tampek untuak pulang, tapi kini rumah-rumah untuak pulang tu alah habih jadi abu....

Hati dag, dig, dug turun dari Puncak Pato menuju Andaleh Baruah Bukik, nagari itu tinggal asap dan abu saja lagi.
Rumah Gadang yang saya tumpangi tidur ketika pergi ke Selatan sebelumnyapun tidak ada lagi bekasnya karena dibom api oleh kapal terbang Pusat.
Ketika itulah menetes air mata memikirkan ke mana orang kampung akan pergi lagi.
Kalau ijok (bersembunyi ke hutan) saja ada tempat pulang, tapi kini rumah rumah untuk pulang itu telah habis jadi abu....

14-8-2009
Santa Cruz, California
Sjamsir Sjarif

Walau tiada bukti kodak
Sebelum pesawat melepas tembak
Api menyala tak bisa jinak
Karena pilot menumpahkan minyak

Ketika udara panas menyengat
Temperatur lebih 30 derajat
Api menjalar sangat cepat
Tiada pencegahan bisa dibuat

Karena rumah musnah terbakar
Hidup sehari-hari jadi sukar
Tidur di tanah beralas tikar
Disertai derita menahan lapar

Kalau kebakaran terjadi di kota
Api dipadamkan oleh PBK
Musibah dikampung timbulkan sengsara
Tiada bantuan bisa diminta

Semua harta menjadi abu
Hidup serupa di rimba kubu
Kain tersisa selembar baju
Tiada pemerintah datang membantu

Andoleh Br. Bukik dibumihanguskan
Habis semua harta kekayaan
Termasuk pula bahan makanan
Hanya baju tinggal di badan

II. Pesawat terbang membakar musnah Andoleh


Beginilah strategi saat berperang
Tentara Pusat tak berani datang
Nagari Andoleh lalu dipanggang
Dengan bom pesawat terbang

Pesawat Mustang cocornya merah
Terbang melayang sangat rendah
Menembakkan mitraliur bagaikan muntah
Peluru ditujukan ke segala arah

Warisan pusaka datuk datuk
Rumah godang beratap ijuk
Berkayu Surian tak mungkin lapuk
Kini hangus tiada berbentuk

Menjadi topik buah bibir
Rumah godang dinding berukir
Ukirannya rancak berulir ulir
Nilainya tinggi tak mungkin ditaksir

Tak mungkin ditaksir dengan rupiah
Begitu adat Minang-Ranah
Ketika rumah dibakar musnah
Harga diri menjadi rendah

Ketika perang menegakkan kebenaran
Orang Andoleh banyak berkorban
Ninik mamak beserta kemenakan
Nyawa dan harta jadi taruhan

Akibat nagari dilalap api
Bermacam kerugian telah terjadi
Tidak hanya kehilangan materi
Hewan ternak banyak yang mati

Ketika api tinggi menjulang
Terasa panas tidak kepalang
Binatang mati di dalam kandang
Kerbau dan Jawi hangus terpanggang

Rezim Soekarno bersalah besar
Saat sekolah ikut dibakar
Hilang sudah ruang belajar
Semua murid jadi terlantar

Setelah surau hangus membara
Tiada lagi kitab tersisa
Qur-an dicari kemana mana
Untuk pedoman belajar agama

III. Nagari lain ikut membantu

Begini adat orang Minang Kabau
Kabar baik, datang dihimbau
Kabar buruk membuat risau
Sesama dunsanak silau-menyilau

Mendengar berita malapetaka
Tidak dipesan, tanpa diminta
Datang bantuan sanak saudara
Orang Tanjung datang pertama

Nasi disiapkan berbungkus bungkus
Dimasukkan karung maupun kardus
Lalu diantarkan secara khusus
Bantuan diberikan secara tulus

Tua muda membawa bantuan
Di atas kepala dijunjung beban
Berjalan kaki beriring iringan
Ada yang cepat, ada yang pelan

Dalam kondisi suasana kalut
Anak kecil ada yang ikut
Dibimbing yang tua berusia lanjut
Kalau melangkah nyeri di lutut

Mendengar Andoleh menjadi abu
Orang Tanjung ikut terharu
Si Cuik Amril berniat membantu
Izin diminta kepada ibu

Tak dicatat dalam sejarah
Amril mengingat untuk berkisah
Bersua orang tua terluka parah
Terkena peluru mengeluarkan darah

Ketika peluru menembus kaki
Kemungkinan putus pembuluh nadi
Darah mengalir tiada henti
Walau ditaburi bubuk kopi

Karena daging telah terkelupas
Tulang tampak kelihatan jelas
Warnanya putih mirip kertas
Kalau disentuh terasa keras

Menahan sakit tiada terkira
Di pipi meleleh air mata
Ingin menolong tapi tak bisa
Amril sedih diam saja

Beginilah Allah menguji orang
Bermacam cobaan bisa datang
Supaya iman tidak berkurang
Manusia disuruh untuk sembahyang

