Halaman ini telah dilihat oleh: 22699 orang

www.nagari.or.id

Kisah-pengalaman anak-nagari saat terjadi Pergolakan PRRI di Ranah Minang




1. Pendahuluan tentang Oral History

Oral history is the systematic collection of living people's testimony about their own experiences.
Oral history is not folklore, gossip, hearsay, or rumor.
Oral historians attempt to verify their findings, analyze them, and place them in an accurate historical context.
Oral historians are also concerned with storage of their findings for use by later scholars

PRRI adalah sebuah pergolakan fundamental yang menghasilkan sebuah kebanggaan, rasa sakit, sekaligus bahkan penghinaan bagi rakyat Minangkabau.
PRRI jika ditelisik lebih jauh, menjadi salah satu tonggak sosial yang menstimulus kemampuan bawaan masyarakat Minangkabau untuk memandang dan berinteraksi dengan dunia lain di luar Alam Minangkabaunya.
Kisah ini membawa trauma panjang, juga kebanggaan diam-diam para generasi muda akan keberanian orang Minangkabau mengkoreksi sesuatu yang salah.
..... selengkapnya !

2. AURI bak melawan Ibu Kandung
Oleh H. si Am Dt. Soda

Menurut catatan sejarah pribumi
Cikal bakal pesawat AURI
Kapal terbang pertama sekali
Sumbangan penduduk anak nagari

Kalimat di buku pelajaran sejarah
Wajib diketahui anak sekolah
Faktanya benar, berani sumpah
Tulisannya dikutip seperti di bawah

Pesawat Avro Anson juga dibeli oleh Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan.
Namun pesawat ini jatuh di Tanjung Hantu, Malaysia karena kerusakan mesin.
Saat itu pesawat dipiloti oleh Halim Perdanakusuma.

Untuk mendapatkan senjata perang
Orang kampung banyak menyumbang
Berbentuk perhiasan seperti Gelang
Emas dibarter kapal terbang
..... selengkapnya !

3. Setengah abad kemudian
Oleh: Sjamsir Sjarif

Lepas Kototuo, kuarahkan pandanganku
Kiri kanan ke depan menuju
Tanpa disadari anak cucu
Membayangkan kenangan ke Masa Lalu

Ya, ya Operasi Semut di masa itu
Sekitar akhir Agustus sembilanbelas limadelapan
Tujuan perjalananku terganggu
Ketika dari Utara kutersendat di Tantaman

Rusli Marzuki dan Buya Mas?oed
Syair Sejarahmu taut bertahut
Setengah abad telah berlarut
Airmata, Darah, dan Doa sangkut-berpaut
Bahagia dan duka taut-bertaut ...

Santa Cruz, California 28 Februari 2011
..... selengkapnya !

4. Puisi untuk Ayah
Oleh: Dra. Salviyah Prawiranegara Yudanarso

ayah....
di usia Pipi sekitar 10 tahun itu...
Pipi menikmati didikanmu sebagai anak berbudi manis...
kau minta Pipi belajar menarikan jari sebagai pianis...
kau kembangkan kesenangan Pipi berkuda sebagai sais..

ayah...
mengapa kami harus masuk belantara
yang tinggal di dangau beratapkan ilalang
yang rentan terhadap gigitan binatang
yang malamnya hanya bertabur sinar bintang

ayah...
kami siap mendukung perjuangan
daerah harus diberi peran dalam pembangunan
perhatian pusat kepada desentralisasi wewenang
perhatian agar komunisme segera hengkang
..... selengkapnya !

5. Bapakku mati syahid, kenangan masa Kanak-kanak
Muhammad Dafiq Saib

Hari Kamis bulan Zulhijjah
Sehari sebelum riraya haji
Aku menanti dengan gelisah
Tak kunjung datang yang kami nanti

Seorang anak buah mengintai jauh
Menyimak apa yang kejadian
Sampai gemetar sebatang tubuh
Hendak menolong tiada kekuatan

Anak buah itu yang bercerita
Ayahku berkelahi dengan berani
Dua tiga tentara dilawannya
Sebelum senjata mereka sempat berbunyi

Secara ringkas itulah takdir
Di sana rupanya akhir hayatnya
Pergulatan ayah jadi berakhir
Dua peluru menembus tubuhnya

Beliau dimakamkan malam itu juga
Menangis haru sanak kemenakan
Beliau syahid orang kampung kira
Dishalatkan lalu langsung dimakamkan
..... selengkapnya !

6. Tukang Tunjuk
Oleh: Muhammad Daviq Said

Poan tahu betul siapa-siapa di antara temannya, ....anak muda yang ikut lari ke luar, ....bergabung dengan tentara pemberontak.
Diapun pernah diajak ikut.
Tentu saja dia menolak dengan cara halus.

Suatu hari tentara APRI masuk kampung.
Menggeledah rumah-rumah mencari tentara PRRI.
Mencari anak-anak muda yang dicurigai ikut jadi tentara PRRI.
Anak-anak muda yang ada di kampung berketabungan lari untuk menghindar.

Sebenarnya sangat konyol yang mereka lakukan itu.
Tiga orang terlihat oleh tentara Pusat.
Diteriakinya supaya berhenti dan mengangkat tangan.
Anak-anak muda itu tidak tahu aturan seperti itu.
Tidak mengerti aturan berhenti dan mengangkat tangan.
Yang ada di dalam benak mereka hanyalah lari untuk menyelamatkan diri.

Sementara tentara APRI yang ?ringan-ringan tangan? itu, sesudah sekali diperintahkan berhenti, ... tidak didengar, ... langsung membidik kepala anak-anak muda malang itu. Dor!
..... selengkapnya !