Inilah petuah orang tua tua
Mujur ada sepanjang masa
Malang terjadi dalam seketika
Manusia disuruh untuk bertakwa

Peristiwa lain diingat si Cuik
Kejadian kecil sangat menarik
Banyak hikmah bisa dipetik
Walau hanya masalah Gacik 1

Kalau berburu ke bukit gunung
Anak nagari saling bergabung
Orang Andoleh dan orang Tanjung
Ibarat dunsanak saudara kandung

Karena di leher tali melingkar
Saat api sedang berkobar
Anjing tak bisa lari menghindar
Lalu binatang mati terbakar

Anjing pemburu banyak yang mati
Nasib baik binatang Babi
Setelah anjing terpanggang api
Tiada lagi yang perlu ditakuti

Melewati Andoleh yang tinggal puing
Amril mual, kepala pusing
Melihat bangkai si manis kucing
Mengalirkan darah dari daging

Ketika dialog tak lagi bisa
Adu senjata dilakukan manusia
Walau binatang tidak berdosa
Hewan kesayangan ikut menderita

Amril sedih penuh perhatian
Waktu melangkah tak ingat badan
Telapaknya luka menginjak pecahan
Dia terpekik karena kesakitan

IV. Si Ampuah menjadi korban

Jangan dianggap masalah remeh
Kisah si Ampuah penduduk Andoleh
Orang gila berkelakuan aneh
Sering meminta disediakan teh

Karena mengganggu penduduk kampung
Si Ampuah diikat lalu dipasung
Dia menjerit meraung raung
Sering menangis duduk termenung

Ini pelanggaran hak azasi
Untuk bebas di atas bumi
Tak boleh dirampas atau dikebiri
Duhulu pernah telah terjadi

Ketika nagari sedang terbakar
Api menyala sangat besar
Si Ampuah terkurung di dalam kamar
Sangat susah lari menghindar

Untung ada orang menolong
Tali pengikat lalu dipotong
Si Ampuah lolos ke bawah kolong
Lalu berteriak melolong lolong

Karena dibaju menyala api
Kulit terbakar pedih sekali
Sambil menjerit berkali kali
Si Ampauh berlari kian kemari

Bertemu tebat sangat dalam
Si Ampuah melompat langsung terbenam
Dia mati karena tenggelam
Syahid di dunia menurut Islam

V. Tidak perlu meniru budaya kota

Nagari Andoleh ibarat surga
Dikelilingi bukit berhutan rimba
Banyak Enau menghasilkan nira
Sumber penghasilan kaum keluarga

Contoh teladan wajib ditiru
Ikuti kebiasaan orang dahulu
Kalau menebang pohon kayu
Harus seizin Datuk Pengulu

Bila kayu banyak ditebang
Hidup tak lagi merasa tenang
Mirip suasana keadaan perang
Setiap saat nyawa melayang


Tebing runtuh dalam semenit
Manusia mati tertimbun bukit
Mayat dicari sangat sulit
Karena jasad jauh terimpit

Karena tiada rencana planning
Hutan tak lagi dianggap penting
Luak dan sungai menjadi kering
Banyak runtuh bukit dan tebing

Orang Andoleh sangat cerdik
Menciptakan permainan sangat menarik
Satwa di rimba dijadikan topik
Namanya si Muntu berbaju kerisik

Kalau rimba dibuat rusak
Hutan berubah menjadi semak
Si Muntu langsung berteriak
Kapan mamak akan tersintak

Inilah perang sebenarnya perang
Musuh yang datang tanpa senapang
Namanya kapitalis kaum pedagang
Siang dan malam menjajakan barang

Tentara Pusat orang kota
Datang menggempur ke desa desa
Menimbulkan akibat bala bencana
Surga dibuat jadi neraka

Ibarat serangan dari Jakarta
Tayangan iklan dalam media
Merusak adat dan agama
Anak kemenakan harus waspada

Mengisap racun dikatakan berani
Pesan dilihat setiap hari
Telah tertipu muda dan mudi
Ketika rokok lakukan promosi

Produk kota barang mainan
Seperti Honda motor kenderaan
Dipakai remaja kebut kebutan
Akibatnya nyawa lepas di badan

Jangan ditiru penduduk kota
Membuang air mengeringkan rawa
Menyingkirkan makhluk dapat dosa
Ataupun langsung ditimpa bencana

Belum diatur oleh pemerintah
Makanya orang senang berulah
Untuk mendapat perluasan tanah
Tobek 2 diisi timbunan sampah


   foto timbunan plastik ini bukan di Andoleh
Sampah plastik produksi kota
Masuk nagari meraja lela
Menimbulkan polusi sangat berbahaya
Perlu dihadapi dengan waspada

Timbunan sampah bahan plastik
Hasil produksi buatan pabrik
Kalau dibakar beracun toksik
Bila terisap rasa tercekik

1. gacik = anjing
2. tobek = kolam ikan


Kalau Dunsanak merasa perlu kisah ini diketahui pula oleh orang lain, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar ringkasan     Kembali ke www.nagari.or.id