7. Air Mancur, kisah sedih di bulan Mei 1958
Oleh: Muhammad Daviq Said

Kalian menyebut air terjun itu air mancur. Bukankah itu keliru ?
Prapto berkomentar agak sedikit berlebihan.
He.. he..he.. kau yakin itu salah kaprah? tanyaku.
Ya, iyalah. Kau tentu mengerti arti kata memancur.
Air yang menyembur ke atas.
Menyembur ke atas itu yang disebut memancur.

Bagaimana dengan air mata? aku memancing dengan sebuah pertanyaan. Maksudmu?
Apakah air mata juga sama dengan air macur, begitu?
Bukan. Apa istilahnya ketika air mata keluar?
Ketika kita menangis? tanyaku lagi.
Ya mengeluarkan air mata.
Mencucurkan air mata.
Artinya mengeluarkan air mata. Artinya menangis.

Mencucur itu artinya keluar dari suatu tempat, lalu setelah itu jatuh.

Tapi ayahku dulu terkorban disini, tambahnya.
Maksudmu korban lalu lintas?
Bukan. Beliau gugur sebagai anggota TNI yang dikirim memerangi PRRI di tahun 1958.
Aku belum lahir ketika itu.
..... selengkapnya !

8. Isteri-isteri yang di bok
Oleh: Muhammad Daviq Said

Ada perintah baru dari komandan tentara Pusat.
Perempuan-perempuan itu sekarang harus jadi penghuni asrama di malam hari.
Entah kenapa demikian.
Mereka harus datang sore-sore dan boleh pulang pagi-pagi.

Penghuni rumah yang sudah disiapkan untuk mereka di sebelah rumah komandan Buterpra.
Perempuan-perempuan para istri tentara PRRI.
Entah dari mana datangnya perintah seperti itu.

Alasannya, konon karena menurut informasi dari tukang tunjuk, ada saja tentara PRRI yang pulang menemui istrinya lewat tengah malam.
Tapi sayangnya, berkali-kali diintai oleh tentara Pusat tidak pernah ada satu juga yang tertangkap.
..... selengkapnya !

9. Celana yang melorot di tiang bendera, pertanda apa ya ?
Asmardi bin Arbi

Saya ketika itu saya masih bersekolah di SMP dan suka sekali dengan tokoh militer daerah yang jago perang.
Rasa-rasanya akan menang PRRI menghadapi serangan tentara Pusat itu.

Bulan Agustus masih diadakan upacara penaikan bendera 17 Agustus.
Penggerek bendera salah satunya adalah saya, inspektur upacara nya pak Wedana.
Tidak disangka sabelum bendera sampai di puncak, salah satu tali pangikat lembaran bendera putus.

Bendera tersangkut, tidak bisa naik, tidak bisa turun.
Keputusan cepat diambil panitia; dipanggillah anak Sekolah Rakyat (kini SD) untuk memanjat.
Akhirnya bendera bisa naik penuh.

Tapi muncul peristiwa baru, ketika akan turun celana anak SR melorot karena putus kancingnya.
Peserta upacara susah menahan geli untuk tertawa.
Apakah ini pertanda PRRI sudah salah jalan ?
..... selengkapnya !

10. Laporan Perjalanan dari Palembang
Oleh : Sjamsir Sjarif
hambociek@yahoo.com

Dt. Rajo Malano yang saya kenal dahulu (Juli 1958), beliau adalah Kepala Penerangan PRRI Daerah Limopuluah Kota Utara.
Di Padang Jopang beliau mengakomodasi bapak M. Natsir ketika itu.

Waktu saya dari Daerah Kamang marencah rimba Suaiyan mencari Pak Natsir ke Pek Ten, kami bertemu dengan beliau di Puncak Bukik di sebelah Suaiyan dengan Taratak Kubang.

Di Puncak Bukik itu kami (batiga serombongan melaporkan perjalanan kami ke Palembang yang beliau tugaskan di Bukittinggi Bulan April 1958.
..... selengkapnya !

11. Musuh membakar Rumah Gadang pada dua perang
Oleh : Sjamsir Sjarif
hambociek@yahoo.com

Ketika itu, mungkin sekitar Februari 1949 ada penghadangan oleh gerilya pejuang RI dari atas tebing di Selayan.
Tembakan dan granat dilepaskan dari arah tebing di Selayan itu.

Masih tampak-tampak oleh saya asap hitam membubung ke langit dan gejolak api besar ditiup angin berembus ke sekeliling.
Ketika itu tentara Belanda membakar satu kelompok rumah di Salayan Ujuang, dekat sekolah Biaro, di sebelah kiri (utara) jalan arah Payakumbuah dekat penurunan Lambah Ujuang.

Pola pembakaran rumah penduduk ini menjadi tabi?at tentera pendudukan, dan juga dilanjutkan waktu peristiwa pergolakan daerah tahun 1958 - 1961.

Gejolak api besar membakar satu kampung yang tak mungkin saya lupakan.
Saat itu penghadangan oleh gerilya PRRI di Jalan antara Solok - Padang sekitar nagari Cupak, kabupaten Solok, mungkin pertengahan September 1958.

Saya melihat peperangan dan gejolak api dari tempat persembunyian di dangau Santo di Batu Kuali di lereng bukit di sebelah Selatan.
Melihat gejolak api dari jarak nan hampir sama waktu di Biaro tahun 1949 itu, maka ingatan saya sakaligus bersatu dalam dua peristiwa sejarah, tahun 1949 dan tahun 1958.
..... selengkapnya !

12. Yang Datang dan Yang Pergi
Oleh : Hayatun Nismah Rumzy

PRRI itu dapat dilihat dari beberapa sisi
Yang datang dan yang lari
Korban keganasan tentara APRI
Tak terhitung juga yang dibantai PRRI

OPR namanya bukan dari Jawa
Umumnya mereka orang Sumatra
Mereka lebih kejam dari tentara
Waktu itu nyawa tak berharga
Banyak yang kehilangan yang disayanginya
Di mana-mana perang saudara sama
..... selengkapnya !

13. Empati untuk Mertua
Oleh : Iqbal Rahman

Habis tahun kalau tidak juga ada
Kami yang mencarikan
Hampir tiga puluh tahun yang lalu
Tahun habis

Kusampaikan
Hai, Anak pejuang
Yang tidak kukenal
Karena ditinggal
Tidak tahu rimbanya
Tidak tahu dimana tanahnya
Maukah engkau jadi isteriku
..... selengkapnya !

14. Kebesaran jiwa Ibu sebagai pendamping Pejuang PRRI
Oleh : Prof. DR. Ir. Zoer?aini Djamal Irwan

PRRI sangat banyak memakan korban intelektual dan calon intelekrual Minang.
Bapakku pejuang PRRI hilang di penjara, kalau mati tiada kuburannya kalau hanyut tiada muaranya.

Pada tahun 1957 ada pesta adat di Sawahlunto, dimana kedua orang tuaku ikut aktif, dengan berpakaian adat kebesaran, lengkap dengan payung kuning.
Pesta adat dilaksanakan dalam menyambut kedatangan Bung Hatta ke Sawahlunto pada saat memperingati hari jadi Dewan Banteng.

Pada waktu itu Bapak saya pengurus MTKAAM (Madjelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau, saya tidak tahu jabatannya.

Aneh juga mencari Bapak, kok lemari yang diperiksa.
Malam hari mereka menembakan senjatanya terus-terusan sehingga kami ketakutan sekali.
..... selengkapnya !

15. Anak dan Kemenakan: Keganjilan peristiwa yang terjadi ketika perang.
Oleh : Sjamsir Sjarif

Suatu kebetulan barangkali, suatu keganjilan sejarah.
Mamaknya mati ditembak oleh tentara Belanda waktu Agresi ke-2 tahun 1949, dan kemenakannya mati ditembak OPR ketika pergolakan PRRI tahun 1958.

Dia dikejar, lalu membalas tembakan anggota-anggota OPR itu.
OPR yang berpakaian preman serta bersarung mengendap ngendap di Bandanyiua, Biaro, kira kira 600 meter dari tempat saya berdiri melihatnya.
..... selengkapnya !

16. Diantara Garis dan Kokangan Senapan
Oleh : Andiko St. Mancayo

Di kaki bukit kecil itu memintas jalan.
Lengang sisinya berpagarkan pokok-pokok kembang sirangak.
Bunganya kuning cerah melambai, tetapi hampir semua bagian dari bunga itu mengandung rasa pahit yang tak terkira.

Angin senja itupun membawa rasa getir pada raut muka dua lelaki muda yang berdiri saling berhadapan dengan tatapan menikam.
Di tangan mereka terkokang dan teracung senjata yang siap merenggut nyawa masing-masingnya.
Diantara pertemuan kedua bedil yang siap menyalak itu, pada jarak yang tak lebih dari empat langkah, memori saling berlarian.
Dua bocah kecil saling bergelut di sudut Surau Tua.

......kembalilah kepada induk pasukanmu sanak dan aku akan kembali pula.
Aku tidak tahu akan seperti apa akhir pergolakan ini, tapi aku ingin, kita jangan bertemu sampai peperangan ini selesai.
..... selengkapnya !

17. Lentera mesti dipasang
Oleh : Muhammad Daviq Said

Kita dapat perintah dari tentara Pusat, mulai hari Sabtu besok setiap rumah harus memasang lentera di depan rumah.

Bertambah kesibukan setiap penghuni rumah.
Di tengah malam yang gelap gulita, titik api kecil itu paling jauh hanya sanggup menyinari sebuah lingkaran yang tidak lebih dari satu meter.

Tapi yang penting kelihatannya adalah kepatuhan masyarakat.
Dimana lentera ini mesti dibeli
Dimana pula mesti diletakkan setiap malam ... tanya tek Saripah.
..... selengkapnya !

18. Inyiak Lunak si Tukang Canang
Oleh : AA. Navis

Ketika pergolakan PRRI terjadi, Otang teman si Dali, pulang kampung.
Seperti banyak orang lainnya, sebelum APRI menyerbu Sumatera Tengah, si Otang seorang pengangguran.
Dia bukan pegawai negeri.

Kalau Otang pulang kampung, hanyalah karena alasan khusus.
Katanya, dia solider pada Pak Natsir, tokoh idolanya, yang telah mengirimnya magang sekolah peternakan di Florida selama setahun.

Tibalah masanya ketika kampung Otang diduduki oleh APRI.
Oleh APRI disebut kampung itu sudah dibebaskan yang ditandai dengan membuat tugu pembebasan.
Maka tiba pulalah masanya Otang harus bekerja memegang pacul, bergotong-royong massal dan ronda malam di kecamatan.
Instruksi gotong royong disampaikan melalui panggilan inyiak Lunak dari ujung ke ujung kampung.
Gotong-royong yang hampir setiap hari sangat menjengkelkan semua orang.
Bukan hanya karena kehilangan waktu untuk bekerja, tapi juga merasa sengaja dihina diperintah diperintah sebagai orang taklukan.
..... selengkapnya !

19. Balada Simpang Malalak
Oleh : Rusli Marzuki Saria

Ahai, di Simpang Malalak kami bertahan
Dingin malam subuh menggigil
Puncak-puncak bukit bagai gergaji
Leter W maninjau di bawahnya

Bazooka, bazooka kaku menyalaklah!
Ada tank waja di kelok itu
Bidik !
Operasi Semut: tentara Soekarno membebaskan Matur
Lawang kemudian Maninjau
Danau birunya airmu
Tengah hari beriak

Kami sedang perang gerilya
Inyiak Junus ditembak tentara Soekarno
Di simpang Malalak
Kami bergerak di jalanan setapak
Salam, adik: kita dalam perang saudara
..... selengkapnya !

20. Kenangan setengah abad masalalu
Oleh: Dasriel Noeha

Peristiwa itu rupanya membakar semangat Aripin untuk ikut memberontak.
Kebetulan Mansur, demikian nama orang tua yang ikut ke luar bergabung tentara PRRI pulang ke rumah ibunya di Kandang Ampek.
Aripin diberi tahu oleh adiknya Syamsuar bahwa uda Mansur lagi ke kampung malam ini.
Aripin segera minta ijin ibunya mak Newar, untuk lari ijok ke hutan.

Mak Newar tidak mengijinkan.
Dia menangis menahan anak laki-laki sulungnya itu.
Tapi Aripin yang sudah dendam kesumat di dadanya karena ditampar komandan OPR tempo hari, sudah tidak bisa dilarang lagi.
..... selengkapnya !

21. Mak Etek Jun: Hatiku lebih sakit dari itu
Oleh : Muhammad Daviq Said

Beberapa saat kemudian kami dengar beberapa kali bunyi tembakan.
Mamak-mamak itu sama bergumam, mempertanyakan entah siapa pula yang sudah kena tembak.
Tiba-tiba saja, telah muncul tiga orang tentara APRI, menuju ke arah kami sambil menodongkan senjata.
Angkat tangan, perintahnya.

Aku memberi contoh bagaimana mengangkat tangan, karena ada di antara mamak-mamak itu yang tidak faham.
Kau..! Kesini kau! perintahnya padaku.
Akupun mendekat.
Kau pemberontak! hardiknya.

Ujung bedilnya menempel di pelipisku.
Aku berusaha tenang.
Lalu aku jawab, bahwa aku seorang guru.
Bohong kau! Mana surat-surat! hardiknya pula.
?Kami sedang bergotong royong. Saya tidak membawa surat-surat,? jawabku.
?Bohong!? bentaknya lagi.
Kali ini aku ditamparnya, persis di mukaku.
..... selengkapnya !

22. Melantai Batang Anai
Oleh : Chairul Harun

Suatu siang.
Sekitar tahun 1959 di Gunung Tandikat sering hujan.
Hujan turun waktu sore, hingga Batang Anai menjadi keruh, tetapi pagi hari sungai itu kembali jernih.
Siang hari itu seorang laki-laki dengan tangan terikat ke belakang berjalan di tengah jembatan gantung.

Jembatan gantung itu hanya bisa untuk orang berjalan kaki.
Lantainya dari papan, sudah banyak yang rengkah dan bolong.
Tidak ada yang memperbaiki.
Tidak jelas siapa yang harus memperbaiki.

Laki-laki itu tiba-tiba disuruh berhenti, persis di pertengahan jembatan.
la disuruh menghadap ke hilir.
Dan tak lama kemudian terdengar serentetan tembakan.
Laki-laki itu terpelanting ke dalam Batang Anai.
Hanyut tak ada yang mengejar.
..... selengkapnya !

23. Sepenggal Kenangan masa PRRI - II
Oleh : Melati Wangi dari Tepian Sunyi

Begini kisah di kampung halaman
Nama-nama takkan ditampilkan
Untuk menghindari salah pengertian
Dendam kesumat yang berkepanjangan
Walaupun setengah abad kemudian
Anak cucu korban masih memperpertanyakan

Kampungku yang letaknya diujung negeri
Hari-hari biasanya sepi sekali
Tiba-tiba saja menjadi ramai sekali
Banyak orang asing dan para pengungsi
Semuanya ingin menyelamatkan diri
Dari kejaran tentara APRI
..... selengkapnya !

24. Kenangan dari Pengembaraan untuk Anak-cucu
Oleh : Sjamsir Sjarif

Kisah Nyatamu, Oh Melati
Diperlukan anak cucu angkatan nanti
Untuk diulang-ulangi direpetisi
Tanpa dinista dimaki-maki
Dalam kehidupan Sejarah tanpa henti

Penamu, Oh Melati
Goreskan sepenuh hati
Betapa kuatnya ada yang anti
Menyumbat mulut ungkapan hati
Salah Seorang Panyandang Nyawa Tersisa
..... selengkapnya !

25. Nenek dan Cucu
Oleh: dasrielnoeha@yahoo.com

Suatu hari di sebuah huma
Dipinggir Kampung yang terlupa
Didalam gubuk yang sudah tua
Cucu bertanya pada neneknya,

Nek, mana ayahanda tak pulang-pulang
Dah putih mata terus memandang
Diujung jalan nan bersimpang
Tempat dulu ia menghilang

Dipeluk Bunda dari belakang
Ayah telah lari lintang pukang
Katanya akan pergi berperang
Nek, mana bunda hamba tidak kembali
..... selengkapnya !

26. Cita-cita yang jadi kenangan
hayatunnismah@yahoo.com

Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata
Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa
Walaupun kami nyawa yang yang tersisa
Masih dapat menceritakan kisah nyata
Selama empat tahun mengembara
Dibawah dentuman Mortir dan Bazooka

Kisah bermula di Bukittinggi
Cita-cita kami demikian tinggi
Jalur pendidikan kami geluti
Ingin memajukan negeri tercinta ini
Menjadi guru kami mengabdi
Mendidik putra putri negeri ini
..... selengkapnya !

27. Pengalaman saya di Palembang
Oleh : Epy Buchari

Pada waktu sejumlah pimpinan daerah Sumatera Selatan (Lampung dan Bengkulu masih termasuk Sumsel) masih banyak yang dipegang urang awak, seperti antara lain Dr. Isa, Dr. Adnan Kapau (AK) Gani, Kol. Hasan Kasim.
Yang paling terlihat dengan jelas adalah suasana harian yang diwarnai oleh semangat perjuangan.

Tampak latihan tentara sukarela ?Sriwijaya Training Center? (STC) yang setiap hari berlangsung di dekat kediaman saya di daerah Bukit Kecil.
Sampailah pada suatu pagi di awal tahun 1958, sewaktu saya mengayuh sepeda menuju sekolah yang terletak di jalan Pagar Alam.
Suatu pemandangan yang sama sekali tidak biasa, tampak di sepanjang jalan Pagar Alam tersebut pasukan berpakaian tempur, lengkap berdiri berjaga pada jarak-jarak tertentu.
Sikap mereka terlihat sangat profesional, dan ternyata itu adalah pasukan KKO-AL (Korps Komando AL, sekarang: Marinir).
..... selengkapnya !

28. Selembar surat kecil diterima, menyelamatkan Perjalanan Panjang ini
oleh: Sjamsir Sjarif (Mak Ngah)

Muaro Paneh waktu itu memang telah agak panas dalam suasana perang dan itu perlu MakNgah jauhi.
Lingkaran perjalanan Solok bulan September 1958, merupakan salah satu lingkaran kecil dari lingkaran besar dan belok-belok kerak keling antara 13 April 1958 sampai Juli 1961, selama rentang waktu 3 tahun, tiga bulan.

Dari total milieage, mungkin tapak kaki MakNgah yang melatah bumi kampung halaman yang terpanjang di antara para pejalan waktu itu.
Panjang ceritanya, rasanya takkan terpenuhi permintaan Rangkayo Rina untuk menuliskan seluruhnya.
Di Aia Angek kami menjadi tamu kecamatan Gunung Talang.
Sesudah briefing tibalah masanyo MakNgah dan Ridwan untuk memberi ceramah di mesjid Talang.

Dalam suasana malam yang sangat mencengkam, tapi masih bisa dikumpulkan banyak orang.
Ketika sedang memberi ceramah, MakNgah menerima selembar surat kecil, berita singkat, tentara Pusat yang mencium kegiatan itu telah berada kira-kira duo kilo dari mesjid.
Pertemuan dibubarkan, para pengunjung pulang dengan diam-diam dan waspada.
MakNgah dan Ridwan dibawa lari oleh orang Ronda pada malam itu dan disembunyikan di suatu dangau Santo di Batu Kuali jauh di lereng Gunuang Talang.
..... selengkapnya !

29. Pengalaman Salviyah Prawiranegara Yudanarso (Pipi) mengikuti Ayah
ditulis oleh: dryuda42@gmail.com

Kisah Pipi Sjafruddin Prawiranegara di belantara Sumatera

Tetapi, pada suatu ketika, ayah Pipi dan beberapa pemimpin lain memutuskan untuk keluar dari nagari Baruahgunuang secepat mungkin, karena situasi keamanan telah terasa makin hangat.
Semua anak-anak diminta membawa sendiri pakaian seperlunya saja, yang umumnya cukup dengan hanya satu tas punggung.

Perjalanan terus ke utara, memasuki hutan belantara yang sangat lebat dan kadangkadang memang diselingi oleh belukar yang rimbun.
Dalam kegelapan malam di hutan rimba, tentu saja udara terasa sangat dingin, dan kalau tidur terpaksa berbalut apa saja yang ada agar terasa hangat.
Tetapi, ternyata dengan cepat Pipi dan saudara-saudaranya dapat menyesuaikan diri dengan dinginnya malam.

Pada suatu pagi, tiba-tiba ada pemandangan yang menarik mata laki-laki, karena melihat suatu suku di hutan itu yang wanitanya cantik-cantik, putih kulitnya, dan jalannya tegap.
Hebatnya lagi, mereka tak memakai penutup dada (braless).
..... selengkapnya !

30. Kenangan melintasi gunung Sago
Oleh : Sjamsir Sjarif

Bulan Desember 1960, saya melintasi gunung Sago, hampir ke dekat ke puncaknya.
Long March ini dilakukan dengan segala susah payah dari Ampalu Halaban menuju ke lereng Utara Gunung Merapi.
Semua kanagarian di lereng gunung Sago dan gunung Merapi telah dipagar dengan bambu atau kayu kayu.
Lubang lubang perlindungan tentara Pusat dibangun jauh ke puncak puncak bukit.

Pos pos penjagaan atau benteng pertahanan ini dijaga siang dan malam oleh tentara bersama sama dengan OPR yang dibentuk guna memerangi PRRI.
Anggota OPR umumnya berasal dari anggota PKI atau preman preman kota.
Semuanya daerah-daerah bahaya itu harus dihindari dan kebanyakannya perjalanan berat ini harus pula dilakukan di malam hari.
Perjalanan, long march, yang tak terlupakan.

Namun setelah 6 hari merintis hutan, membuat jalan setapak sendiri melintasi Gunung Sago dan kami sampai selamat di lereng utara gunung Merapi, jauh di atas menyeberangi Lurah Jabua yang terkenal di atas Nagari Candung.
Jauh di atas ketinggian di lereng Gunung Merapi kami bermukim sembunyi di Lakuak Pisang selama 6 bulan lebih sampai pada suatu hari di awal Juli 1961
..... selengkapnya !

31. Senyum yang tergantung, ketika Kamang dibombardir
Oleh : Andiko Sutan Mancayo

Hari ini Senin, November 1959, Pasar Kamang pasti sangat ramai.
Orang-orang akan berdatangan dari kampung-kampung di sekitar Kamang dan bahkan para penggalas akan datang dari kampung-kampung kecil di sekitar Agam.
Tapi bukan itu yang sedang di pikirkan Bidin.
Sejak sebuah senyum simpul dilemparkan Rukiah, si Gadih Rantih kembang nagari kepadanya ketika melintas di alek Nagari beberapa waktu lalu, Bidin seolah demam. Air diminum seperti sekam, nasi dimakan serasa duri.

Malam larut dan hening tak menghantarkannya pada dengkur menjelang pagi, tetapi justru mengantarkannya pada penyakit yang sulit obatnya.
Ya?.pitanggang, sebuah penyakit yang membuat orang tak bisa tidur-tidur, malam terlewati dengan menghitung kasau di langit-langit surau tempat ia tidur bersama teman-temannya.
Matanya menelisik tiap ikatan antara kasau dan lae, di sanalah atap disusun, dan disela-sela itu selalu ada senyum simpul itu, senyum simpul Rukiah.
Bidin telah di racun rindu !
..... selengkapnya !

32. Sepenggal Kenangan dari Rantau
Oleh : Sjamsir Sjarif

Oh Penyandang Nyawa Tersisa
Sebingkah syairmu telah kubaca
Kisah nyata dalam kembara
Sebagian kenangan Dunia Fana

Bukittinggi sebelum PRRI
Secabik kenangan telah kusoroti
Lingkungan indah tepatmu mengabdi
Pemboman RRI memisah diri

Kepulanganmu ke Kampung Halaman
Jauh di sana di tempat aman
Di tengah jepitan Bukit Barisan
Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan
Suasana indah tak terlupakan
..... selengkapnya !

33. Surat Jalan: OPR minta tanda Terima kasih !
Oleh : Muhammad Daviq Said

Wali jorong yang menemani Syamsu mendaftar melalui tentara piket itu, yang rupanya seorang OPR.
OPR adalah tentara bantuan yang dibuat oleh APRI, berasal dari penduduk lokal.

Siapa yang hendak berurusan? tanya tentara OPR itu dalam bahasa Indonesia.
Kamanakan wak ko ha, jawab wali jorong.
Di sika harus cara Indonesia! kata tentara OPR itu garang.
Mendengar kata-kata disika satu di antara ibu-ibu yang sedang menunggu itu menahan tawa sambil menutup mulut.

Jangan gelak-gelak. Apa yang digelakkan? bentak tentara OPR ke arah ibu-ibu itu.
Si ibu itu menekur dan terdiam.
Ibu yang satunya masih tersenyum.
Jangan cimees-cimees disika! Kesika mau mintak surat atau mau mencimees?. Kalau cimees-cimees nanti kamu tidak diagis surat.
..... selengkapnya !

34. Tahanan Politik Umum (TPU) pada masa Orde Lama
hayatunnismah@yahoo.com

TPU dizaman Orla
Nama lain untuk penjara
Disanalah dimasukkan mereka
Para pembangkang terhadap penguasa

Selusin manusia menghuni kamar tiga kali tiga
Badan kami berhimpitan didalamnya
Di siang hari panasnya seperti neraka
Malamnya nyamuk yang menghibur kita

Di siang hari diberi kelonggaran
Keluar sel mencari tambahan makan
Kemana saja terserah komandan
Yang seringnya kedalam hutan
..... selengkapnya !

35. Ketika Tekad Sudah Bulat
Oleh : Muhammad Daviq Said

Saat itu memang di musim penghujan di tahun 1958.
Batang air dan tali bandar dialiri air cukup deras.
Dan lanyah di mana-mana.
Yazid Endah Kayo sedang menuju ke rumah saudara perempuannya, Maimunah di bawah kucuran hujan.
Bertudung daun pisang.

Adiknya itu memintanya datang ke rumah karena ada hal musykil yang ingin dibicarakannya.
Sebenarnya Endah Kayo sudah tahu tentang hal musykil yang dimaksudkan adiknya itu.
Maimunah memang sangat memerlukan sumbangan pemikiran, di saat hatinya sedang terombang-ambing dalam kegalauan.

....Tidakkah tuan nasihati dia? Bahwa yang akan dihadangnya adalah maut? Pergi berperang?.. Ya Allah?.., baru sembilan belas tahun umurnya. Akan ikut pula dia berperang,.... Maimunah berkeluh kesah.
....Apa lagi yang mesti kukatakan? Apa yang disebutkannya benar belaka. Memang seperti itu pula yang aku perhatikan. Aku??. Kalaulah umurku masih sedikit lebih muda, mau pula rasanya aku pergi berperang?....
..... selengkapnya !

36. Pelajar-Mahasiswa pulang bersama sama dari Rantau
Syair oleh: H. si Am Dt. Soda

Anak cucu perlu tahu
Peristiwa bersejarah di masa lalu
Kita berkisah tak usah malu
Bukan larangan pekerjaan tabu

Inilah sifat pemuda Mukmin
Mereka menunda hasrat kawin
Untuk mengikuti seruan pemimpin
Serta berjuang karena yakin

Ingatan kolektif orang Minang
Dari rantau banyak yang pulang
Untuk serta ikut berperang
Baik gadis maupun bujang

Banyak yang kembali dari Jawa
400 pelajar dan mahasiswa
Bergabung PRRI secara sukarela
Pena diganti dengan senjata

Kejadiaan disebut Perang Saudara
Karena memakai lambang yang sama
Negara tetap berazas Pancasila
Hanya pusatnya tidak di Jakarta

Jumlah ini dikutip dari buku: Perlawanan seorang Pejuang: Biografi Kol. A. Husein
..... selengkapnya !

37. PRRI di Nagari Tanjuang Sungayang
Syair oleh: H. si Am Dt. Soda

Nagari Tanjung lokasi perlintasan
Para komandan membawa pasukan
Jumlahnya banyak terhitung ratusan
Mereka singgah diberi makan

Dari Lintau menuju Agam
T.P berjalan di malam kelam
Membawa karaben serta meriam
Setiap regu jumlahnya enam

Dari Pasaman hendak ke Sijunjung
Melewati bukit serta gunung
Masuk kampung ke luar kampung
Juga singgah di nagari Tanjung

Walaupun tembakan berdentum dentum
Nasi disiapkan Dapur Umum
Disertai air untuk diminum
Ibarat membantu kerabat kaum

Para pemuda anggota TP
Menyandang bedil jenis L.E
Ketika berkomunikasi memakai kode
Yakin berjuang bukan ber ere ere
..... selengkapnya !

38. P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang
Suardi Mahyuddin, S.H

Di zaman P.R.R.I, nagari Rao-Rao menjadi tempat berkumpul kaum ilmuwan yang masih muda, baik sebagai pendidik di bidang agama maupun ilmu pengetahuan umum.
Berbagai jenis tingkat pendidikan, kecuali sekolah pendidikan tinggi.
Mulai Taman Kanak-Kanak, SD, SMP dan SMA dan sekolah kejuruan ada di kampung ini.

Murid-murid datang dari nagari tetangga.
Mendengar bunyi tembakan mortir dan senapan metriliur bagi murid-murid dan guru-guru saat belajar di zaman P.R.R.I adalah suatu pendengaran yang sudah lumrah.

Yang perlu diperhitungkan sosok meriam itu jangan tiba-tiba sudah berada di dekat kita.
Biasanya dentuman itu kedengaran masih jauh dan jika ada operasi tentara Pusat ke Rao-Rao tidaklah serta merta mereka bisa langsung sampai ke Rao-Rao.
Di nagari Tiga Batur kira-kira 5 km dari Rao-Rao jalan raya sudah di putus rakyat.
Pemutusan jalan ini, dengan cara menggali lubang di tengah jalan dan dengan demikian konvoi dan alat pengangkut meriam itu tidak bisa melewati jalan.

Alat pengangkut meriam itu diletakkan di atas kenderaan semacam mobil dan ditarik oleh truk besar.
..... selengkapnya !

39. PRRI di Nagari Ma. Paneh, Kinari dan Parambahan
Syair oleh: H. si Am Dt. Soda

Penulis bukan seorang Doktor
Tidak pula berprofesi motivator
Hanyalah pensiunan pegawai kantor
Orang awam, bisa teledor

Ibarat cenderamata Oleh-oleh
Kalau berkunjung ke Muaro Paneh
Ada tugu bentuknya aneh
Bukti sejarah perlu ditoleh

Jangan jadikan bahan olok-olok
Kalau data tidak cocok
Lakukan survey, pergilah tengok
Itulah sikap yang lebih elok

Setelah nagari kalah ditaklukkan
Di setiap tempat, kota kecamatan
Dibangun tugu sebagai peringatan
Menandai peristiwa tanggal kejadian

Batalyon Lembang, tentara PRRI
Anggotanya banyak lima Kompi
Menjaga kampung setiap nagari
Termasuk Parambahan serta Kinari
..... selengkapnya !

40. P.R.R.I di nagari Manggopoh
Oleh: Deka Maita Sa dan H. si Am Dt. Soda

Karena terpanggil oleh keyakinan
Tidak peduli laki perempuan
Semua penduduk ingin berkorban
Perasaan senagari dalam persatuan

Tanggal 4 April 2010
Sawiyah bersaksi dengan sungguh
Hasilnya dikutip secara utuh
Boleh diakses, lalu diunduh

Perempuan-perempuan di kampung tambah banyak yang ikut.
Perempuan tersebut ingin pula memegang senjata.
Ketika ada himbauan masuk tentara, berbondong bondong mereka ke Balai Satu, ada yang sambil menggendong anaknya, ada pula yang bertengkar dengan suaminya.
..... selengkapnya !

41. PRRI di nagari Paninggahan
Dikarang oleh : Hera Hastuti HM
Editor: Dr. Mestika Zed, Abraham Ilyas

Kekejaman OPR sangat terlalu
Bisa dibaca catatan di buku
Agar tiada pembaca yang ragu
Penulis kutip paragraf yang perlu

?....Setelah Datuk Aceh ditangkap, Dia dipaksa dan disiksa hingga akhirnya dibunuh secara keji.
Masih segar dalam ingatan saya, Datuk Aceh dipaksa minum Cendol.
Setelah menolak, kemudian kumisnya dicabut secara kasar.
Dengan mulut berlumuran darah dan tangan terikat.
OPR serta pasukan Diponegoro tersebut menembak kepala Datuk Aceh hingga berserakan benaknya.

Ketakutan makin bertambah ketika ada 3 orang yang dibunuh oleh OPR Ombilin.
Mereka ditembak dan lehernya dipotong.
Kepala tanpa badan tersebut digantung di pos OPR dengan mulut berisi rokok.

Saya yang saat itu masih kelas 2 SMP, takut melihatnya, sehingga bayangan kepala tergantung itu terus menghantui tidur saya.
(Dikutip dari buku: Perempuan Berselimut Konflik, Reni Nuryanti, halaman 105).
..... selengkapnya !

42. 17 pemuda dari nagari Sitalang dan Batukambiang berangkat menjadi Sukarelawan PRRI
H. Bustanuddin St. Kayo, H. si Am Dt. Soda, H. Noor Indones St. Sati

Pemuda Sitalang dan Batu Kambing
Setelah berkumpul sambil berunding
Siap berangkat ke nagari Silaping
Dekat pantai di Ujung Gading

Para remaja anak bujang
Dari Batu Kambiang dan Sitalang
Ke rantau Pasaman pergi berperang
Namanya ditulis untuk dikenang

Agus, Anwar, Ahmad, Bustanuddin, Darmawi, Iamawan, Jariman, Mahidin,
Muchtar/Kutar, Nasir, Nasirudin, Paramai, Pudin, Samsi, Usman, Zaini, masih - 1 nama !

Pagi hari sebelum berangkat
Calon pejuang diberi nasehat
Dilanjutkan doa kaum kerabat
Kembali pulang dengan selamat
..... selengkapnya !

43. 200 rumah terbakar di Nagari Andoleh Baruah Bukik
Syair oleh: H. si Am Dt. Soda

Saksi hidup yang masih ada
Sjamsir Sjarif lengkapnya nama
Kini bermukim di benua Amerika
Di Santa Cruz state California

Ketika Sjamsir dari Lintau
Hatinya sedih sangat risau
Sebagai kenangan di masa lampau
Sjamsir menulis dari rantau

Hati dag, dig, dug, turun dari Puncak Pato (Marapalam) menuju Andaleh Baruah Bukik, nagari itu tinggal asap dan abu saja lagi.
Rumah Gadang yang saya tumpangi tidur ketika pergi ke Selatan sebelumnyapun tidak ada lagi bekasnya karena dibom api oleh kapal terbang Pusat.
Ketika itulah menetes air mata memikirkan ke mana orang kampung akan pergi lagi.
Kalau ijok (bersembunyi ke hutan) saja ada tempat pulang, tapi kini rumah rumah untuk pulang itu telah habis jadi abu....

14-8-2009
Santa Cruz, California
Sjamsir Sjarif
..... selengkapnya !

44. Sjafruddin Prawiranegara dalam Dua Zaman: PDRI dan PRRI
Oleh: Mestika Zed
Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PKSBE), Universitas Negeri Padang

SEJARAH memerlukan PERISTIWA.
Peristiwa memerlukan tokoh.
Dan tokoh harus tewas dalam peristiwa.
Bagi yang tak tewas dalam peristiwa, nasibnya akan dipertimbangkan lewat sejarah.
Masalahya sejarah yang mana?
Sejarah formal?
Atau sejarah publik?
Oleh karena politik yang mendefinisikan syarat-syarat menjadi tokoh pahlawan didasarkan pada ideologi, maka ia menjadi urusan politik ingatan (politics of memory) rejim yang berkuasa.
Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989), salah seorang tokoh yang dilupakan, kalau bukannya sengaja dihilangkan dalam bingkai politik ingatan sejarah bangsa.
Ada dua peristiwa historis dalam sejarah bangsa, yang terkait dengan nama tokoh ini dan yang membuat dirinya diingat dan sekaligus dilupakan.
Keduanya berlangsung dalam era berbeda, yang satu PDRI, yang lain PRRI.
..... selengkapnya !

45. PRRI DALAM DEKADE PERGOLAKAN DAERAH TAHUN 1950-an.
Oleh: Mestika Zed
Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PKSBE) Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang.

MENGKAJI ulang sejarah bangsa adalah perbuatan universal.
Bangsa-bangsa, menemukan kembali masa lampau mereka dan menuliskannya lagi sebagai ingatan bersama.
Sejarah, sebagai proses hanya sekali terjadi, einmalig, tetapi sejarah sebagaimana ia dipahami, bukanlah pahatan batu nisan yang beku dan dingin.
Ia terbuka untuk dikaji ulang.
Inilah manuver militer dan intelijen RI terbesar setelah merdeka.
Tentara pusat (APRI) atau tentara Soekarno, mengerahkan seluruh angkatan perang (darat, laut dan udara dan kepolisian).
Kekuatan APRI waktu pertama diterjunkan mencapai lebih 20.000 pasukan.
Mereka umumnya dari Satuan Diponogoro, yang waktu itu kebanyakan sudah disusupi oleh kelompok merah (komunis).
Semantara Kekuatan PRRI pada tahap awalnya disokong oleh CIA.
..... selengkapnya !

46. Puisiku untuk Bilal Hamka di kota Jakarta
dari: M. Natsir yang berada di rimba Perjuangan

Saudaraku Hamka,
Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama...
Kadang-kadang,
Di tengah-tengah si pongah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,
Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam Daftar.
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,
Yang biasa bersenandung itu,
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.
..... selengkapnya !

47. Asbir Dt. Rj. Mangkuto, waliperang Simarasok diselamatkan oleh prajurit Diponegoro

Asbir Datuk Dt. Rajo Mangkuto
Wajahnya terlihat tampil di foto
Aslinya Simarasok, di Agam Tuo
Berbagi pengalaman melawan Soekarno

Saat berkisah badannya sehat
Cerita beliau tak dibuat-buat
Masalah waktu mungkin tak tepat
Semua kejadiaan dia ingat

Ketua Perwanest di zaman bergolak
Seorang pangulu, niniak mamak
Banyak saudara serta dunsanak
Pantang dibujuk atau digertak

Karena cinta kepada nagari
Ketika dipilih menjadi Wali
Asbir tak mengharap honor dan gaji
Apalagi sogok ataupun komisi

Wali ditugaskan menyediakan logistik
Dilengkapi keterangan kertas secarik
Dengan tulisan mesin ketik
Identitas dibawa hilir mudik

Urusan logistik tentara yang berperang
Sangat menentukan kalah dan menang
Seandainya ransum sangat kurang
Prajurit tak mampu berlari kencang

Di tengah pertikaian pasukan bersenjata
Asbir boleh dengan leluasa
Memiliki dua macam jenis senjata
Satu Jenggel dan satu pistol Bareta
..... selengkapnya !

www.nagari.or.id

7 April 2013